
Baiklah itu sudah cukup, Sobat. Terengah-engah, Grace berusaha mendorong dada pria itu, namun sekali lagi lupa untuk memprotes, menikmati dinding berotot di hadapannya.
Untunglah, pria itu sepertinya menangkap pesan yang hendak disampaikannya dan melepaskannya sambil tertawa pelan.
"Ya ampun, kau tidak tau apa yang kau inginkan, ya, Manis? Sebaiknya kau segera memutuskan, atau aku yang akan memutuskannya untukmu." Pria itu mendongak untuk memberi satu ciuman lagi.
"Tidak... kita tidak boleh!" Grace terengah-engah dengan putus asa.
"Kita sudah memulainya."
"Tapi aku bahkan tidak mengenalmu!" bisik Grace, dadanya naik turun.
"Lalu? Aku suka matamu," jawab pria itu, sambil memberi senyuman nakal yang dapat menghancurkan hati para wanita.
"Sir! Ini sangat tidak pantas!"
"Memang," sahut pria itu dengan gumaman tulus.
"Kau tidak seharusnya..."
Grace tidak dapat berbicara dengan mulut yang penuh saat pria itu menyambar bibirnya, sementara lidahnya yang hangat dan lihai mencumbu Grace dalam tarian yang menawan.
Rasanya Grace seperti akan pingsan karena godaan yang tak tertahankan ini.
Tapi ketika ujung jari pria itu mulai menyusuri tulang lehernya, menyadari betapa mahirnya pria itu mencumbu dirinya. Pria itu langsung melepaskan CD yang dipakai Grace. Dan membuat akal sehat Grace kembali.
Apa yang sedang ia lakukan? Ini benar-benar gila!
Pria itu masih menciuminya ketika Grace membuka matanya lebar-lebar.
"Di lantai atau di sofa, Chérie?"
Pertanyaan itu! Grace langsung membeku dan menatap pria itu dengan terguncang.
"Kau benar," bisik pria itu,
"Siapa yang peduli? Ayo bercintalah denganku."
Grace gemetar hebat mendengarnya.
Dan teapt ketika Grace berpikir untuk menendang selangkangan pria itu, sebuah cara ampuh menurut cerita yang didengarnya, namun belum pernah dicobanya.
__ADS_1
Pria itu tiba-tiba mengangkatnya dan mendudukannya di lengan sofa yang empuk.
"Nah, disini lebih enak dan nyaman," ujar pria itu sambil mengangkat lipatan gaun Grace ke atas lututnya dan menyelinap di antara kedua kakinya.
Oh Tuhan! Grace mulai panik. Keadaan ini benar-benar di luar kendali.
Karena sekarang posisinya terjepit di lengan sofa hingga tidak mungkin menendang pria itu, maka satu-satunya senjata yang Grace miliki hanyalah jepitan rambut mutiara yang terselip di balik sanggulnya.
Sambil menelan ludah, Grace meraih jepitan rambutnya itu, membuat rambutnya yqng panjang tergerai hingga ke bahu, lalu memberanikan diri.
Dam itulah yang dilakukannya.
Grace menusuk lengan pria itu dengan jepitan rambutnya.
"Aduh!" Pahlawan yang terkenal itu melepaskannnya dengan tiba-tiba dan melangkah mundur, sambil memegang lengannya yang ditusuk.
"Apa yang..." Pria itu menatap Grace dengan terpana.
Grace hanya diam membeku, matanya terbelalak, jantungnya berdetak kencang.
Ia hampir berharap seandainya pria itu bukanlah pria tak berperasaan yang tak jauh berbeda dengan pembunuh, namun pria itu bekerja untuk kerajaan, jadi pria itu harus menuruti hukum seperti yang lain.
Benar, kan?
"Kenapa kau melakukan itu?" seru pria tersebut.
"Aku sudah mengatakan padamu untuk berhenti."
"Tidak, kau tidak bilang begitu!"
"Well, kalau begitu aku mengucapkannya dalam pikiran!"
Mantan mata-mata itu menatap Grace jengkel.
"Well, aku minta maaf karena telah salah membaca pikiranmu, Sayang."
"Maafkan aku, karena kukira inilah yang kau inginkan. Kau sendiri yang menungguku di sini."
Grace langsung menganga.
"Aku tidak menunggumu!"
__ADS_1
Ia terkesiap, pipinya langsung merona.
"Apakah itu yang kau pikirkan?"
"Kau tidak menungguku?" seru pria itu.
"Dasar pria kasar sombong! Tentu saja tidak!" jerit Grace.
"Aku sedang memikirkan urusanku sendiri! Aku harus merapikan rambutku!"
Pria itu tampak berpikir, kemudian menyeringai penuh pemahaman.
"Oh, benar sekali," gumamnya.
Dan Grace langsung kehilangan kendali diri. Satu hal yang tidak seorang pun di Thistleton tau bisa ia lakukan.
"Oh, bagaimana mungkin ada orang yang bisa begitu arogan?" gerutunya dengan gaya berlebihan seperti Lady Windlesham.
"Memangnya, kau pikir aku ini apa, Sir?"
"Aku tidak begitu yakin," jawab pria itu, memperhatikan Grace dari atas sampai bawah, namun matanya tampak menari-nari.
Grace menyadari kalau mata pria itu berkilau dalam cahaya bulan, hingga warnanya berubah menjadi abu-abu terang dan menyorot tajam.
"Huh!" Tidak mau menanggapi respon congkak pria itu, Grace melompat turun dari sandaran tangan dan merasa lega karena ia dapat melangkah pergi meninggalkan pria itu tanpa diganggu lagi.
Dalam keadaan marah, Grace melangkah menjauh dari pria itu hingga sampai pada jarak yang aman, lalu berbalik sambil melipat tangan didepan dadanya. Sambil mengangkat dagunya, Grace memberi tatapan menegur pada pria itu seperti yang biasa diperlihatkan guru-guru di sekolah Minggu. Bisanya itu berhasil pada anak berusia sembilan tahun.
"Aku tidak berbohong," jelas Grace.
"Aku jelas tidak menyuruhmu untuk menutup pintu dan mematikan lilin. Kau sendiri yang melakukannya. Tapi kurasa tidak mengherankan kalau pria sepertimu biasa untuk meraih wanita mana pun dan mencium mereka di mana pun kau suka!"
Pria itu mengerutkan alisnya.
"Lucu, kukira kau tadi sama menikmatinya seperti aku."
Grace menyipitkan matanya, menatap tajam.
"Tolong pergilah. Sekarang!"
Pria itu menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
"Sepertinya aku tidak bisa."
"Apa?"