My Notorious Gentleman

My Notorious Gentleman
#29


__ADS_3

Gadis yang kini pipinya merona itu mengangkat rok muslinnya yang bercorak bunga-bunga dan berlari sambil mrnampakkan raut wajah penuh kebahagiaan.


Grace menduga sebentar lagi ia pasti akan mendengar lonceng pernikahan di desa ini.


Yah, itu jelas bisa membuat Lady Windlesham begitu bahagia.


"Ada kabar apa?" tanya Grace dengan senyum penuh pemahaman, ketika Callie terengah-engah sampai di dekatnya.


"Kau lihat saja sendir!" Callie menyodorkan kacamata opera kepada Grace.


Grace mengerutkan dahi, namun Callie terlihat sama sekali tidak mau bersabar


"Lihat! Demi Tuhan, Grace apa kau tidak pernah menoleh ke luar jendela? Halo, Bitsy," Callie menyapa gadis kecil yang ada di samping Grace, karena bocah itu adalah kesayangan mereka berdua.


"Apa kau sudah melatih gerakan menghormatmu?"


Bitsy merasa senang karena Callie masih mengingatnya dan langsung memperagakannya hingga hampir tersandung.


"Bagus sekali!" seru Callie.


"Apa yang harus kulihat?" tanya Grace, masih kelihatan bingung.

__ADS_1


"Ya ampun, Grace, kau buta ya?" jerit Callie.


"Tidak, hanya saja dari tadi kepalaku terbenam di sini. Kenapa? Apa kau sudah mendengar kabar dari George?"


"Huh! George siapa? Lihat... di sana." Callie mencengkeram bahu Grace dan membalikannya, menunjuk ke arah Grange.


"Dia."


Grace terkesiap keras hingga hampir tersedak ketika ia melihat sosok tinggi yang tampan, yang hanya mengenakan celana cokelat dan kemeja sedang berjalan dengan santai di sebuah ladang.


Grace kehilangan kemampuannya untuk berkata-kata selama beberapa saat. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang.


"Kapan...?" Grace kembali tersedak.


"Mrs. Fiddler melihat pria itu melintasi kota menggunakan kereta yang sangat bagus, dan Sally Hopkins langsung mendatangiku dan mengatakannya... memang begitulah seharusnya! Ayo!" Callie menarik tangan Grace.


"Kita harus ke sana dan menemuinya! Kau harus mendampingku."


"Calpurnia." Grace tiba-tiba saja gemetar seperti orang dungu.


"Oh, bukankah itu menyenangkan? Akhirnya, ada seseorang yang beminat pindah ke desa kecil kita yang tolol ini! Bisakah kau bayangkan betapa hidupnya tempat ini nanti jika ada seorang pria terhormat yang tampan seperti dia yang menetap di Grange? Oh, dan aku berani bertaruh kalau dia punya banyak teman yang tampan juga!"

__ADS_1


Grace tidak mampu mengeluarkan satu kata pun. Ia hanya mampu menatap Callir dan menyerahkan kembali kacamata opera itu dengan terguncang, seolah benda itu telah membakar tangannya.


"Apa apa denganmu?" Kemudia Callie memutar bola matanya.


"Kau tidak akan berubah menjadi orang yang pemalu sekarang, kan? Grace! Kenapa sekarang..."


"Dia sibuk! Dia tidak akan suka jika kita mengganggunya..."


"Jangan konyol," balas Callie.


"Mungkin saja ada yang ingin ditanyakannya! Kita bisa mengatakan semua kepadanya mengenai desa ini dan para penduduknya. Kita harus membantunya, kan? Membuatnya merasa diterima. Kaulah yang seharusnya paling tau, sudah tugas kita sebagai umat kristiani untuk membantu orang asing. Lagi pula, jikandia sedang mempertimbangkan untuk membeli tempat itu, inilah kesempatan kita untuk memwngaruhi keputusannya! Aku tidak melihat ada wanita yang datang bersamanya, bagaimana denganmu?"


"Tidak," seru Grace dengan lirih, jantungnya berdebar kencang. Ia khawatir kalau ia sangat terguncang saat ini mengerahkan usaha terbaik untuk menyembunyikannya.


"Ayolah, kalau begitu! Mari kita tunjukka kepada pria itu berapa ramahnya orang-orang di sini!" Calpurnia terus berusaha menarik Grace, namum Grace sama sekali tidak mau bergerak, berjuang keras untuk menjernihkan pikirannya dari serangan rasa panik, dan kebahagiaan yang memuncak karena pria itu akhirnya datang.


Grace sudah tidak lagi mengharapkan kedatangan pria itu beberapa hari yang lalu, namun sekarang disinilah pria itu berada! Pada saat itu, Grace tidak tau apa yang harus dilakukannya, dan rasanya ia ingin ikut menjerit kegirangan seperti yang dilakukan Calpurnia atas kedatangan pria itu.


Namun kemudian Grace teringat lagi akan rencanya untuk menjodohkan pria itu dengan gadis muda yang berani ini.


Ketika pemikiran itu kembali terlintas di ingatannya, tiba-tiba saja semuanya terasa tidak menarik lagi.

__ADS_1


__ADS_2