
"Maaf aku meninggalkanmu begitu saja," gumam George ketika ayah Grace sudah melangkah pergi.
Grace meraih lengan pria itu dan menepuknya sebagai tanda bahwa ia memaafkannya.
"Aku sudah cukup senang kau kembali."
"Aku tadi menang, kau tau."
"Selalu lebih baik mengakhirinya saat sedang berusaha di puncak. George?" Grace langsung menanyakan apa yang ada di pikirannya, karena saat ini para musisi sedang jeda istirahat.
"Ceritakan lebih banyak kepadaku tentang agen Ordo yang tadi itu."
"Jangan bilang kau juga jatuh cinta kepadanya, sementara aku tidak ada di sini?"
"Tidak, tentu saja tidak! Aku tadi hanya melihat-lihat para tamu, dan aku menyadari kalau pria itu tiba-tiba saja buru-buru keluar beberapa saat yang lalu. Aku tidak mengerti kenapa."
"Aku yakin aku tau,"" ujar George masam, kemudian menoleh ke sekeliling.
"Itu dia orangnya!"
"Siapa?"
"Pasti wanita itu yang menjadi alasan Montgomery pergi. Lady Laura Bayne." Geroge menggeleng.
"Aku sudah bilang kepada sekretaris Ayah bahwa mengundang keduanya sekaligus adalah ide yang buruk. Tidak ada yang pernah mau mendengarkanku."
__ADS_1
"Memangnya kenapa?"
"Mereka pikir aku bocah dungu."
"Bukan, kenapa kau tidak ingin mereka berdua diundang sekaligus?"
George mengangkat bahu.
"Mereka itu seharusnya menikah, tapi Mongomery menghilang selama berbulan-bulan di penghujung perang, wanita itu menganggap Montgomery sudah meninggal dan menyerah untuk terus menunggu. Dia akhirnya bertunangan dengan pria lain."
Mata Grace membesar.
"Kau serius? Buruk sekali!"
"Tidak untuk wanita itu. Itu pacar barunya, Mayor Lord Dewhurst, dari pasukan Kavaleri. Pria itu akan langsung menjadi earl begitu ayahnya meninggal, semantara si mata-mata itu hanyalah putra paling kecil seorang duke."
"Aku yakin Laura pasti merengkuh kesempatan baik itu. Sayang sekali menyia-nyiakan bulan yang sudah ada di genggaman, dan dia sudah seumurmu."
Grace menatap George bingung.
"Benar-benar kuno."
"Bukan begitu maksudku. Dia tidak sepertimu. Dia gadis yang bergaul dengan kalangan atas. Sombong dan agak mata duitan. Montgomery boleh saja di sebut sebagai pahlawan dan sebagainya, tapi ada kemungkinan besar kalau pria itu tidak akan kembali hidup-hidup," jelas George.
"Padahal sementara itu ada seorang calon earl yang berlutut menimang Lady Laura. Menurutmu apa yang akan dilakukan seorang wanita?"
__ADS_1
Grace yakin sekali ia tidak boleh mengatakan apa yang ada di kepalanya.
"Tunjukkan wanita itu kepadaku."
George menoleh ke sekeliling.
"Seharusnya dia tidak akan sulit ditemukan. Semua orang tau, Lady Laura adalah wanita paling berkilau di setiap ruangan yang dimasukinya. Hampir setengah pria bangsawan merasa jatuh cinta kepadanya, atau setidaknya menyimpan nafsu untuknya."
"George."
"Di sana." George mengangguk ke arah kiri, Grace mengikuti arah pandangan pemuda itu sampai ia menemukan wanita yang di maksud.
Oh, pikir Grace, merasa ciut melihat kecantikan tidak biasa yang dimiliki wanita itu. Oh... aku paham.
Lady Laura Bayne adalah seorang dewi cantik dengan berlian yang menghiasi rambut pirangnya dan gaun sutra yang membentuk lekuk tubuhnya yang sempurna.
Grace merasa hatinya sedikit menciut karena khawatir. Jadi inilah wanita yang dapat menjerat hati pria seperti Lord Trevor, pikir Grace sambil menghela napas. Oh, well.
Apa yang dirasakannya tadi bersama pria itu cukup menyenangkan, namun semua itu sekarang sudah berakhir. George juga menghela napas sambil menatap Lady Laura.
"Menurutku, Montgomery itu bodoh sekali karena tidak menikahinya terlebih dahulu sebelum pergi perang."
"Memangnya kenapa dia tidak menikahinya?" Grace berpaling dari sosok yang membuatnya depresi itu.
"Tidak tau. Itu suatu hal yang mengejutkan, sungguh... Maksudkku wanita seperti itu tidak dapat membuatnya untuk bertindak cepat. Kalau aku, wanita seperti Lady Laura itu bisa membuatku melakukan apa saja. Tapi sepertinya, wanita semacam itu sudah dikelilingi dengan orang-orang yang bersedia memberikan apa pun untuknya."
__ADS_1
"Mungkin itulah sebabnya Lady Laura memilih Lord Trevor," gumam Grace. Pria yang ditemuinya tadi terlihat terlalu kuat untuk membiarkan dirinya di atur oleh wanita cantik.