My Notorious Gentleman

My Notorious Gentleman
#39


__ADS_3

Dan di tambah lagi, Grace harus mengakui, sepertinya memang gaya pria itu untuk bersikap kurang sopan dengan pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan, khususnya setelah pria itu tersenyum kepadanya dengan penuh kasih sayang.


Tentu saja, pria itu memang mengatakan kepada Callie bahwa ia tidak ingat pernah bertemu dengan Grace...


Grace tidak tau apa yang harus dipikirkannya, tapi ia sangat kesal sekali karena hal itu sangat mengganggunya.


Untungnya, kehadiran ayahnya yang menenangkan, juga pembicaraan mereka tentang hal-hal sederhana membuat Grace dapar merasakan kembali kenormalan dari kehidupannya di desa dan melupakan harinya yang melelahkan.


Setelah beberapa saat, ia kembali menjadi dirinya sendiri, yang larut dalam pekerjaan rutinnya di malam hari.


Ketakutan yang konyol dan sangat tidak dewasa itu hampir merenggut selera makannya, tapi ia begitu menyimpulkan bahwa mata-mata kelas dunia itu telah melupakan dua orang yang tidak penting di desa ini.


Seperti sang pastor dan putrinya yang terlalu jangkung, Grace memutuskan untuk melupakan pria itu juga. Akhirnya, ia dapat menikmati makanannya. Tidak ada seorang pria yang pantas membuatnya pusing sementara ada ayam yang lezat terjadi di atas meja makan. Masalah pria itu nanti saja dipikirkan.


Grace tentu saja merasa kecewa dan juga terabaikan, tapi kekecewaan lebih baik daripads terobsesi pada seseorang pria yang hampir tidak dikenalnya. Keputusan pria itu mengenai Grange adalah urusan pria itu sendiri.


Di mana agen Ordo itu nantinya akan menancapkan jangar sebagai pelabuhan terakhirnya, itu pun jika ia melakukannya, sama sekali tidak ada kaitannya dengan Grace.


Jika akhirnya pria itu pindah kemari, Grace akan menjadi tetangga yang baik, tapi reaksi semacam ini, yang dirasakan Grace terhadap pria itu, benar-benar reaksi yang tolol dan harus dihentikan.

__ADS_1


Kembali menjadi dirinya yang tenang dan penuh kendali, Grace berusaha menikmati makanan yang khusus ia minta dibuatkan untuk tamu mereka yang tidak datang.


Makanan itu sangat lezat, dan sayang sekali Lord Trevor melewatkannya. Bagaimanapun, Grace merasa heran kenapa putra seorang duke bisa memiliki tata krama seburuk itu.


Akhirnya, ia dan ayahnya selesai makan dab beranjak keteras untuk menikmati udara malam. Mereka duduk di tempat biasanya, di luar, di kursi kayu, mengobrol dan menyaksikan lentera-lentera yang tergantung di dekat pondok penggembala.


"Aku penasaran apakah George akan bersikap lebih baik setelah nasehatmu yang terakhir kali itu," ujar Grace, dan tepat pada saat itu, ketika akhirnya ia berhasil mengalihkan pikirannya dari Lord Trevor Montgomery, pria itu akhirnya tiba.


Grace langsung berubah kaku dan jantungnya langsung terlonjak ketika ia mendengar dari kejauhan sura ketukan sopan di pintu.


Ia mencengkram lengan kursinya untuk menghentikan diri agar tidak melompat dan membukakan pintu sendiri. Itu tidak akan terjadi.


Tapi memang benar seperti itu, sikap sopan dan penuh tata krama pasti akan lebih disenangi oleh seorang pahlawan nasional seperti Lord Trevor.


Mrs. Flynn membukakan pintu dan beberapa saat kemudian, muncul di teras belakang bersama dengan tamu mereka. Papa berdiri untuk menyambut pria itu.


"Aha, Montgomery! Akhirnya kau datang juga! Kami sudah menunggumu dari tadi, senang bertemu lagi denganmu, Anakku "


"Aku minta maaf karena datang selarut ini, Pastor. Sebenarnya aku tidak berniat untuk mengganggumu dan Miss Kenwood pada jam-jam seperti ini, tapi aku hanya ingin mampir sebentar..."

__ADS_1


"Omong kosong," Papa langsung memotongnya.


"Tidak perlu minta maaf. Kami senang akhirnya kau bisa kemari. Apa kau sudah makan?"


"Sebenarnya belum," aku Lord Trevor penuh sesal, "Aku belum sempat..."


"Ah, terpikat dengan dari gelagapan oleh aroma lezat, ya?" goda Grace sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Mrs. Flynn, maukah kau membawakan piring untuk tamu kita?"


"Sebenarnya, aku tidak ingin merepotkan..."


"Sama sekali bukan masalah, Sir," ujar wanita tua itu kepada Lord Trevor.


"Miss Kenwood sudah menyiapkan sepiring makanan untuk mu, untuk berjaga-jaga."


Lord Trevor terdiam, seolah terkejut karena diperlakukan seperti anggota keluarga dibandingkan seorang tamu.


"Kalian baik sekali," uajrnya kepada mereka semua sambil tersenyum ragu.

__ADS_1


"Sikahkan duduk." Ayah Grace menunjuk ke kursi.


__ADS_2