My Notorious Gentleman

My Notorious Gentleman
#12


__ADS_3

"Selamat jalan," seru Grace sekeras yang ia berani.


"Selamat jalan saja pada dirimu sendiri," balas Lord Trevor.


Grace mengerutkan dahi. Well, senang berkenalan denganmu juga.Kemudian ia menyaksikan pria itu berlari ke balik bayang-bayang.


Merasa senang karena Trevor akhirnya pergi, Grace menduga mungkin tadi itu adalah pertemuan terakhir mereka. Setelah perjuangan keras yang harus dilalui pria itu agar dapat melarikan diri dari para karnivor, tidak mungkin pria itu mau kembali ke ruang dansa.


Sementara itu, Grace merasa sebaiknya ia segera turun sekarang, atau seseorang akan menyadari ketidakhadirannya di sana. Dalam mimpi, pikirnya, teringat bahwa orang-orang di bawah sama sekali tidak menyadari keberadaannya.


Namun entah mengapa, anehnya Grace tidak lagi merasa kesepian seperti tadi. Bayangan untuk kembali lagi ke ruang pesta rasanya sudah tidak terlalu menarik lagi sekarang, karena Lord Trevor sudah tidak ada di sana.

__ADS_1


Namun meskipun demikian, ia tau bahwa George pasti akan mencarinya bahkan mungkin saat ini, untuk menuntut berdansa bersamanya. Lebih baik aku memperbaiki rambutku. Ia seolah masih merasakan bagaimana tangan mahir pria itu mengusap rambutnya, sentuhan sensual pria itu di kulitnya.


Merasa malu karena pemikirannya sendiri, Grace meraba-raba untuk mencari lilin dan memberi sedikit cahaya ruangan itu. Setelah akhirnya berhasil menemukannya, Grace menyalakan korek api dengan tangannya yang masih gemetar, tapi akhirnya ia berhasil juga menyalakannya.


Sekarang tugas Grace tinggal merapikan sanggulnya. Dengan cepat, Grace membentuk ikatan halus menggunakan rambut cokelatnya yang panjang. Kemudian ia menggulung rambut itu di sekitar tangannya dan membentuknya menjadi sanggul yang rapi, lalu menyelipkan ujung gulungan itu ke bagian bawah dan menusukkan jepitan rambut panjang, yang tadi digunakannya untuk menyerang pria itu.


Nah, sekarang ia kembali menjadi Putri Pastor Kenwood yang berbudi luhur lagi.


Dilihat dari kaca, pipinya masih merona. Dengan canggung, Grace kembali mengangkat garis leher bajunya, dan mengerut melihat bayangannya di kaca.


Grace masih merasa seperti orang bodoh dan gerah, merasa bersalah dan tidak yakin. Itu bukan salahku, Grace menyakinkan dirinya sendiri, merapikan helaian rambut terakhir ke tempatnya. Dia yang memulainya terlebih dahulu.

__ADS_1


Bagaimanapun, pria itu tidak berniat untuk melakukannya. Grace paham hal itu sekarang. Trevor mengirak kalau Grace adalah seorang wanita yang dari tadi menguntitnya dan bereaksi sebagimana sepatutnya.


Lord Trevor menciumnya agar terlihat kasar. Tentu saja, setelah itu pria tersebut meminta maaf. Yah, tidak ada gunanya lagi mengingat-ingat kejadian itu. Maafkan dan lupakan. Pria itu sudah membuat kesalahan.


Meskipun itu merupakan sebuah kesalahan yang mengejutkan, kesalahan yang mereka berdua nikmati...


Memang benar, setiap wanita memang sudah sepantasnya mendapati ciuman seperti itu, paling tidak sekali dalam hidupnya, pikir Grace sambil menghela napas sekali lagi.


Tapi yang terpenting saat ini adalah, kejadian seperti itu tidak akan terulang lagi.


Hati Grace langsung menciut.

__ADS_1


Kembali menjadi perawan tua lagi.


Tapi Grace tidak membuang-buang waktu dengan menyelinap keluar dari ruang depan. Ia membuka pintu sedikit, menoleh ke kiri dan ke kanan, dan mendapati bahwa koridor itu losong, lalu kembali berjalan ke arah aula dansa.


__ADS_2