My Notorious Gentleman

My Notorious Gentleman
#5


__ADS_3

Namun tidak mampu untuk mengendalikan dirinya sendiri, Grace akhirnya malah kembali mencuri pandang pada pria itu sekali lagi, dan pada saat itulah bakat yang dimilikinya untuk dapat membaca orang yang sedang dalam duka menarik perhatiannya pada garis amarah di dekat mata pria itu.


Besarnya rasa paht di balik senyuman terlatih pria itu. Dan Grace memahami bahwa pria itu sama sekali tidak menaruh perhatian kepada para wanita yang mengelilinginya.


Tidak sepenuhnya.


Sebenarnya, pria itu malah berusaha untuk terus mengambil jarak dari mereka yang berusaha keras untuk menyentuhnya; Grace mengikuti arah pandang pria itu dan menyadari kalau pria itu tidak henti-hentinya menatap ke arah pintu. Seolah pria itu tengah menunggu kedatangan seseorang.


Hmm. Memperhatikan pria itu dengan lebih saksama, Grace mengerutkan kedua alisnya dan mulai menduga bahwa si 'pahlawan yang terkenal' itu sebenarnya tidak ingin berada di tempat ini sama halnya seperti Grace.


Grace mungkin saja salah, namun senyuman pria itu terlalu tipis untuk dapat menutupi perasaan yang bergejolak di dalam hatinya, yang kebanyakan adalah perasaan buruk.


Pria itu bukanlah pria yang bahagia, renung Grace sambil menatap pria itu berdiri di sana, terlihat seperti seseorang yang telah kehilangan jiwanya, berdiri sendirian di tengah-tengah kerumunan yang ada.


George menyela lamunan Grace mengenai pria asing itu ketika hendak berdiri.


"Well, Polaris-ku sayang, selalu menyenangkan bisa mengobrol denganmu, tapi jika kau mengizinkanku, aku ingin menyapa tamu-tamu yang lainnya. Dan... Sepertinya aku akan melihat permainan kartu..."

__ADS_1


"Oh, George, itu bukan ide yang bagus untukmu," protes Grace lembut sambil meraih tangan pemuda itu, seolah ia dapat menghentikannya.


"Bukan untuk bermain! Aku hanya akan menonton saja," George menyakinkannya sabil tersenyum.


Grace menatap tajam. "Janji?


"Jika kau mau berjanji untuk berdansa denganku," balas George, menarik tangannya untuk kemudian ia lipat di depan dada.


Grace mengerutkan dahi. Dasar bocah keras kepala


"Oh, ayolah, satu dansa saja. Kau boleh menginjak kakiku jika mau."


Grace bahkan tidak kenal orang-orang di sini kecuali George, Papanya, dan Lord Lievedon sendiri. Tidak sulit membayangkan para bangsawan yang glamour ini menatapnya sekilas dengan gaya sombong, sambil bertanya kepada sesamanya: "Siapa itu dan apa yang dilakukannya di sini?"


Tapi jika memang itu yang dibutuhkan agar George kembali berada di jalan yang benar, maka itulah yang akan Grace lakukan. Ia rela mengorbankan harga dirinya di depan orang-orang ini jika perlu, bahkan di depan pria itu. Pria pembunuh terhormat yang tengah terlihat bingung di seberang ruangan itu.


Bukannya pria seperti itu akan memperhatikan Grace?

__ADS_1


Saat ini, jika dilihat dari cara pria itu mengawasi pintu membuat Grace berpikir kalau pria itu tengah menantikan kedatangan seorang lady.


"Luar biasa!" seru teman pesolek Grace. "Aku akan segera kembali untuk berdansa denganmu."


Grace mengangguk. Tetaplah kuat, George, pikir Grace, ketika temannya itu membungkuk padanya, kemudian berjalan menjauh. Meskipun demikian, ia tidak dapat menahan diri untuk tidak berharap seandainya saja Callie ada di sini.


Gadis muda penuh semangat itu, dengan sikapnya yang selalu menurut untuk diperhatikan, mungkin saja dapat membantu George agar teralihkan dari hobi berjudinya. Dengan begitu Grace dapat melakoni perannya yang nyaman dan aman, sebagai seorang pendamping yang terhormat, yang berdiri di belakang mereka yang tengah bercumbu dan merayu, dan menjaga agar anak-anak muda itu tetap berada di jalurnya.


Grace berpikir sebaiknya ia memeriksa dulu penampilannya dan melakukan apa yang bisa dilakukannya untuk memperbaikinya sebelum George kembali.


Bangkit dari tempat duduk, Grace beranjak menjauh dari ruang dansa itu. Tidak seorang pun yang menyadari kalau ia meninggalkan tempat itu.


Berjalan menyusuri koridor berlantai marmer, Grace melewati ruang musik yang berisik, penuh dengan tawa dan lagu. Semua orang di sini keliatannya begitu akrab dengan satu sama lain.


Grace memalingkan pandangannya dan berjalan lagi, mencari ruangan yang sedikit sepi di mana ia dapat menemukan cermin.


Ketika suara dari lantai dansa terdengar sayup-sayup, Grace akhirnya menemukan sebuah ruangan yang cukup sepi di ujung koridor itu. Tempat ini sepertinya cocok.

__ADS_1


Melangkah masuk ke ruangan yang temaram itu, Grace menarik pintunya hingga tertutup, kemudian menghela napas dan akhirnya menurunkan sedikit pertahanan dirinya.


Tidak ada yang bisa membuat seseorang benar-benar merasa kesepian selain menjadi orang asing di tengah-tengah pesta yang mewah dan meriah.


__ADS_2