
Dengan sorot mata bingung dan tidak biasa, Callie memperlambat laju keretanya, kemudian mengarahkan kudanya agar berhenti ketika mereka sudah hampir sampai di dekat jalan masuk ke rumah Grace.
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Bahwa aku mungkin memiliki semacam... tanggung jawab."
"Aku tau."
"Apa menurutmu aku telah merusak kesempatan bsgi desa ini?"
"Aku benar-benar tidak tau."
"Tapi aku tidak bermaksud buruk!"
"Tentu saja kau tidak bermaksud demikian. Sayang, bersikap ramah adalah hal yang baik, tapi yang kumaksud adalah kita tidak boleh seenaknya menghampiri orang. Dia baru pulang dari sebuah perang. Jika dia pindah ke desa kita, kita harus menghormati privasinya, bukannya malah menyerbunya seperti itu. Biarkan dia yang datang kepada kita, saat dan jika dia sudah siap. Kita harus sabar menghadapinya."
Callie meringis. Mereka berudua tau kalau itu adalah salah satu kelemahannya.
"Aku sungguh menyesal. Aku tidak bermaksud mengganggunya." Ia tertunduk memberengut, namun akhirnya ia menyadari kesalahan yang diperbuatnya.
"Kau sungguh-sungguh berpikir kalau aku telah mempermalukan diriku sendiri?"
Geace tidak berkata apa-apa selama beberapa saat, membiarkan gadis itu menyimpulkannya sendiri. Kemudian ia mengangkat bahu.
"Mungkin kalian bisa berjodoh, mungkin juga tidak. Hanya waktu yang bisa menjawabnya."
Gadis cantik itu terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Para pria biasanya tidak menganggap diriku sebagai pengganggu! Aku yakin kalau kunjungan singkatku tadi tidak akan membuat pria itu kabur. Aku yakin begitu."
"Kita lihat saja nanti. Nasi sudah menjadi bubur. Sampai saat itu tiba, kita tidak akan tau apa keputusannya sampai dia telah memutuskannya."
Sambil berharap penolakan kecil Lord Trevor ini tidak akan membuat Callie semakin bersemangat untuk mengejar pria itu di masa mendatang. Grace menoleh ke arah jalan masuk.
"Aku akan berjalan saja dari sini. Bisakah kau sekalian mengantarkan Bitsy pulang? Ibunya pasti sudah bingung mencarinya sekarang."
Callie mengangguk tanpa berkata apa-apa, masih memikirkan kesalahannya dengan raut bingung.
Grace mengucapkan selamat tinggal pada Bitsy dengan memeluk bahu anak itu.
"Kau ikut dengan Miss Callie, ya, Bebek Kecil. Sampai ketemu besok!"
Bity mengangguk masih memutar bunga aster yang tadi diberikan Lord Trevor kepadanya.
"Sedikit saja benturan, makhluk mungil ini bisa terpental."
"Aku tau." Calpurnia menoleh untuk memastikan Bitsy aman di belakangnya, kemudian dengan ragu-ragu, menatap Grace dengan enggan.
"Aku tidak sungguh-sungguh saat mengatakan bahwa kau adalah perawan tua. Kau tau itu, kan?"
Grace memaksakan diri untuk mengangguk ketika mengangkat tangannya ke dahi untuk melindungi matanya dari cahaya matahari.
"Tentu saja."
__ADS_1
Seorang putri pastor tidak mempunyai pilihan lain selain memaafkan.
"Bagus." Callie balas mengangguk, menghindari tatapan Grace, kemudian mendecak untuk memerintahkan kudanya agar berjalan.
"Well, sampai jumpa lagi kalau begitu."
Grace tidak beranjak dari tempatnya berdiri di persimpangan antara jalanan desa dan jalan masuk ke gereja sekaligus rumahnya. Ia melihat mereka melaju pergi, dan setelah beberapa saat, kembali menoleh ke arah Grange.
Apakah dia benar-benar melupakan pertemuannya denganku?
Meskipun sisi dirinya yang pemalu, datar, dan membosankan tergerak untuk memercayainya, namun hatinya membantah kalau Lord Trevor tidak mungkin berkata demikian.
*Jangan lupa, kita sedang berhadapan dengan seorang mata-mata, Grace mengingatkan dirinya sendiri.
Apa yang dikatakan pria itu tidaklah selalu mencerminkan apa yang ada di pikirannya*.
Dan itu menjadi sebuah masalah bagi seorang wanita yang menjunjung tinggi kejujuran.
Di sisi lain, Lord Tevor agak blak-blakan dengannya setelah ia menusuk lengan pria itu dengan jepit rambutnya.
Grace tersenyum mengingat kenangan itu.
Ia akhirnya dapat melupakan kepedihan karena perkataan pedas Callie tadi kepadanya, ia merasa yakin sekali kalau Lord Trevor tidak bersikap seperti seorang pria yang telah melupakannya.
Bahkan, Grace berani berpendapat kalau pria itu terlihat sama senangnya dengan Grace ketika tadi mereka bertemu. Tapi mungkin itu hanyalah khayalannya saja, harapannya...
__ADS_1
Grace menghela napas, kemudian berbalik dan mulai beranjak memasuki jalan masuk, bertanya-tanya apakah pria itu benar-benar akan menjadi tetangganya.
Akan menjadi penantian yang menyiksa menunggu pria itu membuat keputusannya, tapi Grace bersumpah apa pun yang terjadi nanti, ia akan tetap memakai topengnya yang santun seperti biasa, tidak peduli dengan fakta bahwa di dalam dirinya bergejolak kegirangan atau kedatangan pria itu, seperti yang ditunjukkan Callie dengan terang-terangan.