
London, 1816
George sedang mabuk, namun menurut Grace, itu bukanlah sesuatu yang mengherankan. Pemuda pesolek yang tidak punya pikiran itu tiba-tiba saja menghempaskan tubuhnya di samping Grace yang sedang duduk di atas sofa di pinggir ruang dansa, dan berkata:
"Miss Kenwood, aku mengaggumimu!"
"Ah, itu baik sekali, George."
"Aku sungguh-sungguh, aku memujamu!"
"Pujalah Tuhan dan gunakan kepalamu, sayang," sahut Grace sambil mengamati sekeliling ruangan.
George tertawa seolah Grace mengucapkan sesuatu yang memesona.
"Cara bicaramu benar-benar seperti putri seorang pastor! Aku berani menjamin bahkan kau sanggup menyelamatkan jiwaku, Miss Kenwood. Tapi aku sungguh-sungguh," ujar pemuda itu sambil menghabiskan isi gelasnya.
"Kau adalah wanita paling ideal menurutku dalam segala hal." Tanpa rasa bersalah ia mengamati gaun Grace dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Kekuranganmu dalam berpakaian terbayar oleh kepribadianmu!"
Grace berpaling pada George, terlihat kaget.
"Um, terima kasih, My Lord."
Sempurna. Persis seperti yang perlu Grace dengar. Konfirmasi dari putra sang tuan rumah bahwa ia terlihat jauh berbeda daripada yang lain, seperti yang memang dirasakannya ketika berada di kediaman mewah Marquess of Lievedon.
Miss Grace Kenwood, di usianya yang menginjak awal dua puluh lima tahun, tidak terbiasa dengan pesta dansa kaum bangsawan seperti ini.
Udara di kota yang penuh sesak ini membuat kulitnya terasa kotor jika dibandingkan dengan saat ia menikmati hembusan angin segar dan matahari di pedesaan.
Dan orang-orangnya... well, bukannya ia bisa menghakimi mereka, tapi cukup untuk memberitahu bahwa orang-orang di sini berada dalam masa-masa kemorosotan moral.
"Omong-omong, apa yang kau lakukan dengan bersembunyi di balik bayangan begini seperti wallflower?" tanya teman Grace yang tidak punya sopan santun itu, sambil membenturkan bahunya dengan bahu Grace, seperti yang biasanya di lakukan pemuda nakal untuk menggoda guru privatnya di rumah.
Berusia dua puluh satu tahun, George, Lord Baron Brentford, atau Bratford, nama panggilan yang lebih disukai Grace untuk pemuda itu, empat tahun lebih muda dibanding Grace.
__ADS_1
Namun ia senang menggoda Grace dengan rayuan-rayuan konyol karena tau rayuannya itu tidak akan ada pengaruhnya.
George adalah ahli waris gelar dan kekayaan Marquess Lievedon, sementara Grace hanyalah putri seorang pastor santai, yang selalu dipanggil untuk mencegah pemuda urakan itu agar tidak menghancurkan dirinya sendiri.
Karena beberapa kali kejadian yang aneh, Pastor Richard Kenwood merupakan satu-satunya orang yang dianggap memiliki wewenang moral di dunia ini yang sepertinya mempunyai pengaruh terhadap pesolek nakal itu.
Pada dasarnya putra Lord Lievedon itu masih nakal dan urakan, namun setidaknya pemuda itu masih mau mendengarkan nasihat bijak Papa.
Semua orang tau kalau ayah George sendiri sudah tidak dapat lagi bicara dengan pemuda itu; tapi tidak dapat disalahkan juga, karena marquess tua itu hanya bisa memerintah dan bicara dengan nada yang dingin.
Pada akhirnya, pengaruh besar Papa pada George itu membuat sang marquess tergerak hatinya untuk memberi Papa sebuah pekerjaan. Tentu saja dengan kesepakatan, bahwa Pastor Kenwood akan selalu ada jika dibutuhkan oleh keluarga sang marquess.
Intinya, jika sang marquess memanggil keluarga Kenwood untuk datang ke kota, maka mereka harus memenuhinya.
George menenggak habis brendinya dan memberi tanda pada pelayan terdekat untuk membawakannya segelas minuman lagi.
"Bukankah kau sudah cukup minum?" gumam Grace Lembut.
__ADS_1