My Notorious Gentleman

My Notorious Gentleman
#45


__ADS_3

"Kau membeli lahan pertanian?"


"Ya," ujar Trevor datar, mengangkat dagunya.


"Sebuah pertanian tua dan terbengkalai. Tapi aku yakin suatu hari nanti tempat itu pasti akan indah kembali, begitu aku selesai mengusahakannya."


"Aha, proyek bangunan baru," ujar Beau, tampak senang untuk Trevor.


"Untuk mengalihkan pikiranmu dari... hal lainnya, kurasa?" Trevor mengangguk. "Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk mengerjakannya," akunya.


"Kalian berudua harus datang dan melihatnya begitu kalian kembali dari Prancis, meskipun aku ragu apakah aku bisa menyelesaikannya dalam tiga bulan. Aku benar-benar harus mengerahkan usaha terbaikku. Rumah ini sudah berusia tiga ratus tahun. Benar-benar memerlukan perbaikan yang serius."


"Trevor, ini kedengarannya pas sekali untukmu," ujar Beau. "Di dekat Leicestershire bagian mana?"


"Sebenarnya di dekat estat Lord Lievedon. Desa Thimbleton. Um, Thistleton," ralat Trevor.


Beau menatap Trevor dengan dengan aneh, penilaian khas seorang mata-mata.


"Ada apa?" tanya Trevor, bertanya-tanya seberapa banyak yang sudah diungkapkan wajahnya.


"Apa ada alasan khusus kau memilih tempat itu?" tanya Beau, hampir terdengar curiga.


Trevor mengangkat bahu, tapi tentu saja, yang terpikirkan olehnya saat ini hanyalah Grace.


"Aku hanya menyukainya. Masih banyak lahan subur di sana. Pemandangannya juga bagus."


"Oh, begitu," Beau mengangguk, dan meskipun ia sepertinya dapat merasakan bahwa Trevor tidak mengatakan seluruhnya, namun ia tidak memaksa.


"Well, waktu sepertinya memang telah banya membuat perubahan, benar, kan? Kukira dengan Nick masuk penjara itu sudah sebuah kejutan yang besar. Tapi sekarang kau pindah ke pedesaan..."


"Dan kau sendiri, menjadi pria beristri," balas Trevor.

__ADS_1


"Dia memang menjadi pria yang sudah menikah sepenuhnya!" Carissa merangkul suaminya dan mencium pipi sang viscount dengan riang.


"Ya, aku bisa melihatnya," gerutu Trevor.


"Tidak seburuk keliatannya, sungguh," tukas Beau, yang membuat ia menerima pukulan dari istrinya. Beau merangkul bahu istrinya dan menarik Carissa mendekat, tertawa.


"Teruslah bersikapn seperti itu, Beauchamp. Kita lihat saja bagaimana nanti nasibmu," bisik Carissa dengan nada peringatan.


"Kedenagarannya lebih seperti sebuah tantangan," balas Beau dengan gumaman parau.


"Oh, kurasa itu sebuah isyarat, lebih baik aku pergi saja," ujar Trevor masam. "Jika kalian memaksaku untuk datang makan malam bersama pengantin baru yang mabuk kepayang seperti kalian, aku harus pulang terlebih dahulu. Sampai jumpa di Rotherstone."


"Jam delapan!" teriak Carissa dari belakang ketika Trevor sudah berbalik dan mengarah ke tangga untuk keluar sendiri dari rumah itu.


"Jangan telat!"


"Aku tidak pernah telat," balas Trevor. Dalam perjalanannya keluar, ia mengangguk kepada kepala pelayan Beau yang sudah tua dan kaku.


Kediaman lajang Trevor terletak di lantai tiga sebuah bangunan batu bata yang bersih dan nyaman di Old Bond Street.


Lantai dasarnya merupakan toko topi populer, namun apartemen yang terletak di lantai tiga ini cukup luas dan aman, dan cukup memadai bagi seorang putra bungsu.


Tempat ini khususnya sangat tepat sekali bagi seorang pria yang sering berpergian keluar negeri. Dan sebagai seorang mata-mata, Trevor menyukai kehadiran toko yang ada di bawahnya. Dengan pengunjung yang datang silih berganti, membantunya dalam menyamar.


Ketika sampai, Trevor meninggalkan keretanya di istal setempat, kemudian menaiki tangga menuju pintu ke kamarnya. Trevor membukanya dan melangkah ke dalam. Menutup pintu di belakangnya, Trevor menoleh ke sekitar, melepaskan napas lega, dan melemparkan mantelnya ke kursi terdekat.


Begitu Trevor mulai menghitung jumlah barang-barang yang dimiliki, ia sadar kalau ternyata barang-barangnya itu tidak sebanyak yang ia pikirkan. Memang sejak awal ia tidak memiliki terlalu banyak barang. Kehidupannya sebagai agen yang selalu berpindah, membuatnya sangat efisien dan terpatri dalam dirinya untuk membawa barang seperlunya saat bepergian.


Berkeliaran di ruangan-ruangan yang ada di apartemennya, Trevor memperkirakan barang apa saja yang perlu di bawa ke Grange.


Sudah pasti bukan perabotan, tapi pakaian-pakaiannya, buku-buku, dan khususnya buku-buku tebal tentang arsitektur, dan yang pasti koleksi senjatanya yang beraneka ragam.

__ADS_1


Seandainya saja ada musuh lama yang ingin membuat masalah dengannya hingga sampai memburunya ke pedasaan, Trevor berniat untuk mempersiapkan dirinya.


Meskipun demikian, setelah selesai membuat perkiraan mengenai barang-baranganya, Trevor yakin kalau ia bisa merapikan barang-barang yang perlu diangkutnya tidak lebih dari dua jam.


Tentu saja, setelah itu ia harus menghadiri pesta makan malam. Trevor penasaran, apa yang akan dipikirkan Grace mengenai teman-temannya yang glamour.


Melirik jam, Trevor melihat kalau ia masih punya waktu beberapa jam lagi sebelum ia harus berada di Roherstone, jadi ia pergi ke tempat penyimpanan keretanya. Sudah lama ia menyewa ruang perlatan di kandang kuda di belakang apartemennya itu.


Di sana, Trevor menyimpan alat-alat pertukangan yang ia pakai saat mengerjakan proyek terakhirnya. Ia masuk ke gudang yang ada di sana, dan menghabiskan waktu agak lama untuk melihat-lihat kembali gergaji, kunci inggris, dan palu, seolah benda-benda itu adalah teman lamanya.


Hal sederhana macam ini mampu menenangkan hatinya, meskipun keluarganya sering bingung karena hal ini.


Trevor tersenyum, merasa geli ketika teringat betapa saudara-saudara perempuannya yang pembangkang itu sangat menyukai keahliannya yang satu ini. Bahkan ketika anak-anak sekalipun, Trevor sudah dapat membetulkan hampir semuanya, mainan adiknya yang rusak, perhiasan ibunya yang patah, senapan berburu ayahnya, dan yang lainnya.


Ketika berusia dua belas tahun. Trevor meninggalkan rumah untuk belajar di sekolah Ordo yang terdapat di Skotlandia, dan makin lama ia makin menjauh dari keluarganya.


Trevor mengalami masa-masa yang tidak ada kaitannya dengan keluarganya, dan mungkin itu memang jalan yang terbaik. Tapi Trevor lebih merasa seperti orang asing saat berada di antara mereka.


Nick, Beau, dan yang lainnya telah menjadi keluarganya yang sesungguhnya, namun akhir-akhir ini, ia merasa kalau dirinya juga sudah kehilangan mereka. Beau karena pernikahannya, Nick karena pengkhianatannya yang sangat menyakitkan.


Akhirnya, mengingat waktu, Trevornpergi ke istal dan menyewa para pemuda yang ada di sana memindahkan barang-barang yang ada di gudangnya ke kereta kuda sewaan yang disediakan di istal tersebut.


Setelah memperingatkan mereka agar berhati-hati dengan barang-barangnya, Trevor kembali ke atas ke apartemennya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Tapi begitu ia membuka pintu, ia langsung membeku, terkejut mendapati tamu yang sedang duduk di sofanya.


Wanita itu sendirian, wajahnya tersembunyi di balik cadar renda yang jatuh dari atas topi bonnet-nya.


Wanita itu mendorong cadarnya ke belakang dan berdiri ketika Trevor melangkah masuk.


Laura.

__ADS_1


__ADS_2