
Ayu berani bersumpah Amel adalah cewek dengan gaya paling unik yang pernah ia temui. Sejak pertemuan pertama mereka di pertandingan hari ini Ayu tidak bisa melepas pandangannya dari Amel. Dengan rokok ditangan dan gestur urakan, Amel ternyata jauh lebih lucu dari yang Ayu kira, apalagi saat ia melemparkan candaan pada Heru dan Dano. Berbeda dengan Amel, Manda dan Laras justru terlihat lebih kalem. Meskipun Laras jauh dua kali lebih kalem dibanding Manda. Ketiga cewek itu seakan saling melengkapi satu sama lain dengan gayanya masing-masing.
“Yu, kalo Heru miss lagi pukul aja kepalanya!” teriak Amel dari luar lapangan, ia tertawa ngakak ketika Heru mencibir genit.
Pertandingan berlangsung, kejar mengejar angka terjadi, tidak ada yang mau mengalah, bahkan Ayu sama sekali tidak tersenyum selama pertandingan. Fokusnya terarah penuh untuk menangkis setiap pukulan lawan. Di sisi lain Manda pun begitu, kedua cewek itu terlihat paling serius meskipun pasangan mereka masing-masing sesekali berakrobat ria saat berhasil mencetak skor.
“Yak, istirahat lima belas menit!” teriak Udin meniup peluit.
“Yu lu jago banget. Latihannya dua puluh empat jam ya?” puji Manda terlihat mulai letih, Ayu tersenyum malu-malu.
“Iya dong jago! hasil karya gue nih. Kalo diasah lebih jauh kemampuan Ayu bisa ngalahin Susi Susanti” jawab Heru bangga.
“Lagak lu Her! Berasa bapaknya Ayu” ejek Dano, ia membuka kota pizza dan cola.
“Atlit nggak boleh makan, soalnya masih tanding, entar nggak bisa nyetak angka” cerocos Udin langsung mencomot satu persatu isi kotak.
Heru cuek mengambil satu potong lalu membagi dua dan menyodorkan ke Ayu. “Makan setengah nggak akan buat kita nggak bisa lari”
“Saya belum cuci tangan-"
Heru langsung menyodorkan pizza ke mulut Ayu. “Gue juga Yu, paling kita berdua diare”
“Dasar! Mas Heru aja sendiri. Mas Heru kalo diare ada yang ngerawat, kalo saya yang diare nanti kamar Mas Heru berantakan nggak ada yang bersihin”
“Kalo lu diare entar gue bawa ke rumah sakit” ujar Heru santai.
Pertandingan dimulai kembali, istirahat lima belas menit cukup untuk membangkitkan stamina kedua tim itu. Di babak ini tim Brandon-Manda berhasil unggul, membuat persaingan di babak final semakin terasa sengit. Beberapa kali Manda atau Brandon mensmash bola tapi masih bisa ditangkis Ayu Heru. Dibandingkan tim Brandon, tim Heru terlihat jelas lebih unggul sedikit dalam hal kerjasama membagi tempat. Sampai kemenit-menit terakhir Brandon Manda tertinggal sepuluh poin, membuat Heru dan Ayu resmi menjadi pemenangan di pertandingan pertama.
“Weeeee are the champion my friendssssss” nyanyi Heru melepas raketnya dengan gestur sombong bukan main. “And we'll keep on fighting 'til the end”
__ADS_1
“We are the champion...we are the champion” sambut Udin dan Dano serempak.
“Tenang Nda, masih ada satu pertandingan buat nentuin siapa yang paling loser diantara tim yang kalah” kata Udin langsung kena sambit raket.
“Main kamu bagus” kata Manda meyalami Ayu dan menolak salaman dengan Heru, gestur cowok itu terlihat dua kali lebih menyebalkan dimata Manda.
“Kak Manda juga. Saya tadi hampir nyerah”
“Untung kamu nggak nyerah, kalo enggak bisa nangis itu orang” cibir Manda pada Heru.
“Dengan ini saya nyatakan pertandingan dimenangkan oleh pasangan Heru Ayu. Ayo tepuk tangan yang meriah. Plok plok plok.” Bak seorang pejabat, Udin maju memasang kalung origami berbentuk burung ke leher Heru dan Ayu.
“Nah sekarang foto bareng, gaya dulu untuk pemenang” kata Laras mengeluarkan ponsel mengambil potret pemenang beberapa kali.
“Makan yuk, gue traktir, mood gue lagi bagus” ajak Heru disambut sorakan anak-anak. Setelah beres-beres mereka keluar menuju mobil masing-masing.
“Iya dong. Topik makan-makan hari ini kan merayakan kemenangan lu”
“Kenapa saya? kan saya mainnya bareng Mas Heru” tanya Ayu heran. Heru menunduk mendekatkan wajahnya pada Ayu. Tubuh Ayu mundur selangkah, Heru tersenyum geli, sebagai ganti ia menyentil pelan kening Ayu lalu menarik cewek itu melangkah mengikutinya.
...----------------...
Samuel membalik daging di pembakaran dan menaruh di atas piring lalu menggeser ke tengah meja, tidak lebih dari semenit isi piring itu habis tanpa sisa. Samuel mendengus tapi tetap lanjut membakar daging. Sepulang pertandingan tadi anak-anak memutuskan untuk menghabiskan waktu sekaligus makan malam di sebuah restoran. Suasana yang awalnya berisik perlahan menjadi lebih tenang karena masing-masing sibuk menguyah makanan.
“Ra, saya mau refil cola, kamu mau juga?” tawar Dano. Laras mengangguk menyodorkan gelasnya dan kemudian berakhir Dano mengurus refil cola semua gelas. “Emang gue pramusaji apa?” dengus Dano tapi tetap mengambil gelas teman-temannya.
“Itu si Dano kalo kita minta tolong nggak ikhlas banget, tapi kalo Laras yang minta tolong mendadak rajin. Kayak Laras emaknya aja"
“Gue bisa denger omongan lu Din” pelotot Dano bercanda. Udin pura-pura mingkem lalu lanjut makan.
__ADS_1
“Ayu sama Amel kayaknya harus diadu lomba makan, dari tadi paling tenang tapi nguyah terus" goda Udin iseng. Semua langsung berpaling pada Amel dan Ayu. Kedua cewek itu duduk di pojokan dan terlihat kompak saling berbagi tugas membakar daging. Mereka makan dalam diam namun sudah ada enam tumpukan piring bekas daging khusus untuk keduanya.
“Gue udah memutuskan mulai hari ini Ayu jadi teman makan gue. Kalo lu ada jadwal kosong kabarin Yu, biar gue jemput dan kita kulineran” kata Amel. Ayu meringis mengerakan kepalanya ke arah Heru sebagai tanda cowok itu yang memiliki kuasa atas jadwal Ayu.
“Cuekin aja Yu. Lu digaji pake duit bapaknya, bukan duit dia”
“Jangan ngajar yang aneh-aneh Mel, Ayu masih kecil, nanti kelakuannya ikutan buruk kayak lu" tegur Heru.
Amel mencibir. “Halah payah!” Selanjutnya Amel tetap lanjut makan dengan Ayu tanpa ada niatan untuk nimbrung dengan obrolan teman-temannya. Begitu kebiasaan Amel. Saat makan enak ia mendadak pendiam, tapi kalau lapar semua orang ia ajak berantem. Anehnya meskipun makan banyak tubuh Amel tetap kurus, membuatnya sering diejek cacingan oleh Manda dan Laras yang sirik dengan napsu makan Amel.
“Sobat cacingan” gumam Heru menopang dagu memperhatikan kedua cewek itu bergantian. Ia lalu memotong dagingnya dan menaruh di atas piring Ayu.
“Makasih” kata Ayu tanpa berpaling. Mereka menghabiskan waktu lebih dari dua jam sebelum akhirnya pulang.
“Sampai ketemu nanti dik Ayu” lambai Dano. Ayu nyengir balas melambaikan tangan, kepalanya bersandar di jendela kaca mobil. Kenyang.
“Makasih Mas Heru” kata Ayu saat mobil Heru melaju pergi. “Saya senang banget hari ini. Menang pertandingan, makan enak, ngobrol sama temen-temen Mas Heru. Makasih”
“Lu nggak pernah nongkrong Yu?”
Ayu menggeleng lalu memperhatikan lalu lintas di luar jendela. Nongkrong? Boro-boro, bisa beristirahat sejam dua jam setelah bekerja seharian saja rasanya seperti surga bagi Ayu. Seumur hidup Ayu selalu diisi dengan bekerja, sampai ia baru merasakan bahwa bercanda dengan teman di sebuah tempat makan adalah kemewahaan yang sulit didapatkan.
“Kapan-kapan gue ajak lu nongkrong lagi.”
Ayu mengeleng. “Enggak usah mas, makasih, kalo saya keseringan ikut Mas Heru nongkrong nanti kamar Mas Heru berubah jadi kapal pecah karena enggak ada yang beresin.”
Heru tertawa geli. “Tapi thanks ya Yu udah menang hari ini. Pertandingan selanjutnya terserah menang atau enggak yang penting lu senang” kata Heru tulus. Ia tidak mengerti mengapa kalimat itu keluar dari bibirnya, tapi Heru bisa merasakan hatinya menghangat saat Ayu memalingkan wajah menatapnya dengan eskpresi terkejut.
“Tadi itu basa-basinya hampir buat saya terharu mas. Tapi tenang aja mas pasti kita menang” kata Ayu salah sangka dan Heru hanya tersenyum lebar.
__ADS_1