
"Mungkin itulah sebabnya Lady Laura memilih Lord Trevor," gumam Grace. Pria yang ditemuinya tadi terlihat terlalu kuat untuk membiarkan dirinya di atur oleh wanita cantik.
George mengangkat bahu.
"Aku juga tidak mengerti. Tapi jika yang terjadi diantara mereka itu adalah sebuah pertarungan keinginan, berarti Lady Laura menang. Dia berhenti menunggu dan melanjutkan hidupnya, seperti yang kau lihat sendiri."
"Tapi tadi kau bilang bahwa dia mengira Lord Trevor sudah menginggal?"
"Ya, semua orang mengira begitu, meskipun keluarganya menolak untuk memercayai," tambah George.
"Orang-orang merasa kasihan pada mereka, dan mereka menolak untuk memasang kain hitam di pintu sebagai tanda duka cita. Tapi ternyata mereka benar."
"Ada di mana Lord Trevor saat itu?"
"Itu satu rahasia yang dijaga ketat. Aku juga tidak tau."
"Hmm." Grace membali menoleh kepada Lady Laura yang sedang menaruh tangannya yang bersarung di lengan tunangannya yang baru.
"Aku ingin tau apa yang di rasakannya setelah tunangannya dulu telah kembali bangkit dari kubur."
"Rasakan?" George tertawa sinis.
"Pikiranmu sungguh lugu, Sayang."
"Apa maksudmu?"
"Well, bukannya mereka saling jatuh cinta terhadap satu sama lain?"
"Kenapa kau berkata begitu?"
"Jika Montgomery benar-benar mencintai wanita itu, pasti sudah dari dulu dia menikahinya. Sebaliknya dia malah membuat berbagai macam alasan. Percayalah kepadaku," gumam George.
__ADS_1
"Aku paham sekali hal semacam itu."
Grace merenungkan hal ini.
"Lalu kenapa dia pergi seperti orang kesal begitu saat wanita itu sampai di sini?"
"Harga diri, kurasa," ujar George sambil mengangkat bahu.
"Jangan pernah lupa, Gracie. Dia adalah pembunuh terlatih. Dia jelas tidak akan mau berperan sebagai seseorang yang patah hati... kecuali mungkin untuk menarik perhatian wanita kepadanya."
"Apa?"
"Simpati!" George mengedipkan mata kepada Grace.
"Itulah sebabnya para wanita mengerubunginya... menawarkan kelembutan untuk mengobati hatinya yang hancur. Pria pintar. Rasa simpati selalu berhasil memancing ketertarikan wanita. Seharusnya aku juga mencobanya kapan-kapan. Berduka karena patah hati..."
Grace memberengut kepada George.
"Bagaimanapun, wanita kalangan atas mencoret nama Montgomery dari daftar perburuan mereka bertahun-tahun lalu karena dia sudah jadi milik wanita pencemburu di sana. Tapi sekarang dia sudah bebas lagi dan mereka punya kesempatan baru untuk mendapatkannya lagi. Kau tidak bisa menyalahkan mereka karena berusaha." George tiba-tiba saja bergidik.
Grace langsung memalingkan wajahnya kepada George. Begitu pemuda itu mengatakannya, rasanya hampir seperti takdir.
Gadis yang cantik, ceria, dan berdarah biru seperti Miss Calpurnia Windlesham memang dilahirkan dan di besarkan untuk menikahi seorang pria seperti Lord Trevor Montgomery.
Bahkan bisa dikatakan, Callie adalah versi Laura Bayne yang lebih muda. Dan mungkin apa saja yang tidak ada pada Laura, akan didapatkan pria itu dari Callie, karena gadis itu masih muda dan masih mudah dibentuk untuk menjadi seorang istri idaman.
Grace merasa hatinya mengerak karena pemikiran itu, namun ia menolak untuk larut dalam kekecewaannya, dan perkataan papanya mengenai Grange yang membutuhkan seorang penyewa kaya berdenging di telinganya.
Makanan, panenan, uang.
Jika Callie yang memesona dan menawan itu bisa menjadi bagian untuk menarik Lord Trevor ke Grange, itu akan membawa kebaikan untuk semua orang, bahkan bagi seluruh desa.
__ADS_1
Mungkin ada baiknya juga untuk pria itu, setelah apa yang dilaluinya. Grace tentunya tidak akan mengatskan hal ini pada George, karena berandal itu pasti hanya akan mengejeknya. Bahkan Grace sekalipun tidak tahan untuk bersimpati pada mantan mata-mata itu.
Pria malang, Lord Trevor telah mengabdikan hidupnya selama bertahun-tahun untuk melayani negara dan mempertaruhkan hidupnya, hanya kemudian untuk kembali pulang dan mendapati bahwa impiannya akan sebuah pernikahan yang telah bahagia telah hancur berkeping-keping.
Setidaknya itu menjelaskan kenapa sikap pria itu langsung berubah dingin secara tiba-tiba.
Pria itu pantas mendapatkan yang lebih baik.
Setelah merenung beberapa saat, Grace kini sudah mantap dengan pemikirannya. Ya. Lord Trevor harus pindah ke desa tercintanya Thistleton, membeli Grange, dan menikahi Calpurnia untuk mengobati luka hati pria itu, jika hati itu belum hancur sepenuhnya.
Lagi pula Grace tidak mungkin bisa mendapatkan pria semacam itu. Tidak, jika Lord Trevor terbiasa menyukai wanita seperti Laura Bayne. Selain itu, meskipun Pria itu cukup menarik, Grace tidak yakin kalau ia menginginkan Lord Trevor.
Pria itu berbeda sekali dengan tipe ideal Grace. Pria yang sembarangan mencium wanita di dalam ruangan yang gelap. Pembunuh terlatih, mata-mata yang dilarang untuk menceritakan tentang masa lalunya.
Dan yang paling buruk, pria itu sepertinya ahli dalam menyingkirkan orang lain dengan menganggap mereka sebagai "pengalihan yang menyenangkan". Grace masih jengkel karena itu.
Tidak, Lord Trevor tidak akan cocok, tidak untuk Grace. Pria itu bisa menjadi tetangga yang menyenangkan, tapi perlu sesuatu yang lebih dari itu untuk membuat Grace jadi mengabaikan ayahnya, yang membutuhkannya.
Tapi Callie mungkin akan cocok untuk pria itu, pikir Grace. Gadis muda cantik yang penuh semangat hidup mungkin akan menjadi pengimbang yang sempurna bagi mantan mata-mata agar bisa kembali menata hidupnya.
Grace sama sekali tidak ragu kalau Lord Trevor juga akan tepat buat Callie. Di desa mereka, Callie sudah seperti adik sendiri, dan tanpa menyimpan maksud apa pun, Grace berpendapat kalau gadis yang keras kepala itu butuh seorang pria dewasa untul membimbingnya, daripada seorang pemuda pemberontak yang juga sama manjanya seperti dirinya.
Tentu saja, George, temannya yang konyol ini, pasti tidak akan senang jika kekasihnyabdi rebut oleh Lord Trevor.
Namun dilihat dari cara George memperlakukan Callie sekarang, menurut Grace perjalanan yang harus pemuda itu lalui sekarang masih panjang agar dapat menjadi pria dewasa seutuhnya yang siap untuk menikah.
Ya, ini adalah jalan terbaik bagi semua orang.
Sempurna, Grace menyimpulkan, merasa cukup senang dengan rencananya, dan ia akhirnya membenarkan ucapan George tentang dirinya sebelumnya. Memecahkan masalah orang lain adalah keahliannya.
Lebih mudah daripada mengurusi masalahnya sendiri. Kemudia George memberi isyarat ke arah lantai dansa ketika para musisi sudah kembali dari istirahat mereka.
__ADS_1
Grace tersenyum pada teman berandalnya itu dan berusaha membuang jauh-jauh bayangan Lord Trevor dari benaknya, pria yang ditakdirkan untuk orang lain.
Berusaha untuk kembaki fokus kepada tugasnya saat ini, yakni menjauhkan Lord Bratford dari masalah, Grace menyambut lengan pria itu, dan mereka beranjak untuk berdansa.