
"Karena dia membosankan!" jawab Miss Windlesham sambil tertawa riang, seperti anak kecil yang senang mengolok-ngolok pengasuhnya.
"Membosankan? Tidak," protes Trevor.
"Aku yakin tidak begitu..."
"Well, dia pemalu," ralat Miss Windlesham.
"Jangan salah sangka, Miss Kenwood adalah wanita yang baik, lembut, penyayang, dan bijaksana. Dia selalu dapat diandalkan. Dia hanya... well, sedikit agak kuno!"
"Begitu." Anehnya, biasanya dengan cara seperti itulah Beau dan Nick menggambarkan Trevor semenjak mereka masih bocah.
Gadis yang bersikap di buat-buat ini mengangguk penuh semangat.
"Saat aku mengatakan kepadanya kalau aku akan datang kemari untuk menyambut kedatanganmu di desa ini, dia bilang kalau aku sebaiknya tidak mengganggumu!"
"Benarkah dia bilang begitu?"
Semoga Tuhan memberkatinya.
"Ya! Bukankah itu tidak sopan? Tapi aku tau kalau dia pasti akan mengikutiku," tambah Miss Windlesham sambil menyeringai.
Trevor sudah tidak lagi memedulikan permainannya dan menatap tajam ke arah gadis itu.
"Aku senang dia datang." Kemudian ia berjalan meninggalkan gadis itu di belakangnya untuk menyambut Grace yang sudah hampir sampai.
__ADS_1
Merasa lelah setelah menggendong gadis kecil itu, Grace menurunkannya sekali lagi ketika Trevor berjalan mendekat ke arah mereka.
Miss Windlesham mengikuti Trevor dari belakang, hanya berjarak beberapa meter.
Bahkan sebelum jarak mereka cukup dekat untuk bisa saling mendengar. Trevor dan Grace sudah berjalan menuju satu sama lain sambil tersenyum lebar penuh kasih sayang.
Grace melambai ke arah Trevor, kemudian menyuruh si gadis kecil melakukan hal yang sama.
Trevor merasa hatinya seperti terisi penuh akan kegembiraan saat melihat rambut pirang Grace yang tertimpa cahaya matahari melambai-lambai dalam hembusan angin.
Angin sejuk yang bertiup sepoi-sepoi membuat rok pastel Grace berkibar-kibar ketika berjalan dengan cepat melangkahi rumput-rumput tinggi, hingga rerumputan itu terlihat menari-nari.
"Kita bertemu lagi, Miss Kenwood!" seru Trevor ketika ia bergegas berjalan menuju ke arah putri sang pastor dan teman kecilnya.
"Lord Trevor Montgomery!" jawab Grace dengan nada gembira, menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
Akhirnya, mereka bertemu lagi di jalanan berdebu di dekat Grange dan saling menatap penuh kegembiraan selayaknya teman lama.
Rasanya aneh sekali, bagaimana kau bisa bertemu dengan seseorang dan merasa seolah kau sudah mengenal orang itu sepanjang hidupmu.
Trevor mengangguk dan menaruh kedua tangannya didalam saku, sekujur tubuhnya menghangat karena kehadiran wanita itu.
"Aku tidak yakin kau mau datang."
"Begitu pula denganku."
__ADS_1
"Well... senang bertemu lagi denganmu," ujar Grace dengan malu-malu.
"Kami sungguh minta maaf karena telah mengganggu waktumu..."
"Aku tidak merasa terganggu sama sekali. Sebenarnya, ini agak tidak terencana. Tapi ayahmu telah berhasil membangkitkan rasa penasaranku." Trevor mengangkar bahu.
"Selain itu, aku tidak akan bisa lama-lama tinggal di London, karena tempat itu sudah mulai membuatku gila."
"Ah, aku paham sekali apa maksudmu, ujar Grace sambil tertawa penuh pemahaman. Wanita itu sepertinya terlihat gugup ketika bertemu lagi dengannya, dan itu membuat Trevor makin menyukai Grace.
"Well? Bagaimana pendapatmu?" tanya Grace mengangguk ke arah rumah tua yang tak terawat, yang berada di belakang Trevor.
Trevor menoleh ke belakang kemudian menatap lurus ke kedalaman mata Grace.
"Cukup menjanjikan," ujarnya.
Grace membalas tatapan Trevor dan selama sesaat wanita itu terlihat linglung.
Miss Windlesham tidak senang dilupakan begitu saja.
"Kau lihat, Grace?" seru gadis itu ketika berhasil mengejar Trevor dan bergabung bersama mereka.
"Lord Trevor tidak menggigit."
"Kau tidak tau pasti," tukas Trevor, dan Calpurnia terkikik, namun sebenarnya Trevor menunjukkan perkataan itu untuk merayu Grace.
__ADS_1
"Kulihat kau sudah bertemu dengan Miss windlesham yang cantik, bunga desa kami," ujar Grace tanpa nada menyndir, yang mengejutkan Trevor.