My Notorious Gentleman

My Notorious Gentleman
#46


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di sini?" tuntut Trevor.


"Aku harus bertemu denganmu." Wanita itu melangkah mendekat ke arahnya.


"Apa tunanganmu tau kau ada di sini?"


"Tentu saja tidak. Aku perlu bicara dengamu. Berdua saja."


"Well," ujar Trevor, berjalan melewati Laura,


"Aku sibuk."


"Oh, Trevor," ujar Laura gusar, ketika Trevor memunggunginya.


"Waktumu benar-benar tidak tepat, kau tau."


"Jadi salahku kau menghacurkan rencana kita?"


"Kukira kau sudah mati! Kau ingin aku melakukan apa?"


"Oh, aku tidak tau. Mungkin sedikit berduka?" saran Trevor. Ia bisa merasakan suasana hatinya langsung memburuk.


"Kenapa kau tidak pergi saja sebelum percakapan ini benar-benar menjadi tidak menyenangkan? Tidak ada gunanya lagi sekarang. Pergilah." Trevor mengangguk ke arah pintu, kemudian Laura mulai memperlihatkan sorot mata memohon kepadanya.


"Aku tau kau marah, dan kau memang berhak untuk itu, Trevor. Tapi kau harus tau kalau akyu tidak pernah berniat untuk melukaimu." Laura berjalan mendekat sementara Trevor berdiri di sana dalam keadaan marah.


"Apa yang kau inginkan, Laura?" tanya Trevor letih.


"Aku tau kau masih peduli kepadaku, kalau tidak kau pasti tidak akan semarah ini. Atau setidaknya kau pasti masih memiliki hasrat untukku."


"Memangnya siapa yang tidak?" gerutu Trevor, melihat sekilas tubuh Laura yang tanpa cela itu. Memaku Trevor dengan tatapan menggoda yang telah membuat banyak pria terjerat, Laura menghampirinya.


"Mungkin belum terlambat untuk kita berdua." Terkejut, Trevor menatap wanita itu dengan kesal.


"Kalau kau masih ingin bersama," bisik Laura, "kita bisa mewujudkannya. Aku akan memutuskan hubunganku dengan Hector jika kau memintaku melakukannya."


Trevor menatap Laura dengan sorot keget tak ter pecaya, tapi ketika wanita itu mengulurkan tangan, Trevor menjauhkan lengannya dari Laura dan menggeleng.

__ADS_1


"Ya. Dansaat dia nanti menantangku, kami akan saling bunuh dalam duel, apa ksu mampu hidup menanggung semua itu? Tapi jika kupikir lagi, sepertinya kau bisa. Apalagi yang bisa menaikkan harga dirimu daripada dua peminang yang saling membunuh demi mendapatkan dirimu? Setidaknya itu menjawab satu pertanyaanku. Kau tidak mencintai ******** menyedihkan melebihi yang kau rasakan padaku."


"Bagaimana kau bisa tau apa yang kurasakan?" balas laura, mata abu-abunya menyipit tajam.


"Kau tak pernah bertanya. Kau tidak pernah mau tau," tuduhnya.


"Kau bahkan tidak mau repot-repot untuk mengenalku sebagai diriku sendiri. Yang kau pedulikan hanyalah bagaimana keberadaanku bisa menaikkan reputasimu."


"Oh, baru sekarang kau ingin membahas ini? Obrolan dari hati ke hati, sayang? Baiklah. Selama ini yang kau pedulikan, Laura, hanyalah kesenanganmu sendiri. Perjanjian kita sesuai untuk tujuanmu, jsdi jangan mengeluhkan ketidakhadiranku. Aku tau sekali apa yang selama ini kau lakukan."


"Dan apa itu?" jerit Laura, kulitnya yang seputih porselen merona karena amarah.


"Kau bisa melakuka apa saja sesukamu selama aku pergi!" Trevor hampir berteriak. "Merayu dan bermain-main dengan banyak pria yang bisa kau bodohi. Dan jika ada salah seorang dari mereka terlalu dekat, kau hanya perlu memperingatkan bahwa aku akan menghabisi mereka jika mereka berani macam-macam denganmu. Kau punya kedua-duanya... kebebasan untuk menghibur dirimu dengan banyak kekasih dan juga perlindungan dari calon suamimu jika ada kekasihmu yang mulai mengancammu."


"Calon suami yang tidak pernah ada di tempat, My Lord. Apa gunanya dirimu selagi kau berada di seberang lautan, sementara aku membutuhkanmu di tempat tidurku?"


Trevor melayangkan tatapan sedingin es kepada Laura, sedikit terkejut dengan keterusterangannya, namun ia menolak untuk termakan umpan wanita itu. Laura hanya berusaha menggoncangnya.


"Keluar."


"Ah, ada apa? Apakah hanya pria yang diizinkan untuk mengakui hasrat mereka? Kau memang selalu bersikap munafik. Seorang pria hormat sejati!" ejek Laura.


Trevor melipat tangan di depan dadanya dan tersenyum dengan penuh kesabaran melihat Laura berusaha sebaik mungkin untuk memancing Trevor, mengingatkan saat-saat ketika wanita itu memohon agar Trevor mau bercinta demgannya.


"Tidak, bukan itu."


"Lalu apa?" tuntut Laura. Wanita itu tidak pernah bisa memahami kenapa Trevor menolaknya, dan jelas bukan sikap terhormat yang menghentikan Trevor. Ia hanya bertindak berdasarkan instingnya.


Meskipun Laura adalah wanita yang menggairahkan dan memeasona, namun Trevor menolak membiarkan wanita itu menyeretnya ke jenjang pernikahan sebelum ia sendiri merasa siap, dan menikah adalah sebuah rencana yang memang sudah mereka sepakati bersama.


Trevor sudah tidak paham lagi dengan dirinya sendiri, kenapa ia tidak membuat keputusan yang tegas mengenai hubungannya dengan Laura sejak dulu.


Mungkin karena adanya kesalahan dalam perjodohan mereka, yang terasa sangat salah di hatinya, hingga tidak bisa diterima di kepalanya.


Setiap orang menginginkan Laura. Wanita itu sudah menjadi milik Trevor tanpa perlu berusaha keras. Yang diperlukannya hanyalah menemukan cincin dan dan menetapkan tanggal.


Tapi Trevor tidak mencintai Laura. Ia tidak dapat mencintai wanita itu. Akhirnya, semuanya kini menjadi terang, sekarang karena pemikirannya tidak lagi terpusat pada pekerjannya sebagai agen Ordo.

__ADS_1


Meskipun Laura sangat cantik, namun wanita itu benar-benar tidak pantas untuknya. Ia bisa melihat itu sekarang dan mungkin seharusnya ia berterima kasih kepada Tuhan karena Nick telah 'menghancurkan' rencanya dulu untuk menikah.


Laura memelototi Trevor seolah dapat membaca pikirannya dengan melihat wajahnya. Wanita itu menggeleng jijik.


"Oh Tuhan, dari awal aku sudah tau kalau seharusnya aku memilih Beauchamp."


Kecuali Beau sudah melihat siapa kau sebenarnya dari awal. Dia mengatakan kepadaku bahwa kau akan membuatku menderita. Seandainya aku mau mendengarkannya saat itu.


Tapi Trevor menahan diri untuk tidak melontarkan pendapatnya yang menyakitkan itu. Ia hanya menggeleng.


"Pergilah, Laura. Pergilah kepada tentaramu itu. Dia akan menjadikanmu countess. Kau tau kalau aku tidak akan pernah bisa mewujudkan itu. Sekarang, kalau kau tidak keberatan, aku mu berganti pakaian untuk acara makan malam ini. Kedatanganku sedang di tunggu di Rotherstone. Di sana pintunya." Trevor menunjuk ke arah pintu.


"Kau tentunya bisa keluar sendiri."


Laura menatap Trevor dengan sorot tak percaya namubn akhirnya mengalahkan kakinya juga ke arah pintu sambil memegang tas kecilnya dengan tangannya yang bersarung.


"Pikirkan tentang tawaranku, Trevor. Bersama, kita bisa menaklukan pergaulan kalangan atas."


"Kita berdua tau kau bisa melakukannya tanpaku."


Laura meraih gagang pintu, "Kau akan berubah pikiran. Kau sedang marah sekarang. Aku paham itu. Tapi jangan lama-lama. Makin hari, Hector makin bergairah saja terhadap diriku. Aku akan menikahinya jika terpaksa, tapi kaulah yang aku inginkan."


"Lucu, sepertinya Beauchamp yang kau inginkan seperti saat lalu."


Mata Laura berkilat frustasi ketika ia mulai memmbuka pintu, namun kemudian, seolah ia tidak dapat mengendalikan dirinya, ia berhenti.


"Siapakah wanita tinggi, kurus, dan kampungan itu, yang berdansa denganmu di Pesta Lievedon?"


Trevor mengangkat alisnya. "Maaf, aku tidak ingat seseorang dengan ciri-ciri seperti itu."


"Kudengar kau terlihat cukup terpesona kepadanya saat kalian sedang berdansa sebelum aku sampai. Ada yang bilang mereka bahkan melihatnu tertawa," ujar Laura sambil terseyum mengejek.


"Benarkah?"


"Kau tidak perlu malu, Trevor. Aku yakin kau hanya berusaha bersikap baik. Kau selalu menjadi pria yang paling suka berbuat baik, mengajak wanita menyedihkan, wallflower yang kesepian untuk berdansa denganmu."


Kata-kata kejam Laura terhadap Grace membangkitkan kekejaman diri Trevor. Ia memperingatkan wanita itu dengan tatapannya.

__ADS_1


"Dia bukan wallflower, dan aku saat itu tidak sedang melakukan perbuatan amal."


__ADS_2