My Notorious Gentleman

My Notorious Gentleman
#54


__ADS_3

Kedua bocah nakal itu terus berjalan, tapi kemudian mereka juga berhenti dan menoleh ke belakang untuk melihat kenapa guru Sekolah Minggu mereka terdiam di belakang.


Trevor memucat ketika ia melihat Grace mengepalkan kedua tangan di sisi badannya. Seolah dalam hati Grace sedang berdebat, dan perlahan wanita itu membalikkan badan.


Grace kembali berjalan ke arah Trevor sendirian.


"Alasan kenapa kedua bocah itu berkeliaran di desa ini tanpa tujuan, Lord Trevor... alasan kenapa orang tua mereka tidak bisa melakukan tugas sebagaimana semestinya... karena ayah mereka sudah meninggal, dan ibu mereka sakit parah. Wanita itu benar-benar terpuruk dalam duka saat mendengar suaminya meninggal di medan perang."


Ah, sialan pikir Trevor.


Grace melangkah semakin dekat ke arah Trevor dengan tatapan murka, malaikat penuntut balas dalam balutan gaun tidur, mata birunya tampak menyala dengan teguran.


"Aku minta maaf. Aku tidak tau," gumam Trevor.


Tapi sepertinya wanita itu sudah tidak dapat menahan lidahnya.


"Seberapa banyak yang diceritakan agen properti itu mengenai Kolonel Avery?" tuntut Grace.


"Pemilik Grange sebelumnya?" Trevor mengangkat bahu, sebagai pembelaan.


"Tidak banyak. Dia bilang pria itu seorang perwira kavaleri, eksentrik di usianya yang sudah tua."


"Tepat seperti yang sudah kuduga. Agen itu meninggalkan bagian terpenting." Grace memaku Trevor dengan tatapan tajamnya.


"Asal kau tau, Kolonel Avery bertekad kuat untuk membangun resimen dari tempat ini. Seratus pria bergabung dengannya, setengah di antaranya berasal dari Thistleton. Sepuluh persennya masih muda, sisanya adalah kepala keluarga."

__ADS_1


Trevor memejamkan matanya, karena sekarang ia sudah dapat langsung menyimpulkannya.


"Ben Nelcott adalah salah satu diantaranya," lanjut Grace.


"Ayah dari anak-anak tadi dan gadis kecil yang kemarin kau beri bunga. Pria itu tidak pernah pulang lagi. Hanya segelintir dari mereka yang masih bertahan hidup Pria tua itu membuat sebagian dari mereka terbunuh. Avery menjual nyawa mereka dalam sebuah ' pertarungan hebat ' melawan Monster, yang membuat mereka merasakan sebuah petualangan, yang pada akhirnya hanya membuat desa ini hancur dan banyak keluarga kehilangan anggota keluarga mereka, untuk apa? Tidak lebih hanya untuk memuaskan egonya belaka."


"Aku ikut menyesal," gumam Trevor, namun Grace mengabaikannya.


"Mereka berdua anam yatim," tegas Grace sekali lagi,


"dan jika aku mendengar sekali lagi kau berteriak kepada anak-anak itu seperti tadi, kau bisa langsung mencoret namaku dari daftar temanmu... untuk selamanya."


Grace kemudian meninggalkan Trevor dalam kesunyian yang ia kira sangat diinginkannya. Sialan, hari ini dimulai dengan awal yang buruk dan malah menjadi semakin parah.


Tidak ingin hal itu berakhir seperti ini, dan juga tidak ingin merendahkan diri setelah apa yang dialaminya dengan wanita lain, Trevor berteriak dari belakang untuk menanyakan sebuah pertanyaan terakhir.


"Bagaiman denganmu, Miss Kenwood?" nada suara Trevor terdengar lebih kasar daripada yang diniatkannya, hasil dari bertahun-tahun menghabiskan waktu di antara para prajurit pria.


"Apakah kau juga punya seseorang yang dekat denganmu ikut dengan kolonel itu dan tidak pulang? Apakah itu sebabnya kau masih tinggal dengan ayahmu?"


"Aku, mencintai seorang tentara?" Grace berputar, terlihat kesal dengan pertanyaan Trevor yang lancang itu.


"Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah bisa mencintai orang yang mata pencahariannya adalah dengan membunuh orang lain."


Cara Grace menatap mata Trevor ketika wanita itu menjawab membuat semuanya menjadi jelas. Trevor sama sekali tidak punya kesempatan dengannya.

__ADS_1


Bukan berarti ia sedang mencari kesempatan itu. Benar, kan?


Terdiam, Trevor menjatuhkan pandangannya.


"Tentu saja tidak."


Bayangan indah apa pun yang Trevor miliki mengenai Grace Kenwood, jelas sekali kalau wanita itu tidak akan pernah bisa menerima inti dari dirinya, siapa dirinya atau apa dirinya dulu.


Baiklah kalau begitu.


Grace meraih masing-masing tangan si kembar dan berjalan bersama mereka.


Ketika Trevor melihat mereka berjalan menjauh, meninggalkannya sendirian, seperti yang diinginkannya tadi, ia mendongakkan kepalanya kebelakang dan menatap langit.


Rasanya terlalu berlebihan membayangkan ide itu itu. Lagi pula, sepertinya itu ide yang bodoh, Trevor berkata kepada dirinya sendiri. Grace bahkan tidak cocok di kelasnya. Wanita itu tidak akan pernah bisa masuk ke dunianya.


Meskipun sebenarnya Trevor juga tidak pernah cocok.


Trevor menghela napas. Ah, sudahlah. Ia memang menginginkan kesendirian.


Kelihatannya keinginannya itu telah benar-benar terwujud.


Follow akun instagram author :


@finkyalchaxiel

__ADS_1


__ADS_2