
Trevor mengerjap. Apa-apaan ini?
Seorang anak kecil?
Trevor mulai paham. Penduduk setempat.
Reaksi Trevor langsung berubah dari marah menjadi jengkel.
"Kembali ke sini, kau ******** kecil! Siapa orangtuamu?"
Trevor menyarungkan pisaunya dan mengejar anak bandel itu. Si bocah menoleh ke belakang dan lari tunggang-langgang.
Bagus. Trevor memelototinya.
"Sebaiknya kau tidak mencuri apa-apa dariku, dasar kau maling kecil! Aku akan mencari tau siapa dirimu. Kau akan menerima ganjarannya!"
Tiba-tiba saja, sesuatu yang keras menghantam Trevor dari belakang. Ia mengumpat dan berbalik dan melihat batu yang mengenainya masih menggelinding di tanah.
Dalam keadaan kaget, Trevor langsung mendongak, dan mendapati si penyusup kedua; yang identik dengan yang pertama tadi, yang jelas telah melemparkan batu itu.
Anak laki-laki itu sudah menyiapkan satu batu lainnya.
"Jangan ganggu saudaraku!" teriak si berandal kecil.
Trevor menatap anak itu selama beberapa saat, kemudian tertawa tidak percaya.
"Apa yang kau lakukan di propertiku?" tuntut Trevor.
"Apa kau ingin membuat dirimu terbunuh?"
Bukannya menjawab, bocah itu juga berbalik dan melarikan diri.
Masih merasa terhuyung-huyung karena baru bangun tidur dan sama sekali tidak terhibur karena dibangunkan oleh kedua anak petani yang bandel itu.
Trevor mengabaikan mereka sambil mengomel sendiri, cukup yakin kalau sekarang ia sudah membuat mereka ketakutan.
Tapi ketika Trevor hendak berbalik ke rumah, teriakan panik dan ketakutan terdengar dari arah sungai yang deras, diikuti oleh suara debur keras.
Oh, apalagi sekarang? Trevor berhenti dan berbalik, lalu mengerutkan dahi.
Dua detik kemudian terdengar jeritan.
"Tolong!"
Sambil mengumpat pelan, Trevor berbalik ke arah sungai yang airnya sedang banyak dan arusnya deras karena cuaca yang aneh di musim panas yang dingin ini.
Ketika ia melihat batang kayu tua yang dijadikan jembatan di atas sungai itu, ia langsung mengerti apa yang telah terjadi.
Bocah yang melarikan diri tadi tidak berhati-hati karena terburu-buru dan tersandung ketika hendak menyeberangi sungai.
__ADS_1
Beberapa meter di bawah batang kayu, di antara derasnya arus sungai, Trevor melihat kepala bocah laki-laki itu menyembul.
"Sialan," bisik Trevor, ketika kepala kecil itu menghilang ke dalam pusaran air yang berbusa.
Ia langsung menuruni tepian sungai yang curam dan berlumpur, ia meluncur melewati jembatan kayu itu menuju ke bebatuan di bawahnya. Ia masuk ke air hingga setinggi pinggangnya.
Kemudian ia menyelam dan berenang.
----------------------
Masih duduk di bangku pinggi jendela, Grace sedang menghabiskan sisa terakhir teh yang ada di cankirnha, ketika tiba-tiba saja ia melihat sosok keci yang sangat dikenalnya sedang berlari kencang ke jalan masuk rumahnya.
Grace mengerutkan dahi dan melihat lagi dengan baik-baik. Salah seorang si kembar Nelcott? Sulit untuk menebak yang mana, tapi si kembar itu biasanya tidak pernah pergi sendiri-sendiri.
Ekspresi Grace menggelap. Kuharap tidak terjadi apa-apa. Buru-buru menaruh cangkir tehnya yang sudah kosong, ia berdiri dan bergegas ke pintu depan dengan penuh kekhawatiran.
"Miss Grace! Miss Grace! Tolong!"
Begitu membuka pintu depan, Grace melihat kepanikan di wajah anak laki-laki itu.
Grace sama sekali lupa kalau ia belum mengenakan pakaian yang pantas, ia masih mengenakan gaun tidur dan sandal rumah, dan rambutnya yang panjang masih tergerai hingga ke bahunya.
Ia melangkah ke luar ketika bocah laki-laki itu melemparkan diri kepadanya.
Grace mencengkeram bahu kecil anak itu untuk menopangnya meskipunia tidak tau yang satu ini yang mana.
"Ada apa? Tarik napas dalam-dalam dan katakan padaku apa yang terjadi."
"Siapa?" Grace balas menjerit.
Kenny mencengkeram tangan Grace dan menariknya beberapa langkah ke arah jalan.
"Ayo, kau harus menghentikannya! Kau harus membantuku menyelamatkan saudaraku!"
"Dari apa?"
"Dari ogre! Dia punya senjata, Miss!"
"Siapa yang punya senjata? Siapa sebenarnya yang kau maksud? Ogre apa?"
"Di Grange!"
Alis Grace langsung terangkat. Kemudian ia menahan langkahnya untuk menghentikan bocah itu agar tidak terus menariknya.
"Kenny," serunya galak, mulai menyadari kalau anak yang sedang dipegangnya adalah anak yang tidak terlalu bandel.
"Apa yang sudah kalian berdua lakukan?"
Wajah Kenny memucat. "Tidak ada waktu untuk menjelaskannya! Ayo, dia sudah menangkap saudaraku!"
__ADS_1
"Kenny."
"Denny dan aku pergi ke Grange untuk memata-matai pria itu..."
"Oh...!" Grace menelan kembali kata-kata yang tidak pantas untuk didengar anak kecil. Oh Tuhan, pertama Calpurnia, sekarang si kembar ini.
"Dengarkan aku." Grace mencengkeram lengan anak itu.
"Kau tidak boleh mengganggu tetanggu baru kita itu. Dia baru saja kembali dari perang, Kenny. Apa kau tidak berpikir kalau dia menginginkan kedamaian dan ketenangan?"
"Grange itu tempat kami!" teriak anak itu kepada Grace.
"Aku dan Denny yang mengklaim tempat itu terlebih dahulu."
"Tapi dia sudah membelinya, sayang. Lagi pula, tempat itu terlalu berbahaya untuk anak-anak! Kalian tau kalau kalian tidak diizinkan bermain di sana. Bangunan-bangunan tua biasanya banyak paku-paku yang sudah berkarat dan kayu yang lapuk. Kalian bisa jatuh dan leher kalian hisa patah, dan tidak seorang pun yang akan..."
"Itulah yang hendak kukatakan kepadamu! Denny jatuh! Dia melarikan diri dari pria itu."
Grace memucat.
"Apa kau akan menbantuku menyelamatkan saudaraku atau tidak?"
Grace berusaha menelan ludah.
"Biar ku ambil dulu sepatuku." Ia benar-benar terguncang sekarang karena paham benar apa yang telah terjadi, ia segera kembali ke rumah, melontarkan sandalnya, dan mengambil sepatu terdekat yang bisa ditemukannya, sepatu botnya.
Ketika Grace bergegas keluar, Kenny sudah mendahuluinya. Anak itu tampak berlari kembali ke arah Grange, bukannya malah menunggu Grace. Ia berlari mengikuti anak itu.
Grace masih tidak tau pasti apa sebenarnya yang telah terjadi, tapi kedengarannya Denny seperti mengalami semacam kecelakaan.
Mengingat saudaranya harus berlari ke rumah Grace untuk mencari bantuan orang dewasa, situsinya pastilah sangat mendesak, dan Grace takut kalau situsinya juga serius.
Agak panik, Grace terus berlari kearah Grange, sambil berharap kalau tidak ada satu pun penduduk desa yang melihatnya berkeliaran hanya dengan gaun dan jubah malam, dan sama sekali tidak memakai pakaian dalam yang dapat menyamarkan lekuk tubuhnya.
Setibanya di Grange beberapa menit kemudian, Grace mendengar teriakan keras di kejauhan.
Tampak sekelebat bayangan Kenny berlari ke arah sungai, cukup jauh di depan Grace.
Grace mengikuti, dan suara dalam yang marah terdengar makin kencang begitu ia mendekat.
Bergegas melewati kebun buah-buahan, Grace melihat Kenny bersembunyi di balik pohon yang ada di samping kanannya.
Anak itu menujuk ke arah sungai dengan wajah ketakutan.
"Tetap di sini," perintah Grace, meninggalkan Kenny.
Terengah-engah ia memperlambat larinya hingga berjalan cepat, wajahnya memerah karena berlari dan ia berusaha untuk mengatur napasnya.
Follow akun instagram author :
__ADS_1
@finkyalchaxiel