
Masih gemetar karena ledakkan emosi yang protektif, Grace berjalan bersama kedua bocah itu ke arah rumahnya, di sana ia memberi Danny handuk kering. Kemudian ia memberi mereka sarapan. Sementara ia sendiri saat ini terlalu kesal untuk bisa makan.
Benar-benar kurang ajar. Tidak tau sopan santun...
Tentu saja Grace merasa senang tetangganya itu telah menyelamatkan Denny. Pria itu benar. Meskipun anak-anak itu tadi sudah melakukan perbuatan yang membahayakan, namun sekarang mereka baik-baik saja.
Tapi Grace masih marah kepada Lord Trevor. Beraninya pria itu mengomentari statusnya yang masih lajang! Dengan bertanya kepadanya kenapa ia masih tinggal dengan ayahnya? Benar-benar kelancangan yang tidak dapat dimaafkan! Dan selama ini ia berpikir pria itu adalah pria terhormat!
Jelas sekali ia sudah salah menduga.
Sekalian saja menyebutmya perawan tua dengan blak-blakan. Karena Grace sama sekali tidak memiliki seseorang yang ditunggunya, yang pergi berperang dengan Kolonel Avery.
Tapi itu semua bukanlah urusan pria itu! dan ditambah dengan kenyataan, mungkin, Grace tidak suka jika ada orang lain yang menyadari bahwa ia agak kesepian. Bahwa kehidupannya tidak berjalan sebagaimana harapan kebanyakan para wanita muda lainnya.
Air mata Grace bisa tumpah sekarang jika ia benar-benar serius memikirkan hal itu.
Tapi oh, pria itu, makhluk yang selama ini menurutnya sangat tampan itu, telah membeberkan fakta yang menyakitkan tersebut dengan terang-terangan. Seolah Grace berutang penjelasan kepadanya!
Sementara si kembar dengan lahap menyuap bacon, telur, dan roti berselai ke mulut mereka, Grace hanya menatap nanar mangkuk berisi apel yang berada di tengah-tengah meja makan, terlalu marah untuk bisa menelan makanan.
Grace berharap seandainya saja ayahnya tidak pernah menyarankan kepada pria itu untuk membeli Grange.
Bagaimana caranya ia bisa menjalani hidup bertetangga dengan seorang mantan mata-mata, pembunuh terlatih, dan khususnya lagi sekarang, setelah pria itu melihat Grace terlihay konyol, berjalan ke luar rumah hanya dengan mengenakan gaun malam dan jubah, dengan sepatu bot sebagai alas kaki? Hanya itu yang dibutuhkan pria itu.
Grace menggelengkan kepalanya dalam kemarahannya yang terpendam. Demi Tuhan, sebagai seorang putri pastor, ia bisa hidup dengan berbagai kekurangan, tapi jika Lord Trevor mengasihaninya karena statusnya sebagai perawan tua, ia tidak bisa menerimanya.
Harga diri Grace tidak dapat menerima semua itu. Hal itu bukanlah sesuatu yang dapat ditanggungnya. Calpurnia dapat memiliki pria itu, Grace sama sekali tidak peduli.
Sementara itu, di seberang meja kedua bocah Nelcott saling menertawai kelakuan mereka masing-masing, sudah lupa dengan ketakutan mereka tadi setelah sekarang mereka sudah selamat dari bahaya.
Anak-anak itu tampaknya berusaha melupakan bahaya yang tadi mereka lalui dengan tertawa dan bercanda atau mungkin menganggap kejadian itu sebagai petualangan terbaik mereka.
__ADS_1
"Denny, apa dia benar-benar menyelmatkanmu agar tidak tenggelam?" sela Grace, dan tanpa sadar merasa kesal dengan keriangan yang mereka tunjukkan sekarang.
"Kukira kau bisa bisa berenang."
"Aye, aku memang bisa, Miss..." ujar bocah itu.
"Tidak sehebat aku!" sela saudaranya.
"Lebih baik dirimu!" balas Denny, sambil mendorong Kenny.
"Tidak mungkin!"
"Anak-anak! Jawab pertanyaannya!"
"Aku bisa berenang," Denny menyakinkan Grace.
"Tapi kakiku tersangkut batang pohon atau sesuatu yang ada di dasar sungai. Aku tidak bisa bergerak. Aku hampir tidak bisa membuat hidungku tetap berada di atas air."
"Aye, Miss." Denny tersenyum lebar.
"Dia brilian!"
"Untuk seseorang ogre," tambah Kenny sambil terkikik, dan Grace memandang marah ketika menyadari bahwa kedua boca ini sudah mengubah pandangan mereka mengenai pemilik baru Grange, dari seorang penjahat menjadi seorang pahlawan.
Hmmph.
"Well, kalian sebaiknya jauh-jauh darinya. Dia tidak mau menjadi bagian dari kalian atau apa siapa pun. Kalian dengar sendiri tadi. Dia hanya ingin dibiarkan sendirian. Jadi kita harus menghormati keinginannya, dan semoga saja, tidak ada seorang pun yang akan terbunuh. Jika aku mendengar sekali lagi kalian menyelinap ke propertinya, kalian harus berurusan dengan aku. Paham?"
Kerutan yang sama terlihat di wajah kedua bocah kembar itu, namun sepasang berandal kecil tersebut akhirnya paham.
Mereka berdua menunduk, dan bergumam,
__ADS_1
"Baik, Ma'am."
"Bagus kalau begitu," jawab Grace, dan akhirnya memakan roti panggangnya.
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Terima kasih ya, buat kalian para readers yang sudah setia dan sabar menunggu untuk membaca novel "My Notorious Gentleman"
Novel ini lumayan panjang, dan Author TIDAK membuat My Notorious Gentleman Part 2.
Maaf jika para readers ada yang merasa bosan dan kelamaan nunggu up nya. Karena author banyak banget tugas sekolahnya. apalagi sekarang kan lagi homework.
Terus tongkrongin ya guys... Don't forget to like, coment, and 5 stars. okay😄
__ADS_1