
Bitsy Nelcott, berusia empat tahun, tampak senang Miss Grace mau mendengarkan ceritanya, tapi mungkin ia akan sama senangnya menceritakan tentang bebek yang berenang-renang di sungai kepada dirinya sendiri, atau setidaknya pada si kucing.
Grace merasa geli melihat si gadis kecil itu, melupakan kesedihannya tentang wortel-wortel kecilnya, kacang polong yang tidak begitu besar, dan lobak-lobak yang busuk.
Bahkan tanaman yang biasanya tumbuh baik dalam cuaca dingin itu sekalipun tidak dapat berkembang dengan baik.
Grace menghela napas. Bukannya ia punya kendali atas semua itu, jadi untuk apa repot-repot memusingkannya? Seperti yang dikatakan Papa, mereka semua hanya perlu merasa yakin.
Bitsy terus meracau. Setelah mengibaskan baju cokelatnya yang berantakan dan penuh dengan bulu-bulu kucing, ia berputar-putar dan menari di ubin batu yang dihangatkan matahari di sebelah kebun Grace.
"Dia berenang diikuti lima anaknya, tapi kapal lewat, dan aku takut sekali! Kupikir mereka akan terlindas!"
"Oh, tidak!" seru Grace.
"Apa mereka berhasil keluar dari sungai tepat waktu?"
"Ya! Mama bebek itu terus berenang, mendorong anak-anaknya dengan mulutnys. Seperti ini!" Bitsy memperagakan gerakannya, mengangguk-anggukan kepalanya, tangannya ditekuk di samping seperti sayap.
Grace merapatkan bibirnya agar tidak tertawa melihat pertunjukkan yang sangat serius itu.
Kemudian Bitsy berhenti dan menatap Grace dengan mata besarnya yang tampak ketakutan.
"Mereka bahkan tidak punya ayah untuk membantu mereka," jelas Bitsy.
Grace berhenti sejenak dari aktivitas berkebunnya dengam sedih.
"Kenapa mereka tidak punya?" tanya Grace dengan lembut.
"Apa yang terjadi dengan ayah mereka?"
__ADS_1
Bitsy menatap Grace dengan sedih.
"Dia terbang meninggalkan mereka."
Mata Grace hampir tergenang dengan air mata.
"Tapi, bayi-bayi bebek itu setidaknya aman. Mama mereka menjaga dengan baik," Grace menyakinkan bocah yang juga anak yatim akibat perang itu.
Bitsy hanya mengangkat bahunya, dan berputar-putar lagi, tapi setidaknya gadis itu sudah terbiasa dengan fakta bahwa ayahnya tidak akan pernah pulang.
Membusuklah kau di neraka, Kolonel Avery, pikir Grace.
"Di mana kakak-kakakmu hari ini?" tanyanya.
"Sedang berpetualang."
"Lagi?" seru Grace.
Si kembar yang berusia sembilan tahun, Kenny dan Denny Nelcott, berpetualang di sekitar lahan pertanian seperti sepasang anak rubah bandel, dan saat mereka tidak terkena masalah, mereka akan mengerjai orang lain.
Mereka berisik dan aktif seperti anak laki-laki pada umumnya, tapi Grace mulai mencemaska mereka sekarang, karena mereka juga tidak punya ayah.
"Apa kau tau mereka berpetualang ke mana hari ini?" tanya Grace sambil mencabuti rumput, tapi Bitsy sepertinya tidak mendengarkan.
"Lihat!" seru Bitsy, jari gemuknya menunjuk ke arah jalan masuk.
"Ada yang datang!"
Oh, tampaknya memang orang yang datang.
__ADS_1
Grae berdiri di sampin tanamannya dan menarik sarung tangan berkebunnya hingga terlpas, lalu berbalik untuk mendapati Miss Calpurnia Windlesham sedang melewati jalan yang dinaungi pepohonan menggunakan kereta kuda kecilnya dengan kecepatan tinggi.
Grace terkikik sendiri. Apa lagi sekarang?
Mungkin Calpurnia sudah mendengar dari George. Yang kemungkinan besar begitu, mengingat tidak ada tanda-tanda sama sekali dari Lord Trevor Montgomery semenjak pesta keluarga Lievedon dua minggu yang lalu. Keliatannya pria itu tidak begitu tertarik dengan Grange ataupun Thistleton.
Ataupun aku.
Jika Lord Trevor tertarik, mereka pasti sudah mendengar kabar dari pria itu sekarang.
Mungkin Grace terlalu sensitif jika menyangkut putra sang duke itu, pria yang telah menjadikannya sebagai objek ciuman pria itu yang dapat dikatakan cukup kasar, kemudian menganggapnya sebagai 'pengalihan', entah itu menyenangkan atau tidak.
Karena itulah selama beberapa hari ini Grace mengerahkan usaha terbaiknya untuk menjauhkan pria itu dari pikirannya.
Sedangkan soal Grange, jika dipikir lagi, pria itu mungkin hanya berusaha bersikap sopan dengan menunjukkan sedikit ketertarikan untuk datang dari London ke tempat itu.
Sementara itu, Grace bahkan sudah berpikir untuk menjodohkan pria itu dengan Calpurnia, seperti layaknya ibu-ibu yang suka ikut campur urusan anaknya.
Tidak diragukan lagi Callie akan berakhir dengan George. Memang sudah begitulah suratannya. Mereka berdua sudah menjadi teman sekaligus musuh sejak masih anak-anak, dan setelah dewasa mereka menjadi pasangan yang serasi, sama-sama keras kepala dan sama-sama dimanja.
Mereka saling memahami safu sama lain, bahkan beberapa orang akan mengatakan bahwa mereka pantas untuk satu sama lain. Ya, sepertinya memang begitu.
Geore dan Callie pasti telah berbaikan.
Konyol sekali Grace merencanakan jodoh lain untuk untuk gadi itu, tentu saja desa Thistleton yang kecil ini tidak akan pernah mampu merengkuh seseorang yang memiliki jiwa besar dan berani seperti Lord Trevor Montgomery, seorang petualang misterius dan berbahaya yang mengintai wanita-wanita cantik berambut pirang.
Pria semacam Lord Trevor adalah sebuah legenda, setidaknya begitulah di mata Grace, sementarabThistleton tidak lebih dari sebuah desa biasa. Pria itu akan mati kebosanan jika tinggal di sini.
"Grace!" Dengan rambut emas berayun-ayun dibawah topi yang lebar, Callurnia menarik tali kekang kudanya agar berhenti tepat di luar pekarangan dan melompat turun dari kereta, lebih mirip seperti prajurit Yunani dibandingkan seorang debutan.
__ADS_1
"Grace, Grace, Grace!"
"Di sebelah sini, Sayang!" Grace melambai ke arah gadis itu dari kebun sampingnya.