
Trevor meninggalkan Grace dengan terlebih dahulu, mengabaikan kebingungan di mata biru yang indah milik wanita itu.
Kemudian Trevor terus melangakah tanpa menoleh sekalipun ke belakang, ke arah pintu di mana pasangan yang berahagia itu tadi masuk. Saat ini, Trevor sama sekali sudah melupakan niatnya untuk membuat Laura cemburu.
Itu sama sekali bukan dirinya, lagi pula, di dalam hatinya, Trevor sudah tidak peduli lagi.
Trevor mulai berpikir kalau mungkin saja ia tidak pernah benar-benar mencintai Laura. Ia pernah berusaha selama beberapa waktu, kurang lebih. Berulang kali ia mengatakan kepada teman-temannya saat mereka masih bertugas dulu, bersikeras kalau ia benar-benar mencintai Laura, biasanya ketika ia sedang mabuk di sebuah negara yang juah, dengan seorang pelacur di pangkuannya.
Dulu ia mengira teman-temannya mentertawai dirinya karena mereka adalah ****-**** yang tidak percaya akan cinta dan hanya memanfaatkan wanita sesuka hati mereka, setidaknya sampai mereka kebanyakan dari teman-temnnya itu menikah dan mengubah tabiat mereka. Namun sekarang Trevor mulai memahaminya.
Teman-teman seperjuangannya itu sudah tau bahwa Trevor selalu berusaha membodohi dirinya sendiri jika berkaitan dengan Laura, sebuah rencana, sebuah mimpi, mungkin hanya itulah gambaran yang ada di kepalanya yang selama ini dicintainya.
Sebuah ilusi yang tidak pernah dapat sepenuhnya membodohi hatinya.
Itulah yang menjadi masalahnya selama ini, kenapa Trevor harus terkejut ketika mendapati wanita itu akhirnya mencampakkannya? Sudah jelas bahwa mereka berdua sama-sama tidak memiliki rasa ketertarikan yang kuat satu sama lain.
Kalau saja Trevor mau mengakui hal itu sebelum hari ini. Kalau saja ia mau berhenti menyangkal bahwa mereka berdua tidak melihat satu sama lain sebagai sebuah trofi, sebuah penghargaan.
Mereka tampak pantas berdua, keluarga mereka saling mendukung, menganggap mereka pasangan yang unggul, dan setiap pria yang sehat pasti akan senang sekali jika bisa menjadikan Laura sebagai ibu anak-anaknya. Sejujurnya, sungguh sebuah keajaiban wanita itu mau menunggunya selama itu.
__ADS_1
Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, seharusnya Trevor tau bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar mengikat mereka.
Hanya kekosongan, pikir Trevor. Sempurna.
Dari dasar itulah ia membangun masa depannya, dan untuk itu, ia tidak bisa menyalahkan seorang pun kecuali dirinya sendiri.
□□□□□□□□□□
Sebuah pengalihan... jadi itulah arti dirinya malam ini bagi pria itu, renung Grace, merasa sedikit tersengat oleh kesadaran itu.
Namun sekarang pria itu sudah pergi. Keluar melalui jalan rahasia lainnya.
Pasti ada sesuatu yang membuatnya jadi kesal. Grace berharap bukan karena dirinya, ia bahkan cukup yakin kalau malam ini ia sama sekali tidak membuat kesalahan dengan pria itu.
Tidak, keliatannya pria itu melihat sesuatu atau seseorang di seberang ruangan yang tidak disukainya.
Grace berjinjit, berusaha untuk melihat sekeliling dan mencari tau apa yang mungkin menjadi penyebabnya, namun pada saat itulah ayahnya menemukannya
"Di sini kau rupanya! Lihat, Grace, aku akhirnya menemukan pasanganmu berdansa. Putriku sudah menunggu sepanjang malam untuk dapat berdansa denganmu, George, seperti yang sudah kubilang tadi. Kasihan sekali dia, jangan biarkan dia menjadi wallflower."
__ADS_1
"Papa!" tegur Grace kesal.
"Baik, Sir." George tersenyum kepada Grace, sementara ia mengerutkan dahi kepadanya.
Wallflower, tepat sekali! Ayahnya pasti tidak melihat saat ia menari bersama pria terhormat mantan mata-mata itu. Yang, jika dipikirkan baik-baik lagi, lebih baik seperti itu, mengingat reaksi aneh yang dibangkitkan pria itu pada dirinya.
Seorang ayah mungkin tidak akan menyetujui, apalagi jika ayahnya seorang pastor.
Well, tapi tadi ayahnya sendiri yang memerintahkannya untuk meladeni pria itu! Grace mengingatkan dirinya.
"Aku yag berikutnya, jika kau tidak keberatan," tambah Pastor Kenwood dengan nada penuh kasih sayang.
"Jangan janjikan dansamu yang berikutnya untuk pria muda lainnya. Seorang gadis muda seharusnya menyisakan dansa terakhirnya untuk ayahnya yang sudah tua."
"Baik, Sir," tukas Grace dengan sedikit sinis.
Mata biru ayahnya tampak berkilau di balik kacamata bundar itu, karena sang pastor tau sekali bagaimana perasaan Grace saat harus tampil di depan orang banyak.
Namun rasanya tidak terlalu menakutkan lagi saat setelah ia melaluinya dengan Lord Trevor.
__ADS_1