My Notorious Gentleman

My Notorious Gentleman
#24


__ADS_3

Sepuluh hari kemudian, Trevor duduk di tengah padang rumput di hari yang cerah sambil mengunyah sehelai rumput panjang dan memandangi Grange dengan intens.


Ia tidak sepenuhnya yakin apa yang sedang dilakukannya di sini. Sekarang ini pastilah saat yang paling buruk dalam sejarah untuk membeli lahan pertanian, dengan keadaan cuaca yang tidak menentu.


Tapi setidaknya saat ini cuaca cerah, dan trevor yakin sekali kalau tahun depan alam akan kembali normal.


Namun sementara itu, semua orang yang punya mata dapat melihat kalau desa ini butuh makan, dan ia adalah tipe orang yang dapat mengatasi masalah dengan bekerja keras, bukannya malah lari dari keadaan tersebut.


Mungkin ini adalah langkah yang baik, pikirnya, menatap ke arah bangunan yang ada di sana. Juga murah, mengingat kondisi lahan ini.


Paa akhirnya, rasa penasaran menguasainya, ditambah tidak ada sesuatu yang bisa dikerjakannya, siksaan bagi pria yang sepanjang hidupnya selalu memiliki maksud, tujuan, dan strategi.

__ADS_1


Trevor harus mengakui rasanya menyenangkan sekali bisa melarikan diri dari pandangan menyelidik di London.


Jujur saja, ia tidak yakin kalau masih ada tempat lain yang bisa menerimanya, tanpa melibatkan masa lalunya, yang penuh dengan intrik, bahaya, dan pengkhianatan.


Desa Miss Kenwood begitu kecil dan biasa, bertempat di pedalaman Inggris, hingga membuat Trevor cukup terpana, karena tempat ini persis seperti impian seorang prajurit akan sebuah rumah idaman.


Hanya butuh waktu sekitar enam puluh detik berkereta dari pusat keramaian Thistleton, bahkan itu pun sudah termasuk saat ia dihentikan oleh bocah pegembala yang berusaha mengarahkan domba-dombanya yang berlarian.


Trevor memperhatikan dunia yang sangat asing ini dengan bingung ketika melaju. Mereka tadi melewati deretan toko-toko yang menyediakan kebutuhan pokok: toko pembuat sepatu, toko tenun, pakaian, daging, roti, dan pandai besi.


Tampak pula beberapa rumah sederhana. Umur rumah-rumah itu cukup beragam, bentuknya juga bermacam-macam, ada yang terbuat dari batu dengan atap jerami, ada pula yang dari kayu. Kemudian sebuah aula besar untuk berkumpul dan sebuah rumah penampungan yang luas.

__ADS_1


Para pria tua tampak sedang bermain catuh di bawah pohon ek yang terletak di seberang gereja Pastor Kenwood.


Menara gereja itu terlihat berkilauan di bawah langit biru. Kemudian habis sudah, hanya itu saja, dan Trevor senang ia tadi tidak bersin-bersin, karena ia pasti akan melewatkan semuanya.


Meninggalkan pusat keramaian Thistleton, atau Thimbleton, nama baru Trevor untuk desa itu, ia teurus berkendara bersama seorang agen properti yang menunjukkan arah sedikit ke selatan, dekat salah satu jalan masuk ke desa itu.


Sungai dengan aliran airnya yang tidak begitu deras membelah petak-petak lahan pertanian yang dipisahkan oleh pagar tanaman, dan mereka melewati jembatan tua bergaya Romawi untuk melintasi sungai itu.


Kemudian kereta mereka terus bergerak, sampai agen properti itu mengatakan kepada Trevor untuk membelokkan keretanya ke kanan. Tidak ada gerbang atau penanda, namun kata pria itu mereka sekarang sudah sampai di estat yang akan di jual tetsebut.


Agen itu memberitaukan kepada Trevor bahwa pemilik terdahulu, Kolonel Avery, adalah seorang pria tua yang eksentrik yang menggunakan kekayaannya untuk membangun sebuah resimen, namun tidak pernah kembali lagi semenjak ikut perang. Grange terbengkalai sejak saat itu.

__ADS_1


Jadi, di sinilah Trevor sekarang.


Angin berdesir di antara hamparan rumput yang tinggi dam berbisik di antara rindangnya pepohonan. Burung-burung bernyanyi dan berkicau, di latar belakangnya Trevor dapat mendengar gemericik air sungai yang tiada henti, namun selain suara itu, tempat ini cukup tenang, hingga Trevor hampir bisa mendengar dengungan lebah madu yang berjarak beberapa meter darinya.


__ADS_2