My Notorious Gentleman

My Notorious Gentleman
#4


__ADS_3

"Mereka telah berjuang untuk Kerajaan sejak peperangan itu. Sekumpulan pahlawan sialan..."


"George, bahasamu." Grace menghela napas.


"Maaf. Mereka ditugaskan ke seluruh Eropa selama perang, dan tepat sebulan yang lalu, mereka berhasil membongkar rencana pembunuhan Perdana Menteri di London."


"Oh ya... Sepertinya aku pernah mendengar desas-desus itu."


"Memang sudah seharusnya!" Kemudian George kembali mengangguk ke arah pria yang dikerubungi para wanita pengagumnya itu.


"Pria yang ada di sana itu sendiri yang membantu mengungkap rencana pengecut tersebut. Begitu pers mencium rencana itu, dan Ordo terungkap, Regent menilai sudah sepantasnya memberikan mereka medali sebagai penghormatan kepada mereka di Westminster Abbey. Sejak saat itu, para wanita tidak membiarkan Montgomery malang itu sendirian. Hanya dia satu-satunya pria lajang yang tersisa di Ordo. Tapi jangan repot-repot untuk bertanya padanya mengenai apa pekerjaannya. Dia tidak akan mau membicarakannya... meskipun aku yakin dia pasti punya banyak kisah liar untuk diceritakan."


"Mata-mata katamu?" ulang Grace dengan skeptis, penasaran tapi ia masih belum yakin kalau George benar-benar tidak sedang membohonginya.


"Well,mantan mata-mata sekarang. Mereka tidak mungkin melakukannya lagi, karena jati diri mereka sudah terungkap pada dunia, benar, kan? Ketenaran sudah merenggut pekerjaan mereka."


Grace mengerutkan dahi, kembali melirik ke arah mantan mata-mata tersebut, namun pria itu masih tersembunyi di antara kerumunan para wanita. Ia kembali menoleh ke arah George dengan tidak yakin.

__ADS_1


"Jika apa yang kau katakan benar, apa kau yakin kalau orang itu tidak berbahaya?"


"Tentu saja mereka berbahaya, tapi tidak bagi kita dasar konyol!" seru George sambil tertawa.


"Memang itu tujuan Kerajaan memiliki orang semacan itu, kan? Dari yang kudengar, mereka dilatih dalam segala jenis peperangan, kode-kode, dan sandi-sandi rahasia, dan juga bagaimana caranya untuk membuat peledak."


George kembali menyenggolkan bahunya dengan bahu Grace, tampak geli melihat Grace yang terlihat tidak nyaman.


"Apa kau mau kukenalkan dengannya?"


"Tidak!"


"Kalau begitu mungkin sebaiknya para lady itu tidak terlalu mendekat padanya," balas Grace ketus, wajahnya memerah.


George tampak melemah.


"Sebenarnya, secara pribadi aku merasa senang karena mereka menemukan orang lain untuk mereka ganggu."

__ADS_1


Pada saat itu, kerumunan wanita-wanita cantik di sekeliling Lord Trevor Montgomery mulai melenggang, dan Grace melihat sekilas untuk pertama kalinya sosok agen rahasia itu.


Grace terdiam membeku, menatap takjub.


Demi Tuhan. Ia belum pernah melihat seorang pahlawan berkelas sebelumnya, namun ia yakin kalau pria itu pastilah bagian dari kelompok pahlawan berkelas itu, pria itu terlihat misterius dan sangat memukau.


Tinggi pria itu setidaknya lebih dari seratus delapan puluh sentimeter dan memiliki postur tubuh yang tegap dan berotot, dengan bahu lebar yang kelihatan dapat menghalau bahaya apa saja. Sosoknya juga memancarkan kepercayaan diri tinggi seorang pria, seolah tidak ada di dunia ini yang tak mungkin ditaklukannya.


Perawakan wajahnya terlihat keras dan sinis, dan itu tidak dapat pudar meskipun pria itu sedang menampilkan senyuman misteriusnya pada wanita-wanita yang tengah memujanya.


Jika dilihat pertama kali, pria itu sepertinya dapat menarik seluruh perhatian padanya. Meskipun ia tidak terlihat setampan sebagimana kebanyakan pria-pria pesolek London yang tengah hadir di pesta ini. Pria ini terlihat... kuat.


Dan bangga, pikir Grace. Juga kokoh, secara fisik.


Grace teringat yang George katakan mengenai Knight Templar masa kini, dan berpikir pria ini memang pantas sekali menjadi bagian dari kelompok itu, ditambah dengan balutan pakaian malam formal putih dan hitam menambah kesan misteriusnya.


Bertolak belakang dengan pria terhormat lainnya, pria itu memiliki rambut gelap panjang seperti orang barbar. Diikat rapi ke belakang, sehingga memperjelas kesan rahangnya yang persegi dan juga kulit gelapnya, membuatnya sekilas terlihat seperti perompak, pikir Grace.

__ADS_1


Sungguh konyol sekali sebenarnya, pikir Grace lagi. Aneh. Biasanya ia tidak pernah membayangkan yang macam-macam-tentang seseorang.


Dan yang paling janggal lagi adalah gelenyar aneh yang Grace rasakan di tubuhnya dan jantungnya yang berdetak tidak karuan. Grace mengalihkan pandangannya, terkejut dan merasa kesal dengan reaksinya yang tidak biasa itu.


__ADS_2