My Notorious Gentleman

My Notorious Gentleman
#15


__ADS_3

"Grace, sayangku, dari mana saja kau? Aku tidak melihatmu dari tadi," ujar ayah Grace penuh kasih sayang.


Wajah Grace merona karena rasa bersalah yang dirasakannya, namun untungnya, ayahnya tidak menanyakan keanehan sikapnya itu.


"Aku baru saja mengobrol dengan orang yang sangat menyenangkan," lanjut sang pastor dengan sikap ramah seperti biasanya, sambil menunjuk ke arah mantan mata-mata itu dengan menggunakan gelas brendi


"Dia tertarik dengan peternakan tua milik Kolonel Avery."


"Oh?" Grace hampir tersedak.


Hanya perku berjalan kaki sebentar melewati dua padang rumput dan hutan kecil dari rumah Grace yang indah menuju ke rumah pertanian terbengkalai yang dikenal dengan nama Grange itu. Dari semua tetangga yang pernah bermimpi untuk pindah ke sana!


Grace berusaha agar tidak tersedak dan sedikit tersenyum untuk menunjukkan sopan santunnya.


"Oh, tapi, Papa, bangunan itu hanya tinggal puing-puingnya saja. Hampir tidak bisa ditempati lagi," Grace menyakinkan Lord Trevor dengan senyuman gugup.


"Omong kosong!" bantah ayahnya.


"Bangunan itu hanya butuh sedikit perbaikan, tapi teman mudaku ini mengatakan kalau dia punya sedikit bakat sebagai arsitek... selain bakat-bakatnya yang lain, begitulah yang kudengar."


"Tentu saja," bisik Grace dengan rasa bersalah, sementara ayahnya mengangkat gelas ke agen Ordo itu, sebagai simbol bahwa sang pastor tau apa yang telah dilakukan pria itu untuk negara. Grace bahkan sudah mengecap bakat lain yang juga dimiliki pria itu.

__ADS_1


Kemudian ayahnya mengenalkan mereka berdua dengan cara lebih formal.


"Grace, perkenalkan aku untuk mengenalkan Lord Trevor Montgomery kepadamu," ujar ayahnya seraya berbalik kepada pahlawan nasional itu.


"Lord Trevor, ini adalah harta karunku yang paling berharga di dunia ini, dan tangan kananku sejak ibunya meninggal. Putriku, Grace."


Lord Trevor Montgomery membungkuk kepada Grace tanpa menunjukkan sedikit pun tanda-tanda akan perbuatan mereka sebelumnya. Lagi pula, pria itu sudah dilatih untuk berbohong. Pikir Grace.


"Miss Kenwood. Suatu kehormatan untukku."


Terbongkarlah sudah rahasianya sekarang.


Dengan jantung yang berpacu, Grace membungkuk dan memberi hormat, berdoa semoga ayahnya tidak menanyakan kenapa pipinya sekarang merona merah. Pasti kebanyakan pipi para wanita juga akan berubah warna jika bertemu dengan pria semacam ini.


"Tentu saja, sayang. Apa ada yang tidak beres?"


Sementara itu, Grace melihat Lord Trevor melirik dari balik punggung ayahnya, mengirimkan sorot tajam kepadanya, yang seolah bertanya, "Kau pikir ini sudah berakhir?"


Grace meraih siku ayahnya dan menarik sang pastor agak sedikit menjauh.


"George ada di ruang permainan kartu sedang bermain whist," gumamnya.

__ADS_1


Alis ayahnya langsung melengkung ke atas.


"Oh, astaga. Aku akan segera ke sana."


"Apa sebaiknya aku ikut denganmu?"


"Tidak, menurutku akan lebih efektif jika aku datang sendiri dan bicara antara pria dengan pria dengannya. Kenapa kau tidak tetap di sini saja dan mengobrol dengan Montgomery? Sepertinya dia agak tertarik denganmu."


"Apa, aku? Jangan konyol! Aku tidak tau kenapa Papa mengatakan hal semacam itu!" tukas Grace, terdengar sedikit tegang daripada yang pantas diterima atas komentar sambil lalu ayahnya.


Ayahnya menatap Grace dengan curiga, kemudian mengangkat bahu.


"Mungkin karena hanya kau satu-satunya wanita di sini, yang tidak melemparkan diri padanya." Kemudian ayahnya menyikutnya dengan gaya penuh rahasia.


"Ceritakan lebih banyak kepadanya tentang Grange. Kita harus dapat membuatnya memiliki tempat itu jika kita bisa. Dia menggeluti arsitektur sebagai hobi dan dia bilang kalau dia sedang mencari proyek baru. Dia baru saja selesai membangun rumah dan menjualnya, dan kita semua tau kalau Grange butuh penyewa baru. Bahkan mungkin dia akan membeli tempat tua itu jika dia cukup menyukainya."


"Papa, aku yakin sekali dia tidak akan menikmati kehidupan desa kita yang membosankan. Dia pria yang senang beraksi, petualangan... pokoknya begitu, dari cerita yang kudengar. Seorang pahlawan. Dia pasti akan mati kebosanan hidup bersama penduduk desa seperti kita."


"Tidak penting apakah dia bosan atau tidak," ujar ayahnya pelan.


"Kita butuh sumbangan pria itu untuk membantu membangun desa kita. Jika dia bisa membuat lahan pertanian itu beroperasi kembali, kita bisa memberi makanan yang lebih baik untuk orang-orang yang kau bawa ke desa."

__ADS_1


Grace merengut ketika ayahnya menyindir bahwa pekerjaan amal yang dilakukannya itu tidaklah murah.


__ADS_2