
Oh, tidak. Hati Grace menciut. Setelah berhati-hati kembali ke ruang dansa, ia sampai di depan pintu ruang kartu dan mendapati bahwa George entah lupa dengan dansa mereka atau menerima tantangan bermain kartu dari yang lain.
Grace hanya dapat melihat dari kejauhan, dengan penuh kecemasan, ketika putra sang marquess itu kembali menceburkan diri pada hobi berbahaya di atas meja judi.
Sepertinya mereka sedang bermain whis, dan jika memainkan model yang lama, berarti Grace tidak akan dapat bertemu lagi dengan George hingga penghujung malam ini.
Kecuali aku memeberitaukannya pada Papa.
Ya, itu adalah solusi terbaik. Belum teralalu lama waktu berlalu, George mungkin saja keranjingan kembali dengan hobi buruknya ini.
Jika ada orang yang bisa menarik George kembali ke jalan yang benar, itu tidak lain adalah Pastor Kenwood yang baik dan tenang.
Sejujurnya, Grace tidak percaya kalau George berani bermain kartu sementara Papa Grace ada di sini, tapi hanya Tuhan yang tau apa yang akan terjadi jika sang marquess sendiri yang menemukan anaknya terlebih dahulu
Lord Lievedon sudah melarang putranya untuk melakukan permainan yang berbahaya ini. Tapi ditempat inilah George berada sekarang, melakukan apa yang membuatnya senang, tepat di depan mata ayahnya. Benar-benar Lord Bratford. Mungkin ini merupakan salah sartu cara pria itu untuk menarik perhatian ayahnya...
Grace mengggeleng gelisah, kemudian beranjak dari ambang pintu untuk mencari papanya. Sambil berjalan, ia mengambil segelas wine dari nampan pelayan dan menenggak banyak-banyak untuk memberinya kekuatan, karena ia masih terguncang kenikmatan penuh dosa yang baru dilaluinya.
Ketika bergegas menembus kerumunan, Grace terkejut mendapati kepuasan yang dirasakannya saat melewati para wanita bangsawan glamor yang tadi mengerubuti pahlawan ordo itu. Tidak baik membual kalau dirinyalah yang diam-diam telah memenangkan ciuman dari Lord Montgomery, dan hal itu sebaiknya tetap dipertahankan sebagai rahasia. Ia sudah bekerja keras selama ini untuk mendapatkan reputasi yang baik sebagai seorang teladan, dan ia berniat untuk mempertahankannya.
Sambil mengusir kenangan kenikmatan itu, Grace membuang jauh mantan mata-mata tersebut dari pikirannya.
__ADS_1
Itu Papa. Berjinjit, Grace melihat ayahnya di dekat salah satu meja makanan, sebelum sekelompok orang kembali membuat ayahnya tak tampak dari pandangan.
Grace mulai bergerak mengahampiri ayahnya, menyesap wine-nya sekali lagi agar tidak tumpah mengenai badanya tau orang lain.
Ketika Grace sampai di dekat kelompok itu, sang pastor ternyata tengah terlibat pembicaraan serius dengan beberapa orang pria. Terkadang Grace merasa iri dengan kemampuan ayahnya yang cepat akrab dengan orang lain kemana pun mereka pergi.
Hal itu tidaklah mudah bagi Grace, terlebih dengan sikap pemalunya.
Grace masih berdiri di dekat kelompok pria itu ketika ia mendengar ayahnya berbicara lagi, seorang pembicara yang sempurna dalam berbagai macam topik yang berbeda.
"Jika kau mahir dalam hal itu, My Lord, aku tau properti yang pas sekali untuk kau pertimbangkan," ujar ayah Grace.
"Di desa kami di Leicestershire, di dekat tanah milik Lord Lievedon, ada sebuah rumah pertanian di sana yang disebut Grange. Sekarang tempat itu terbengkalai sejak pemilik terdahulunya meninggal dan butuh tangan andal untuk bisa membuatnya hidup kembali. Aku sudah pernah ke dalamnya," lanjutnya.
"Dan apa nama Desamu, Pastor?" tanya salah seorang pria lain di dekatnya.
"Thistleton. Grange memiliki area paling subur di daerah Midland." sang Pastor meneguk minumannya dan melanjutkan.
"Rumah itu terletak di kaki bukit, menghadap ke utara, tempat yang sangat strategis. Dan ladangnya terbentang panjang, yang dapat ditumbuhi oleh banyak sekali tanaman dalam setahun. Padang rumputnya juga sangat pas untuk beternak sapi, kuda, bahkan domba. Di sana juga ada kebun buah, yang terurus baik, dan sebuah kolam yang penuh ikan. Si kolonel tua dulunya sangat senang memancing di sana."
"Kedengarannya kau seperti ingin membeli Grange, Pastor."
__ADS_1
Sang pastor terkekeh sambil melambaikan tangan.
"Aku hanyalah seorang pastor sederhana. Lagi pula, di usiaku sekarang, semua pekerjaan itu rasanya terlalu melelahkan untukku. Tapi kau mungkin orang yang tepat untuk melakukannya, Montgomery."
Grace terkesiap ketika ayahnya melangkah ke lingkaran kecil itu, yang mungkin terdiri dari beberapa orang, dan menyerahkan selembar kertas kecil kepada seseorang yang tidak lain adalah Lord Trevor Montgomery.
Grace berhasil membungkuk agar tidak terlihat di balik beberapa orang pria yang tengah menghisap tembakau.
Oh, Tuhan, apa yang dia lakukan di sini? Kupikir dia sudah pergi!
"Makanan di Gaggle Goose Inn tidak terlalu buruk... tempat itu adalah satu-satunya penginapan yang juga menyediakan kandang untuk kereta kuda," jelas ayah Grace.
"Tapi kalau kau memutuskan untuk datang melihat Grange, kau bisa mampi ke kediaman kami yang berada di sampin gereja. Putriku dan aku akan senang sekali jika bisa mengundangmu untuk makan malam bersama kami."
"Kau baik sekali, Sir, terima kasih." Lord Trevor menyisipkan kartu itu ke saku depannya.
"Ah," seru sang pastor, berbalik dan melihat Grace, namun tidak menyadari sorot wajahnya yang panik.
"Ini dia putriku."
Grace membeku ketika ayahnya tersenyum sebagai isyarat agar ia mendekat.
__ADS_1
Alis Lord Trevor melengkung penuh makna ketika melihat Grace.