
Grace tetap di tempat duduknya dan mengangguk sedikit ketika Trevor membungkuk kepadanya.
"Miss Kenwood."
"My Lord," balas Grace, berusaha sekuat tenaga untuk melawan semua perasaan liar yang selalu dapat ditimbulkan pria ini terhadap dirinya.
"Apa kau mau makan santai di sini atau kita kembali ke meja makan?" tanya Grace.
"Di sini sempurna," jawab Trevor.
"Malam yang indah."
"Benar sekali. Tolong bawakan piringnya ke sini, Mrs. Flynn."
"Aye, Miss." Juru masak itu mengangguk, berseri-seri kepada tamu tampan mereka, kemudian pergi ke dapur untuk mengambilkan makanannya.
Papa kembali duduk, dan Lord Trevor mengambil tempat di hadapan kursi Grace.
Grace bersyukur cahaya bulan menyembunyikan rona wajahnya, yang sekarang pasti makin merona, namun ia sangat menyadari keahdiran pria itu, bahu yang lebar, kehangatan yang menguar dari tubuh besar yang berotot. Juga aroma Trevor. Pria itu beraroma matahari dan debu kemaskulinan.
"Well, Anak muda? Jangan biarkan kami terus menduga-duga. Bagaimana keputusanmu terhadap Grange? Aku khawatir putriku bisa meledak jika kau tidak mengatakannya kepada kami sekarang."
"Papa!"
__ADS_1
Trevor bersandar di kursinya, menutupi senyumannya dengan tangan sambil menatap Grace.
"Begitu, ya?"
"Tidak! Aku yakin kalau hal itu tidak ada kaitannya denganku," tukas Grace, namun ia bisa melihat kalau Trevor dapat melihat binar di matanya.
Lord Trevor hanya menatap Grace seolah pria itu memiliki seluruh waktu di dunia ini.
"Oh, ayolah!" perintah Grace akhirnya.
Lord Trevor menyeringai.
"Teman-temanku, sekarang kalian sedang berhadapan dengan pemilik Grange yang baru."
Grace terkesiap keras, mengangkat jemarinya ke mulut, dan menatap Lord Trevor dengan takjub.
Hal ini benar-benar terjadi. Grace hampir tidak daapt memercayainya.
Setelah penantian selama sepuluh hari dan bertanya-tanya apakah ia akan bisa bertemu lagi dengan pria itu, belum lagi beberapa jam yang yang lalau yang begitu menyiksanya, Grace benar-benar sulit untuk dapat memercayai Trevor bahwa Lord Trevor Montgomery akan menjadi tetangga barunya.
Dan pastinya, kehidupan di Thistleton tidak akan pernah sama sekali.
Ketika Lord Trevor menatap Grace, dahi pria itu berkerut bingung melihat sikap diamnya, dan Grace buru-buru menemukan suaranya.
__ADS_1
"Selamat," Grace memaksakan suaranya keluar dengan tenang.
"Wah, terima kasih, Miss Kenwood." Kemudian Lord Trevor menoleh kepada ayah Grace.
"Beberapa dokume lama yang kami butuhkan hilang. Itulah yang menyebabkan urusannya menjadi lama. Tali kurasa sekarang sudah selesai semua urusannya."
"Melihat betapa tuanya properti itu, aku tidak heran," ujat Papa.
"Grange membutuhkan seseorang seperti dirimu, Montgomery. Dengan energi muda, sumber-sumber yang memadai, serta waktu yang bisa kau sediakan untuk mengerjakan proyek itu."
"Terima kasih. Rumah itu memang membutuhkan banyak perbaikan, tentu saja, tapi aku benar-benar menantikan tantangannya. Desa kalian indah sekali"
"Memang nyaman sekali di sini, kan?" sahut ayah Grace setuju, garis tawa di wajahnya tampak terbayang karena cahaya lampu.
"Dari semua Desa yang pernah kubimbing, desa ini adalah satu-satunya tempar kami merasa lebih seperti berada di rumah. Benar kan, Grace?"
"Ya, Papa," ujar Grace datar sambil mengangguk. Namun ia masih saja tidak dapat mengenyahkan perasaan tidak percayanya. Apakah ini mimpi? Rasanya seperti tidak nyata.
"Sekaran, pasti kau sudah tau, jika ada yang kau butuhkan. Kami akan membantu kau dengan senang hati. Tempat kami tidak begitu jauh dari tempatmu. Datanglah kapan saja."
"Dan begitu pula untukmu dan putrimu, Pastor. Justru kenyataannya, kalian menjadi sebagian alasan kau ada di sini. Aku akan kembali lagi ke London untuk membuat beberapa pengaturan mengenai kepindahanku. Aku ingin tau apakah ada yang mungkin kalian berdua butuhkan dari London?"
"Wah, kau benar-benar perhatian sekali, tapi menurutku kami baik-baik saja. Grace?" tanya ayahnya.
__ADS_1
Perhatian dan tawaran pria itu yang sangat baik sekali membuat Grace tersentak dari lamunannya.
"Um, tidak ada. Terima kasih."