
Trevor masih memikirkan tentang Grace ketika ia sampai di London keesokan harinya.
Hampir tiga jam ia mengobrol bersama mereka di teras belakang kediaman sang pastor malam sebelumnya.
Baru tengah malam ketika akhirnya ia pamit dari rumah mereka, dan langsung menempuh perjalanan ke London di tengah kegelapan malam.
Sang pastor dan putrinya sudah memperingatkannya bahwa itu adalah perjalanan yang berbahaya, tapi Trevor menyakinkan mereka bahwa ia sudah terbiasa dengan petualangan semacam itu.
Sekarang setelah kembali ke London, polisi suara, asap, dan keriuhan orang yang berlalu-lalang benar-benar membuat Trevor merasakan kekontrasannya dengan desa yang tadi dikunjunginya.
Bukannya langsung pulang, Trevor malah langsung mengarah ke Mayfair untuk menceritakan kepada Beauchamp tentang lahan pertanian yang baru dibelinya.
Ketika Trevor memperlambat laju keretanya untuk kemudian berhenti di depan town house cantik yang sudah lama dimiliki teman sekaligus ketua kelompok mereka, rasanya masih saja tetap aneh bagi Trevor ketika ia mendapati dirinya disambut oleh istri baru Beau.
Sebastian Walker, Viscoumt Beauchamp, dan si mungil berambut merah, Carissa, baru saja beberapa bulan ini menikah. Berkat Nick ( si ******** ), Trevor tidak dapat menyaksikan pernikahan mereka.
"Akhirnya kau datang juga!" Carissa menarik lengan Trevor dengan penuh kasih sayang.
"Semua orang bertanya-tanya kau di mana!"
"Kukira hari-hari di mana aku harus selalu melaporkan keberadaanku kepada Ordo sudah selesai."
"Tidak akan pernah! Ayo masuk. Dia ada di atas."
Trevor mengikuti Lady Beauchamp ke lantai tiga hingga ia menemukan saudara seperjuangannya yang terlihat sedang sibuk mengepak pakaian ke dalam koper.
"Ya ampun, Bung, apakah di sudah mulai mengusirmu dari rumah ini?"
__ADS_1
Beau menoleh ke belakang dan menyeringai. "Well, lihatlah siapa yang datang."
"Apa kau hendak bepergian?"
"Aku berutang jalan-jalan ke Paris kepada istriku. Kami akan berangkat besok pagi."
"Oh, aku sudah tidak sabar!" Carissa menghampiri Beau sambil menunjukkan keceriaan seperti anak-anak.
"Kami akan bersenang-senang di sana! Kau suami terbaik di dunia ini."
"Jangan kaget kalau pulang nanti aku jadi bangkrut," gerutu Beau.
"Gara-gara berbelanja di sana, kau paham, kan?"
"Ayolah, kau sudah berjanji akan membawaku berlibur begitu urusanmu dengan Ordo selesai," balas Carissa.
"Ya, memang benar. Dan kau benar-benar sabar dalam menantikkannya, sama sekali bertolak belakang belakang dengan sifat keseharianmu.
"Oh, ayolah, aku hanya bercanda," gumam Beau, mencondongkan badan untuk mengecup bibir istrinya.
Trevor memalingkan wajahnya merasa tidak nyaman. Sepanjang hidupnya, Trevor tidak pernah membayangkan seorang pria perayu wanita seperti Beauchamp akan berakhir menjadi pria yang terlebih dahulu menikah dibandingkan dirinya.
"Jadi, Trevor, kau datang untuk menghadiri pesta perpisahan kami di kediaman Max dan Daphane, kan?" tanya Beau. Trevor terlihat ragu.
"Tentu saja dia akan datang!" seru Carissa.
"Dia tidak akan melihat kita lagi selama tiga bulan! Lagi pula, Daphane selalu berhasil mengadakan acara makan malam yang luar biasa. Semua kenalan kita akan ada di sana."
__ADS_1
Trevor merasa pedih membayangkan ke lima pasangan yang berbahagia itu, masing-masing dari mereka saling jatuh cinta, duduk mengelilingi meja, dan ia hanya sendirian.
Mengingat acara terakhir yang didatanginya sepertinya ide itu benar-benar menyiksa.
Ya, ia lebih baik makan malam bersama Nick di sel penjara pria itu.
"Datanglah jam delapan. Tidak perlu berpakaian formal." Setelah menghitung jumlah kemeja yang disiapkan pelayan laki-lakinya, Beau menoleh ke belakang dan melihat ekspresi Trevor yang tegang.
Sorot penuh pengertian langsung terlihatdi wajah Beau, yang diikuti dengan sorot kesal.
"Kau tau, istri Jordan, Mara, dia punya teman bernama Delilah yang sudah menjanda, yang bisa kami undang juga untuk menjadi pasanganmu di sana..."
Trevor mendengus dan memalingkan wajah sementara Carissa terkesiap dengan penuh simpati.
"Oh, Trevor, maafkan aku! Kami semua benar-benar tidak berperasaan! Kami hanya berpikir saat ini kau sudah bersama Laura. Ya, biarkan kami mengundang Delilah... dia sangat cantik dan menyenangkan, atau kau mau kukenalkan dengan bibi Josephine ku. Tentu saja dia agak sedikit lebih tua darimu, tapi tidak terlali jauh. Aku jamin kau pasti akan menganggapnya menarik."
"Benar, kan?" tambah Beau.
"Banyak wanita cantik dan memesona yang bisa kau pilih. Jadi mana yang lebih kau sukai? Atau apa kami perlu mengundang kedua-duanya?"
"Lakukan, dan aku akan membunuhmu," balas Trevor ketus.
Beau dan Carissa saling bertukar pandang dengan ekspresi terkejut, kemudia mereka berdua terlihat bingung sambil menatap Trevor.
Trevor mengertakkan giginya menahan kekesalan. Ia tau teman-temannya hanya berusah membantu.
Tapi tetap saja, itu tidak membantu.
__ADS_1
"Tapi kau harus datang ke pesta perpisahan kami," Carissa mendesak Trevor dengan lembut.
"Bagaimana seandainya kapal kami tenggelam? Bagaimana kalau saat ini adalah saat terakhir kalinya kau bisa bertemu dengan kami?"