
"Bukankah kau sudah cukup minum?" gumam Grace Lembut.
"Satu gelas lagi saja!" jawab pemuda itu sambil menampilkan seringainya lalu buru-buru mengganti topik pembicaraan.
"Bagaimana kabar orang di pedesaan?"
Tempat tinggal Grace di pedasaan berjarak tidak terlalu jauh dari kediaman nenek moyang sang marquess di Leciestershire.
Selalu terjadi kehebohan di Thistleton setiap kali anggota keluarga sang marques datang. Dan yang pasti, kedatangan George ke desa itu selalu disambut gembira oleh para penduduk. Khususnya kedatangan terakhir pemuda itu kemarin.
"Apa mereka masih membicarakan kenakalanku dengan wanita di kedai minuman itu?" Meskipun George berusaha terlihat malu, namun sorot matanya tidak dapat berbohong, karena di sana terlihat kalau ia masih menganggap hal itu lucu.
Grace tidak tersenyum.
"Marianne tidak hamil, jika itu yang hendak kau tanyakan," tukas Grace dingin.
"Setidaknya sepengetahuanku begitu."
"Ah! Lega mendengarnya."
Grace menggertakkan gigi, terkejut dengan sikap blak-blakan pemuda itu. Anak manja ini sama sekalk tidak tau seberapa keras hidup yang harus dijalani Marianne saat tinggal di London dulu, dan dengan bantuan keluarga Kenwood, gadis itu memulai hidup baru yang tenang di desa mereka.
George bahkan tidak menyadari bahwa ia telah menimbulkan kerusakan terhadap segala kemajuan yang telah Marianne capai di sana, dengan menyodorkan uang kepadanya seolah gadis itu tidak ada nilainya.
Dan, um... bagimana kabarnya dengan Miss Windlesham?" tanya George ragu setelah beberapa saat berlalu.
__ADS_1
"Apakah dia masih membenciku? Seperti yang kau lihat sekarang, dia menolak datang ke pesta ini."
"Apa kau bisa menyalahkannya karena bersikap begitu?" tantang Grace dengan mengejutkan.
Di desa mereka, Horable Miss Calpurnia Windlesham merupakan gadis paling cantik dan sejak awal selalu menganggap bahwa George adalah suami masa depannya.
George memberengut.
"Callie sama sekali tidak memilikiku, kau tahu itu! Begitu pula dengan ibunya," tambahnya kesal.
"Katakan pada mereka aku berkata seperti itu, Grace! Khususnya pada Lady Windlesham. Wanita sialan itu bahkan sudah memiliki gorden untuk Lievedon Hall saat putrinya nanti menjadi nyonya rumah di sana.
Grace menggeleng dan kembali bersandar ke dinding.
"Tapi, Grace, kau tidak bisa mengabaikanku begitu saja! Kau tau aku tidak berdaya menghadapinya sendiri."
"Kenapa kau tidak bicara dengan Papa?"
"Membicarakan hubungan dengan seorang wanita nakal?" bisik George.
"Tidak mungkin! Apa yamg akan dipikirkan Pastor Kenwood nanti terhadap diriku?"
"Mantan wanita nakal," Grace mengoreksi.
"Hanya kau satu-satunya harapanku, Grace. Kau adalah malaikat pembimbingku..."
__ADS_1
"Kau mabuk, ya?" tanya Grace, untuk sekedar menguji kejujuran pemuda itu.
George mengabaikan pertanyaan itu.
"Kau harus membantuku dengan Calpurnia. Kau selalu bisa membereslan masalah orang lain, Grace! Ayolah, kau tau itu benar. Itulah peranmu di desa dan dalam hidup, dan semua orang tau itu! Pastor sendiri pasti akan kebingungan mencari lembaran khotbahnya jika bukan karenamu. Yah, bibit-bibit itu juga pasti akan lupa untuk tumbuh kalau kau tidak mengingatkan mereka.
"Sebenarnya, tidak ada yang tumbuh tahun ini, kalau kau tidak menyadarinya," tukas Grace masam.
"Kau seharusnya melihat temanku yang malang."
Ledakan gunung berapi besar yang terjadi di sisi lain bumi memangaruhi tanah selama musim panas tahun ini, dan cuaca yamg sangat dingin juga mematikan tanaman-tanaman tersebut. Embun dan angin sepanjang musim, juga hujan batu es yang aneh, dan langit yang berwarna kuning.
Tidak ada musim semi yang indah, sebaliknya yang ada malah cuaca yang berawan, basah, dingin dan kelam.
Beberapa orang bahkan mulai bertanya-tanya apakah hari kiamat sudah dekat.
Perubahan cuaca yang aneh itu berdampak lebih kejam setelah perang usai. Bukannya menikmati kedamaian, sekarang mereka harus menghadapi wabah kelaparan, setidaknya di kalangan rakyat jelata.
Dilaporkan terjadi huru-hara karena kurangnya pangan di seluruh penjuru Inggris, bahkan di seluruh Eropa.
Kesengsaraan semacam itu terlihat begitu jauh saat duduk di ruang dansa Lord Lievedon seperti sekarang.
Namun sebagai putri seorang pastor yang juga bertugas menjadi pelindung kaum miskin untuk masyarakat di desanya, maka penderitaan yang dirasakan oleh penduduk desa itu merupakan masalah pribadi badi Grace dan Ayahnya.
Grace bahkan enggan memikirkan berapa harga jagung saat musim dingin nanti. Tidak dengan banyaknya penduduk yang harus diberi makan oleh gereja.
__ADS_1