
Grace langsung berhenti dan menatap Trevor dengan terkejut, tepat ketika ia hendak menaikkan Bitsy ke atas kereta.
"Biar kubantu kau menaikannya." Trevor menggendong Bitsy tinggi-tinggi di atas kepalanya sebelum mendudukkan gadis kecil itu di atas bangku kereta.
Bitsy tertawa riang karenanya, kemudian Trevor bergeser ke samping dan menawarkan tangannya kepada Grace.
Menyibakkan rambut dari wajahnya sekali lagi, Grace berbalik dan terlihat ragu, lalu menerima bantuan Trevor sambil tersenyum malu-malu.
"Maaf tentang ini," bisiknya sambil mengangguk sekilas ke arah Calpurnia, yang sedang sibuk membenarkan taki kekang kudanya.
"Bukan salahmu." Trevor mencondongkan tubuhnya lebih dekat.
"Aku akan menemuimu nanti. Kau tidak perlu memeberiku makan, tapi aku memang ingin mampir dan menyampaikan salam hormatku kepada ayahmu."
Mata Grace membesar ketika ia menatap tajam ke arah Trevor, membuatnya kembali dibanjiri oleh kenangan saat mereka sedang berciuman di kamar yang gelap itu.
"Baiklah, kalau begitu," Grace berusaha menjawab meskipun suaranya hampir tidak terdengar.
"Aku akan memberitaukan kepadanya kalau kau akan datang."
Trevor melirik bibir Grace ketika wanita itu tanpa sadar menjilatinya. Berusaha menahan erangan, Trevor meraih siku Grace dan membantunya naik ke kereta.
Grace menaruh tangannya di sekitar Bitsy untuk mencegah bocah itu agar tidak jatuh. Mereka melambaikan tangan ketika Calpurnia memberikan aba-aba pada kudanya agar bergerak, dan kereta beroda dua itu pun kemudian berlalu melintasi jalan masuk.
Trevor memperhatikan kepergian mereka, tangannya terlipat di depan dada. Kemudian ia kembali berjalan ke arah runah tua itu, siap untuk mengantakan keputusannya pada sang agen properti.
□□□□□□□□□□□□□□□□□□□
__ADS_1
"Aku tidak mengertia kenapa dia tidak mau datang untuk makan malam," celoteh Callie ketika mereka beranjak.
"Ibuku tidak akan senang mendengarnya."
Dia memang tidak pernah senang, pikir Grace, lebih dari kesal dengan campur tangan Callpurnia. Sekali saja, tidak bisakah keluarga Windlesham tidak mengancam dan ikut campur urusan orang lain.
Bayangan makan malam dengan Lord Trevor adalah salah satu hal yang sangat Grace nantikan sejak ia dan ayahnya kembali ke desa yang hening ini.
Meskipun demikian, karena Grae adalah orang yang sabar, ia hanya menghela napas panjang dan berusaha untuk memperbaiki keadaan.
"Callie, kau tidak bisa seenaknya mengatakan kepada pria seperti dirinya apa yang harus dilakukannya. Dia tidak sama dengan George. Pria seperti itu punya pendirian sendiri."
"Dia memang jauh berbeda dengan George," sahut Calpurnia setuju.
"Apa kau melihat otot-ototnya? Lengan dan bahunya sangat besar."
"Calpurnia Windleshan!" Grace berpaling, wajahnya merona merah.
"Aku akan mengatakan kepada George kalau kau bilang begitu."
"Lakukan saja! Lord Trevor membuat George jadi tidak ada apa-apanya. Bocah tak berguna itu. Ayolah, Grace. Kau wanita dewasa... kau tau kalau Lord Trevor adalah pria impian para wanita. Apa kau melihat betapa memesonanya dia saat menangani Bitsy? Aku yakin dia pasti akan menjadi ayah yang baik."
"Callie, jika kau tidak berhenti, aku akan melompat dari kereta ini, aku bersumpah."
Bitsy meanganggap ancaman Grace menggelikan.
Callie menatap Grace bingung sementara Bitsy tertawa keras.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?"
"Aku hanya... aku tak percaya kau melakukannya!" bentak Grace kesal.
"Mengejar pria seperti wanita nakal. Kenapa tidak langsung saja kau lemparkan dirimu ke dalam pelukannya?"
"Kuharap juga begitu," gumam Callie.
"Jujur saja, aku benar-benar memikirkannya."
"Ini bukan lelucon! Apa kau tidak pernah memikirkan reputasimu?"
"Jika aku bisa menaklukkan putra seorang duke, itu malah akan meningkatkan reputasiku," jawab Calpurnia sambil mengangkat bahu menantang.
"Menaklukkannya?" seru Grace.
"Kau pikir kau mampu?"
"Aku tidak melihat alasan kenapa aku tidak bisa. Aku bahkan mempertimbangkan untuk menjadikannya milikku," ujar gadis manja itu.
"Begitu."
"Kau pasti terbuat dari batu, Grace. Apakah kau tidak melihat matanya? Warnanya abu-abu seperti awan saat badai datang. Dia begitu memsona."
"Oh Tuhan," gerutu Grace, ketika Callie mulai sok puitis.
"Kita akan sangat beruntung jika kau tidak membuatnya ketakutan dan menghacurkan dirimu sendiri dalam prosesnya."
__ADS_1