My Notorious Gentleman

My Notorious Gentleman
#47


__ADS_3

"Oh, defensif. Aku mengerti," ujar Laura dengan senyum kaku.


"Kau suka wanita kampungan itu, ya? Menjijikkan sekali!"


"Tidak juga," balas Trevor.


"Mungkin tidak banyak yang bisa menandingi kecantikanmu, tapi lady yang kau bicarakan itu, punya banyak kriteria yang sama sekali tidak kau miliki."


"Benarkah demikian?"


"Ketulusan hati, misalnya. Kesetiaan. Kedermawanan. Dan sesuatu yang busa kusebut sebagai jiwa."


"Oh, begitu," gerutu Laura, senyumannya terlihat makin kaku.


"Dan siapa tepatnya suri teladan kita ini?"


Trevor mengangkat bahu. "Calon ibu dari anak-anakku, mungkin."


Laura terperangah. "Apa?"

__ADS_1


"Selamat tinggal, Laura. Berbaik hatilah dan tutup pinta di belakangmu nanti, ya? Dan sampaikan salamku kepada tunanganmu."


Kemarahan tampak menyala-nyala di mata Laura ketika akhirnya ia memahami kalau ia sudah tidak punya kuasa apa-apa lagi terhadap Trevor. Bahwa benar-benar ada seseorang di dunia ini yang bisa menolak keinginanya. Seseorang yang tidak dapat dikendalikannya.


Dan kenyataan itu, akhirnya Trevor sadari, merupakan penyebab kenapa wanita itu bersedia menunggu dirinya selama ini. Menunggu kesempatan seperti laba-laba kelaparan yang bersedia menunggu tangkapan besarnya untuk datang mendekat.


Semua itu ternyata hanyalah sebuah permainan bagi Laura. Peramainan yang ia sekarang sadari tidak dapat dimenangkannya.


Laura melayangkan tatapan yang sangat menghina ke arah Trevor, kemudian melangkah keluar sambil membanting lintu dibelakangnya. Trevor menghampiri puntu dan menguncinya.


Ketika Trevor bersandar di pintu, masih linglung, jantungnya berdegup kencang karena pemahaman bahwa ia hampir saja menghancurkan hidupnya dengan menikahi wanita ****** itu.


Trevor menyadari kalau sekarang ia merasa lebih ringan, seolah seseorang telah mengangkat sebuah beban tanggung jawab yang berat dari bahunya. Tanggung jawab yang tidak ada gunanya, musnah sudah. Rasanya ia bisa lebih mudah bernapas.


Sementara perkataan spontannya tentang menikahi Grace Kenwood, Trevor mengatakannya hanya untuk membuat kesal Laura. Tapi sekarang setelah ia menyuarakannya dengan lantang, ide itu tidak terdengar terlalu buruk.


Setidaknya Grace bukanlah tipe wanita yang akan menggunakan mulai dari tubuh hingga air matanya untuk mengendalikan Trevor.


Trevor merenungkan jika ia berpasangan dengan Grace sejenak, lalu bergidik, kesal dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Oh Tuhan, ia pasti sudah gila. Bagaimana mungkin ia bisa memikirkan pernikahan secepat ini padahal ia baru saja lolos dari sebuah jebakan pernikahan?


Apa jaminannya kalau kisah cintanya dengan Grace akan berakhir lebih baik daripada bencana yang dialaminya sekarang?


Memang benar, Grace adalah wanita yang jauh berbeda dengan Laura, dan ingatan akan ciuman polos dan manis wanita itu masih menghantui Trevor, namun sekali menggigit...


Dengan erangan frustasi, Trevor beranjak ke kamar tidurnya untuk berganti pakaian guna menghadiri acara makan bersama malam ini.


Saat ia melepaskan kemeja dan melemparkannya ke samping dengan marah, ia berusaha menyakinkan dirinya sendiri bahwa pembelian lahan pertanian itu tidak ada hubungannya dengan Grace ataupun dengan wanita terkutuk lainnya.


Grange merupakan sesuatu yang akhirnya ia beli untuk dirinya sendiri. Bukan hanya untuk melampiaskan hobi arsitekturnya, tapi juga sebagai tempat pelarian baginya, tempat ia bisa melarikan dari dunia dan semua tuntutannya, tempat ia bisa memulihkan dirinya sendiri.


Besok pagi, begitu matahari terbit, ia akan langusng berangkat ke sana. Benar sekali, ia sudah tidak sabar untuk meninggalkan London dan memulai hidup di tempat terpencil di negeri antah berantah, terlupakan oleh dunia seutuhnya.


Kedengarannya begitu membahagiakan.


Namun tentu saja, pertama-tama ia harus melewati acara makan malam yang menyiksa ini, bersama lima pasangan yang sedang dimabuk cinta. Trevor tertunduk dan menghela napas.


Acara ini pasti akan sangat menyiksa.

__ADS_1


__ADS_2