
Meskipun demikian, firasatnya mengatakan kalau proyek besar seperti inilah yang mungkin dibutuhkannya.
Sebuah tantangan yang patut dicoba.
Harga Grange masih terlalu mahal dengan semua perbaikan yang dibutuhkan, tapi ia bisa saja menjualnya lagi setelah selesai memperbaikinya.
Ia belum pernah mengerjakan sebuah bangunan antik sebelumnya. Urusan renovasi ini memberikan sederet masalah baru yang menarik.
Rumah yang Trevor bangun untuk Laura adalah sebuah rumah konstruksi yang baru.
Trevor meringis ketika teringat ia menjual rumah itu, yang dilakukannya dalam keadaan marah. Tapi pada dasarnya ia berhasil menjual rumah itu dengan harga yang cukup tinggi, hingga ia akan mampu membeli Grange kapan pun ia memutuskannya.
Sialan. Trevor menggelengkan kepala, masih merasa kesal karena kehilangan rumah impiannya yang mungkin lebih besar dibandingkan kekesalannya karena pernikahan impiannya yang dibatalkan.
Rumah itu sudah menjadi kesayangannya.
Jika dibandingkan, Grange ibarat kereta barang yang sudah tua dan reyot, sementara rumah yang dijualnya adalah kereta balap yang baru, mengilat, dan kencang.
Trevor sendiri yang merancang mansion putih spektakuler itu, tempat yang akan ditinggalinya nanti bersama dengn istri pirangnya yang memesona dan tempat mereka membesarkan anak-anak mereka yang sempurnya dengan baik.
Jika dipikir lagi, Trevor bertanya-tanya apakah ia telah salah dalam mengartikan cinta dengan sebuah proses dalam menciptakan sebuah perasaan untuk wanita yang ia pikir akan berbagi masa depan dengannya.
Ketika ia mendengar kabar bahwa wanita itu telah mengubah rencana mereka, Trevor hampir tergoda untuk membakar rumah yang dibangunnya itu karena merasa sangat kesal.
Oh, sungguh merupakan sebuah ironi.
__ADS_1
Tepat ketika Trevor dan rumah impian itu siap dengan prospek untuk benar-benar menikahi Laura,mewujudkan impiannya, tepat pada saat itu pula Laura menyerah dengan memercayai bahwa Trevor sudah tewas dan berpindah hati kepada sang mayor.
Trevor menghela napas. Selama ini ia telah mencurahkan hati dan jiwanya untuk bangunan itu. Tapi sekarang, bahkan hati dan jiwanya pun juga ikut pergi.
Karena sudah tidak mampu lagi melangkahkan kakibya di koridor pualamnya yang kosong, Trevor akhirnya menjual mansion putih itu kepada seorang pedagang yang ambisius dan sangat kaya.
Trevor memasang harga rendah agar bisa segera mengenyahkan rumah itu, hanya untuk menutupi biaya pengeluarannya atas setiap detail-detail mahal yang dipasangnya di rumah itu.
Lantai pualam bercorak papan catur di aula depan. Dinding berlis kayu ek. Langit-langitnya yang dilukis langsung oleh seniman dari Florence yang ia pilih sendiri.
Lenyap sudah.
"Apa ada ingin Anda, My Lord?" tanya agen properti itu, menyela lamunan Trevor.
Agen properti itu mengikutinya keluar.
"Kapal-kapal di kanal ini dapat mengangkut apa saja yang Anda pesan dari London. Mereka beroperasi hampir setiap hari."
Trevor mengedakan kembali pandangannya ke arah jalan masuk tadi, memperhatikan sepanjang deretan pohon yang berbaris di pinggir jalan. Bangunan terdekat yang dilihatnya adalah sebuah bangunan batu abu-abu yang berbentuk pondok yang terletak di balik rimbun pepohonan ash.
"Apa itu?"
Agen properti itu menoleh ke petanya sebelum menyipit dalam terik matahari.
"Aku yakin itu adalah kediaman pastor, My Lord.
__ADS_1
"Oh, sungguh?" seulas senyum terbentuk di bibir Trevor ketika ia melihat menggunakan teropong.
Bayangan buram berwarna pastel yang tampak di antara tumbuh-tumbuhan hijau menarik perhatian Trevor.
Senyum Trevor makin mengembang. Hallo, tetangga. Pandangan Trevor yang tajam tertuju pada sosok Miss Kenwood yang sedang mencabuti rumput di kebunnya.
Tiba-tiba saja, Trevor merasakan gelenyar kenikmatan di perutnya, bersamaan dengan denyutan hangat maskulin di tempat yang lebih rendah dari itu.
Kau tidak mengira kalau aku benar-benar akan datang kan, Dear Lady?
Di luar sana, bermandikan cahaya matahari, Grace terlihat lebih memikat daripada yang Trevor ingat. Dan ia sering memikirkan wanita itu selama sepuluh hari terakhir lebih daripada yang rela diakuinya.
Mungkin saja Grace-lah penyebab sebenarnya Trevor rela jauh-jauh datang ke Grange, meskipun ia pasti akan menyangkalnya jika ada orang yang berpendapat seperti itu.
Sebuah senyuman yang lebih lembut lagi terulas di bibir Trevor ketika ia melihat siapa yang menemani Grace.
Seorang gadis kecil, mungkin berusia sekitar empat atau lima tahun, berdiribdi samping Grace sambil menggendong seekor kucing besar berbulu kecoklatan terang.
Kucing yang jengkel itu menggeliat-geliat dari lengan si anak perempuan dan melompat turun, melarikan diri.
Sambil berlutut di antara tanaman-tanaman sayurnya, Miss Kenwood kemudian berdiri dan membersihkan sarung tangan berkebunnya dari tanah, lalu tertawa pada sesuatu yang dikatakan gadis kecil itu.
Trevor memperhatikan wanita itu dari kejauhan dengan senang dan membuatnya semakin yakin untuk segera membeli tempat ini.
Lagi pula, pikir Trevor, jika ia membeli tempat ini, ia akan memiliki tetangga yang menyenangkan.
__ADS_1