
Makan malam disajikan setelat mungkin di kediaman sang pastor, dan Lord Trevor masih belum menampakkan batang hidungnya.
Grace hampir terlonjak setiap saat ketika ia mengira seperti mendengar kedatangan pria itu di depan pintu, yang ternayata hanyalah suara angin malam.
Grace tidak dapat bersikap tenang. Ia mencoba untuk menenangkan pikirannya dengan menjahit, namun kegelisahan membuat jemarinya manjadi kaku, hingga akhirnya ia menyerah dan menaruh kembali peralatan jahitnya.
Oh Tuhan, ia benci sekali harus menunggu seorang pria. Karena ia pasti dihinggapi perasaan tak berdaya dan rapuh.
Pertama-tama, ia harus menunggu selama seminggu lebih agar Lord Trevor muncul, dan sekarang di sinilah dirinya, kembali duduk menunggu menghabiskan waktu dan berharap pria itu segera datang.
Tidak heran mantan tunangannya yang cantik lelah menunggu, pikir Grace. Wanita itu harus menunggu Lord Trevor selama bertahun-tahun, wanita yang malang.
Kemudian Grace bertanya-tanya dengan risau apakah Lady Laura masih nencintai Lord Trevor. Pastinya wanita secantik itu hanya perlu menjentikkan jarinya untuk bisa membuat Lord Trevor kembali padanya.
Mungkin wanita itu akan mencampakkan tunangan barunya demi menghormati ikatan pertunangannya yang terdahulu. Mungkin mereka akan bersatu kembali.
Pemikiran itu mebuat Grace muram meskipun ia seharusnya tidak begitu. Hal itu sama sekali bukan urusannya.
__ADS_1
Di kejauhan, langit mulai berubah menjadi biru gelap, hawa dingin malam mulai terasa, dan burung-burung malam pun mulai berkicau.
Sudah jam delapan malam ketika akhirnya kedua Kenwood yang lapar itu berhenti berharap tamu mereka akan datang dan duduk di meja makan.
Mrs. Flynn, juru masak dan juga sekaligus pengurus rumah mereka, menyajikan makan malam pedesaan yang lumayan mewah, ikan bakar dengan ubi merah yang diberi mentega, beserta lobak, ditambah dengan kacang-kacangan yang dicampur dengan bacon.
Grace menutupi wajah kekecewaanya, tetap memasang senyum di wajahnya ketika ayahnya memimpin do'a sebelum mereka makan.
"Amin."
Grace membeku, terkejut dengan kemungkinan tersebut. Perutnya langsung melilit.
Oh Tuhan, pikir Grace. Marianne.
Jika pertemuan Lord Trevor dengan Callie yang cantik dan menawan tidak terlalu menyakitkan untuk disaksikannya, Grace bahkan tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi jika pria itu bertemu dengan Marianne yang seksi, yang bekerja di bar penginapan itu.
Mantan pekerja seksi itu memiliki bakat yang tidak dapat ditandingi oleh wanita baik-baik manapun, pikir Grace. Marianne pula yang menjadi penyebab pertengkaran Callie dengan George.
__ADS_1
Grace menyesap wine untuk menenangkan rekasi kepanikannya karena membayangkan kalau saat ini Marianne mungkin sedang menunggu, dalam kapasitas apa pun, Lord Trevor di penginapan.
"Ya," kata Grace akhirnya dengan ketenangan yang menaggumkan.
"Papa mungkin benar."
Setelah itu, lebih mudah bagi Grace untuk menenangkan dirinya sendiri dengan berpikir bahwa ia sudah tidak berharap lagi pada pria itu. Lord Trevor tidak datang, dan begitulah akhirnya.
Mungkin sekarang pria itu sedang bergulat bersama Marianne di atas tempat tidur.
Sementara itu, saat ini merupakan saat yang tepat untuk mulai berhenti bersikap seperti wanita gampangan lainnya, pikir Grace dengan penuh tekad.
Sudah cukup buruk dengan adanya gadis cantik berusia delapan belas tahun yang dengan terang-terangan meggoda pria tampan yang mungkin saja akan menjadi salah satu penduduk desa ini.
Sementara Grace, yang lebih tua dan bijaksana, jika ikut-ikutan bersikap seperti itu, pasti akan terlihat sangat menjijikan.
Benar-benar tidak dapat diterima, sungguh. Ya, memang benar pria itu tampan, bersikap sangat baik pada anak-anak, lalu kenapa?
__ADS_1