
Aneh. Sungguh aneh sekali. Namun juga lucu, meskipun yang patut ditertawai adalah dirinya sendirim
Trevor tidak percaya, ia membuat kesalahan yang memalukan seperti itu, namun itu hanya semakin menunjukkan betapa tidak biasa dirinya, lagi pula, meskipun itu merupakan kesalahan, tapi kesalahan tadi adalah salah satu kesalahan yang dapat dinikatinya sepenuhnya.
Kesalahan itu juga membuat satu hal menjadi sangat jelas. Mungkin sekaranglah saatnya untuk menata kembali kehidupannya, menegakkan kepala, dan keluar dari kabut gelap kemarahan dan kepahitan.
Siapa pun wanita tadi, ia telah berhasil menarik Trevor kemabali dari jurang kekecewaannya.
Setengah terhibur, sepenuhnya kecewa, dan masih diliputi hasrat dari ujung kaki hingga ujung kepala, Trevor berjalan ke arah keretanya, tangan di dalam saku.
Tapi tetap saja, pertanyaan itu tidak dapat hilang dari benaknya, Siapa wanita itu?
Teror kecil, itulah dia. Trevor tidak percaya wanita itu menusuk lengannya dengan jepit rambut hanya untuk menghindari ciumannya, ciuman yang ia lakukan dengan murah hati seolah itu adalah permintaan wanita itu.
Merasa tergelitik oleh ironi itu, meskipun ia tahu dirinya yang patut ditertawakan., Trevor dengan enggan menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, ke Lievedon House dengan jendela-jendela yang bercahaya terang di dalamnya.
Bingung, apakah sebaiknya ia pulang ke rumah sekarang atau kembali ke dalam dan tinggal lebih lama di sana.
__ADS_1
Mencoba untuk mencari tahu siapa wanita itu...
Trevor menggeleng, sadar sekali kalau permintaan maafnya tadi tidaklah cukup. Apa yang nantinya akan dipikirkan wanita itu terhadap dirinya!
Trevor tau bagaimana seharusnya seorang pria memperlakukan lawan jenisnya. Berbeda dengan rekan-rekannya yang ada di Ordo, karena Trevor memiliki beberapa saudara perempuan. Treovor tidak pernah menjadi pria penggoda akan seperti Beauchamp, dan tidak pernah pula merenggut kenikamatan bersama wanita-wanita berbahaya yang menjadi kelemahan Nick.
Tapi sekarang ia merasa seperti orang jahat, karena makin jelas baginya bahwa wanita yang diperlakukannya dengan tidak senonoh tadi adalah seorang wanita baik-baik dan polos.
Wanita baik-baik! Bayangkan itu. Ia bahkan sempat tidak yakin lagi kalau makhluk sejenis itu masih ada di dunia ini. Trevor menjadi semakin tertarik lagi karenanya. Ditambah lagi, wanita itu menolak untuk memberitahukan namanya.
Tapi mungkin wanita itu benar. Mungkin sebaiknya mereka tidak mengungkit-unkit lagi, seperti anggapan wanita itu. Ciuman rahasia bersama dengan orang asing yang mabuk. Tuhan tau bahwa Trevor sangat menikmati apa yang dilakukannya tadi, pikirnya sambil menghela napas.
Entah kenapa, kali ini rasanya berbeda. Trevor kembali menoleh ke rumah Lievedon. Lalu pikirannya dipenuhi momen saat wanita itu dengan tak berdaya bergelayut kepadanya layaknya seorang gadis perawan yang mabuk gairah, membuat Trevor berdenyut menantikan pemuasan. Benar. Tiba-tiba, pikirannya telah memutuskan.
Ini tidak dapat dibiarkan. Kehormatan menuntutnya untuk melakukan sesuatu. Ia telah salah memperlakukan wanita itu: Ia, dari semua orang, tidsk dapat membiarkan kekeliruan berlalu begitu saja. Ia harus kembali ke sana dan mengatakannya lagi kepada wanita itu dengan pantas, tanpan kesinisan bahwa ia menyesal dan wanita itu sama sekali tidak perlu takut bahwa ia akan menghancurkan nama baiknya.
Nama yg berniat untuk Trevor cari tau.
__ADS_1
Paling tidak, Trevor bertekad untuk mencari tau siapa wanita itu. Karena untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, ia mulai merasa memiliki harapan. Siapa pun dia, wanita itu merupakan simbol akan sesuatu. Trevor belum yakin apa itu. Baginya sudah cukup hanya dengan melihat saja bahwa masih ada wanita baik-baik diluar sana.
Sementara wanita lainnya berusaha merayu Trevor, sesuatu yang tidak dibutuhkannnya. Wanita itu, dengan jepitan rambut kecil, telah meletuskan gelembung kecil dari pikiran kelamnya.
Aye, wanita itu telah berbuat baik kepadanya, pikir Trevor miris. Ia juga berutang terima kasih kepada wanita itu. Dan kenapa tidak?
Treor tidak punya hal lain yang harus dilakukannya malam ini, ia juga tidak harus pergi ke mana-mana. Dan ia tidak akan kehilangan apa-apa.
Laura dan pacar barunya sudah jelas tidak akan datang, jadi mungkin sekarang Trevor akhirnya dapat rileks. Kembali ke dalam, minum-minum, pikirnya riang, dan setidaknya kembali mencoba menikamati diri sebagaimana layaknya manusia biasa lagi.
Dengan rasa wanita itu yang masih menempel di lidahna, Trevor menyerah pada rasa penasarannya, dan kembali melangkah ke arah cahaya.
Kandelir besi itu menyala terang, tergantung di serambi depan yang berbentuk setegah lingkaran. Trevor berjalan di bawahnya, dan kembali melangkah masuk ke Lievedon House.
Setelah kembali bergabung ke dalam kehebohan pesta, Trevor mengingat dalam hati untuk manjauh dari para wanita penggoda dan tetap berada di samping teman-teman pria sementara melakukan penyelidikannya.
Bagaimanapun caranya, Trevor bertekad untuk mencari tau siapa sebenarnya yang tadi ia cium.
__ADS_1