
"Benarkah?"
"Aku melihatnya di koran! Dia adalah agen Ordo. Pahlawan perang... dan pria terhormat! Dia tidak akan membahayakanku. Sekarang, apa kau akan mendampingiku atau tidak?"
Grace mengangkat dagunya, berusaha bersikap tegas terhadap Calpurnia sebagai sikapnya terhadap kekasih gadis itu, George.
"Tidak. Jangan ganggu dia."
Bibir merah Calpurnia mengerut memperlihatkan tekad kuatnya.
"Baiklah." Ia mulai berjalan ke arah keretanya.
"Callie! Apa nanti yang akan dikatakan ibumu?"
"Bagus sekali, Anakku! Tapi, Miss Kenwood benar-benar telah berbuat kesalahan dengan mengabaikanmu!"
Gadis itu menirukan suara sang baroness, ibunya, yang mengerikan dan sepertinya juga akan mengikuti jejaknya.
"Sekarang, naiklah ke kereta."
"Aku berantakan!" Grace menunjuk gaunnya.
"Aku bekerja dari pagi di sini! Badanku kotor dengan tanah!"
"Kau terlihat layaknya gadis desa. Itu menawan. Kau keliatan baik-baik saja. well, setidaknya kau bisa melepaskan celemekmu itu dulu. Cepatlah!"
"Oh Tuhan," bisik Grace singkat, berusaha agar tetap sabar.
"Kau akan datang begitu saja ke sana seperti tentara barbar, kau justru akan membuatnya takut untuk membeli lahan itu.
"Membuatnya takut?" Callie menertawai Grace yang terdengar tidak menyenangkan.
"Biasanya bukan itu efek yang kutimbulkan kepada seorang pria, Grace. lagi pula, dia seorang tentara terlatih! Aku tidak bisa membayangkan pria sepertinya takut pada gadis mungil seperti diriku. Dia pasti lebih menyenangkan dibanding dirimu!"
Callie meraih tali kekang kudanya dan memutar arah kereta kuda itu, lalu menaikinya.
__ADS_1
"Callie!"
"Kuharap aku bertemu denganmu nanti di sana!"
Callie memperlihatkan seringaiannya kepada Grace kemudian memberi tanda pada kudanya untuk bergerak. Grace mengentak marah mengejar Calpurnia.
"Kembali kau!"
Sia-sia. Dasar gadis gegabah!
Sementara kereta Callie kembali melaju kencang, Grace, dalam keadaannya yang masih bingung, baru teringat kalau ayahnya pernah mengundang Lord Trevor untuk makan di kediaman mereka.
Ya ampun, aku belum menyiapkan apa-apa untuk dihidangkan kepada pria itu! Grace berlari ke arah rumah, hampir melupakan si gadis kecil.
"Miss Grace!" teriak Bitsy.
"Tetaplah di sini, Sayang," ujar Grace sambil melepaskan celemeknya dan bergegas.
"Aku akan segera kembali..."
"Oh...! Kalau begitu, ayo ikut denganku. Cepat."
Bitsy masih terlalu kecil untuk menggunakan kamar mandi yang ada di luar bangunan sendirian, jadi Grace membawanya bergegas ke dalam rumah.
Pertama-tama Grace pergi ke dapur, mengatakan kepada juru masak untuk memotong salah satu ayam terbaik mereka, mereka akan kedatangan tamu. Kemudian ia memastikan Bitsy menggunakan pispot yang ada dikamarnya dengan baik.
Sebenarnya itu bukanlah hal yang sepele, namun Grace menunggu sesabar mungkin, masih mengutuki dirinya sendiri karena jantungnya berdetak tak karuan.
Mereka berdua mencuci tangan, dan ketika Grace melihat bayangannya di cermin, ia menyadari kilatan liar di matanya. Kendalikan dirimu sendiri.
Benar. Grace menarik napas dalam-dalam dan perlahan melepaskannya. Ia benar-benar tidak percaya akibat yang dapat ditimbulkan pria itu terhadap dirinya.
"Nah, Bitsy." Grace berjongkok di depan teman kecilnya.
"Kau disini saja, ya. Aku harus menyusul Miss Windlesham."
__ADS_1
Bitsy menggeleng. "Aku ikut!"
"Tidak, tunggu di sini bersama juru masak
..." namun Grace terdiam sesaat, teringat kalau juru masak akan memotong ayam sebentar lagi.
Grace memejamkan matanya rapat-rapat dan berjuang mengumpulkan kesabarannya sekali lagi.
Pemandangan memotong ayam itu akan menjadi mimpi buruk bagi anak sekecil ini, khususnya setelah cerita Bitsy mengenai bebek-bebek kecil tadi.
"Baiklah. Kau boleh ikut denganku," ujar Grace mengalah.
"Tapi usahakan kau berjalan dengan cepat. Seperti kakak-kakakmu."
Grace menggandeng tangan Bitsy dan membawanya kembali keluar, kemudian mereka berjalan ke lahan tetangga. Bitsy berjalan di sampingnya dengan serius, bergerak sejauh kaki kecilnya di langkahkan.
Sementara itu, Grace berdoa agar Calpurnia tidak menakuti Lord Trevor atau menghancurkan dirinya sendiri karena bersikap terlalu berani.
Tapi mungkin ada bagusnya mereka hanya berduaan saja di pertemuan pertama.
Lagi pula, mungkin saja ini adalah takdir mereka berdua.
Perut Grace seperti diremas-remas ketika ia berjalan bergegas ke arah Grange, penasaran akan reaksi Lord Trevor terhadap Callie.
Mata-mata berpengalaman, gadis muda cantik, yang sama memukaunya seperti mantan tunangan pria itu dulu.
Sebuah kesempatan untuk memulai lagi dan pria itu memang pantas untuk mendapatkannya. Callie bisa benar-benar memesona jika ia mengerahkan usaha terbaiknya.
Merasa cemas untuk mencegah bencana yang tidak diinginkan, seperti Callie melemparkan dirinya kepada pria itu.
Grace berjalan secepat yang ia bisa tanpa harus menyeret Bitsy. Ia tidal henti-hentinya mengingatkan dirinya bahwa penyatuan antara mantan mata-mata yang tampan dan gadis itu akan menjadi anugerah bagi seluruh penduduk desa.
Hanya ada satu masalah, sesuatu yang tidak ingin Grace akui. Jika Lord Trevor benar-benar menikahi Calpurnia, Grace khawatir sebagian dari dirinya pasti akan mati.
Dan itu benar-benar tidak masuk akal.
__ADS_1