
"Carissa, ayolah," gerutu Beau.
"Baiklah, aku akan datang ke acara makan malam itu untuk mengucapkan salam perpisahan dengan kalian, tapi jangan coba-coba mencomblangkanku dengan wanita asing manapun."
"Cukup adil," balas Beau dengan nada suara yang memperingatkan istrinya tidak lagi berdebat.
"Jadi, dari mana saja kau selama ini?"
"Oh, tunggu dulu!" sela Carissa.
"Sebelum aku lupa, kami akan mengirimkan paket untuk Nick sebelum kami pergi. Ada beberapa hadiah untuknya. Mungkin kau mau menyisipkan surat kecil di dalamnya?"
Paham kalau ini adalah topik yang sangat sensitif bagi Trevor. Carissa menyapu rambut merahnya ke belakang telinga dan menunggu jawaban Trevor dengan mata membesar.
Trevor menatap dingin ke arah viscountess bermata hijau itu.
"Untuk apa kau memberinya hadiah?"
"Um, untuk membuatnya merasa lebih nyaman di penjara. Apa kau tidak mau menuliskan sepatah dua patah kata?" Cariss menyodorkan kertas dan pensil dari meja tulis di dekatnya.
"Aku tau ini pasti akan sangat berat baginya."
"Sayang, kau tentu masih ingat kalau dia berusaha menmbakmu, kan?" Trevor mengingatkan.
"Oh, itu hanya sebuah kecelakaan. Nick membidiknya," balas Cariss riang sambil mengangguk ke arah suaminya.
"Lagi pula, aku hanya mengalami luka ringan."
Trevor memberengut, tapi untuk menghibur Carissa, ia mengambil kertas dan pensil itu, lalu menuliskan pesannya dengan huruf besar:
DEAR NICK:
MEMBUSUKLAH KAU DI NERAKA, DASAR ********. KUHARAP KAU MENIKMATI PENJARAMU.
SALAM, MANUSIA PELINDUNGMU.
Trevor menyerahkan kertas itu kembali. Carissa membacanya. Mengangkat kepala dan menatap Trevor tajam, Carissa menyerahkan kertas itu kepada suaminya.
__ADS_1
Beau membaca kertas tersebut dan tawanya langsung pecah.
"Masukkan ke dalam kertas," ujarnya kepada Carissa sambil mengangguk.
"Aku tidak akan mengirmkan pesan ini kepadanya! Pria malang itu di penjara..."
"Dia akan menyukainya. Percayalah. Itu lebih baik daripada mendiamkannnya." Beau memberi tatapan penuh pemahaman kepada Trevor sambil menutup kopernya.
"Kau tau, Trev, kau biasanya tidak pernah menyimpan dendam. Kukira kau sudah memaafkan Nick saat mereka membawanya."
"Itu sebelum aku sadar kalau dia menjadi penyebab kehancuran hidupku."
"Kehancuran hidupmu?" seru Carissa.
"Bukankah itu agak berlebihan?"
"Dia masih menyalahkan Nick atas kepergian Laura," Beau memberi tau istrinya sambil melayangkan pandangan menyelidik ke arah Trevor.
"Ahh," ujar Carissa.
Trevor memalingkan wajah, tidak berniat untuk membahasnya, khususnya di depan 'lady informasi' Beau ini.
Carissa selalu punya pendapat sendiri, dan sekali lagi, ia memilih untuk mengutarakannya di depan mereka.
"Kalian harus berbaikan dan berhubungan baik lagi kalau kalian tanya pendapatku."
"Tidak ada yang menanyakan pendapatmu, Lady Beauchamp." Trevor mengangkat sebelah alisnya dan bersandar ke diniding, tangannya terlipat di depan dada. Carissa mengerutkan dahi.
"Ayolah, kalian sudah berteman dari kecil. Jika aku bisa memaafkan Nick karena menyerempet kepalaku dengan peluru, tentu kau bisa memaafkannya karena menggunakanmu sebagai sanderanya, dan memenjarakanmh di gudang bawah tanah selama berbulan-bulan. Dia tidak melakukannya karena keinginannya. Dia tidak punya pilihan! Tanpa menahanmu sebagai alat tukar, Ordo pasti sudah membunuhnya menggunakan penembak jitu mereka. Kau pastinya tidak ingin dia mati, kan?"
"Hmm," ujar Trevor, kemudian ia menoleh ke arah Beau.
"Kau mengatakan semua kepadanya?"
"Oh, ayolah," desak Carissa, "kau sepertinya lupa bahwa saat kau ditembak, Nick-lah yang menyelamatkan nyawamu."
"Dan kau sepertinya juga mengabaikan fakta bahwa dengan menyekapku, Nick membuatku kehilangan tunanganku! Dan seharusnya ini bukan urusanmu, Lady Beauchamp," tukas Trevor dengan kecut.
__ADS_1
"Tapi aku sudah punya rencana yang bagus untuk kehidupanku... oh, lupakan saja. Lagi pula, kenapa kau begitu membelanya?"
"Nick memesonanya," jelas Beau.
"Bisa kuduga."
Nick mengalami masa-masa yang sulit!" Carissa bersikeras.
"Dia tidak punya keluarga atau kekayaan seperti kalian berdua. Dia tidak pernah hidup senang, kau tau."
"Juga bijak," tambah Beau.
"Juga terhormat," tambah Trevor lagi.
"Jangan ganggu pria malang itu, Carissa," perintah Beau lembut. Trevor menyandarkan kepalanya ke dinding, mempertimbangkan kata-kata Carissa.
"Secara teori, Lady Beuachamp, aku sebenarnya bisa melakukan seperti yang kau katakan tadi. Maafkan dan lupakan. Tapi kurasa Nick tidak tahan melihatku bahagia."
"Sama sekali tidak seperti itu," dengus Beau.
"Benarkah? Atau dia mungkin tidak ingin menjadi orang terkahir yang sendirian. Jadi dia melakukan apa yang perlu dilakukannya untuk memisahkanku dengan wanita yang selalu kuniatkan untuk kunikahi. Bagaimana pendapatmu tentang itu?"
"Well, Trev," ujar Beau lambat-lambat, "ada kata 'menikah' dan ada pula kata 'berniat untuk menikahi,' dan keduanya memiliki makna yang jauh berbeda."
Trevor memandang tajam kedua pasangan Beauchamp yang bersatu untuk menyerangnya.
"Kalian mau tau berita dariku atau tidak?" tuntutnya, langsung mengubah topik pembicaraan.
"Tentu saja. Apa itu?" tanya Carissa.
"Aku akan pindah." ujar Trevor.
Alis Beau langsung terangkat. "Jangan bilang kau menerima tawaran posisi di Departemen Luar Negeri?"
"Oh, Tuhan, tidak." Trevor bergidik. "Aku tidak akan pernah mau bekerja lagi untuk pemerintahan. Aku membeli rumah di Leicestershire. Sebenarnya sebuah lahan pertanian."
Beau menatap Trevor dengan takjub, namun Carissa menyeringai.
__ADS_1
"Montgomery sang petani?"
"Kau membeli lahan pertanian?" ulang Beau.