
Damai.
Waktu favorit Grace dalam waktu satu hari adalah beberapa di awal pagi, sebelum hiruk pikuk kehidupan mulai mengusik hari.
Ketika hari baru masih murni.
Saru jam penuh ketenangan sebelum kegilaan-kegilaan kecil terjadi. Saat duduk di bangku jendelanya, dunia bagi Grace terasa begitu damai.
Mrs. Flynn sedang menyiapkan sarapan, aroma lezat muffin yang sedang di panggang dan bacon goreng menguar di udara.
Papa sedang melakukan jalan pagi. Setiap pagi sang pastor akan pergi ke pusat keramaian di desa untuk mengambil koran pagi.
Sementara Grace sendiri, ia baru saja selesai membaca Alkitab dan sedang menyesap teh pertamanya untuk hari ini ditemani kucingnya yang meringkuk di sebelahnya, kaki kucing itu tertindih dadanya dan ekornya bergoyang - goyang menikmati kebersamaannya dengan Grace.
Grace memandang bahagia ke arah pepohonan yang berselimutkan kabut pagi, hatinya dipenuhi kepuasan mengetahui bahwa Lord Trevor sudah kembali ke Grange.
Kehadiran pria itu di sekitarnya membuatnya merasa senang. Seolah ia dapat merasakan pria itu berada di luar sana.
__ADS_1
Tentu saja, Grace sama sekali tidak berencana untuk menerobos privasi pria itu.
Bisa dikatakan Lord Trevor pergi dengan menyelinap kembali ke Thistleton, mungkin untuk menghindari perhatian semua orang di desa ini. Setelah kedatangan Calpurnia kemarin, Grace tidak dapat menyalahkannya.
Namun semalam Grace mendengar kereta kuda Lord Trevor melewati jalanan desa, karena ia tidak dapat lagi tidur nyenyak sejak kepergian pria itu.
Begitu suara agak berisik itu membangunkannya, Grace menyakini kedatangan pria itu dengan melihat cahaya lampu kereta yang mengarah ke Grange, dan setelah melihatnya, Grace sudah tidak dapat tidur lagi.
Bagaimanapun, Grace tidak berniat untuk mengganggu Lord Trevor. Pasti banyak yang sudah dilalui pria itu. Ia butuh istrahat, dan jika mereka hendak menjalin hubungan sebagai teman, ia akan datang sendiri kepada Grace saat ia sudah siap. Hingga saat itu tiba, Grace sudah merasa cukup dengan tidak mengusik pria itu.
Sayangnya tanpa sepengetahuan Grace, si kembar Nelcott sama sekali tidak sepakat dengan pemikiran Grace tersebut.
Bisikan - bisikan samar terdengar dari balik deretan pohon besar yang mengitari Grange.
"Raksasa."
"Ogre."
__ADS_1
"Raksasa!"
"Ogre! Mungkin juga troll. Sulit untuk menebaknya dari sini."
"Itu tidak penting, kan? Intinya dia sudah merebut kastil kita. Kita harus mengenyahkannya!"
"Bagaimana?" tuntut Kenny.
"Aku belun tau," gumam Denny. Ia lebih tua empat puluh menit dibanding kembarannya, biasanya anak itulah yang menjadi pemimpin di antara mereka.
"Kita harus melihatnya dari jarak yang lebih dekat. Ayo."
Bocah - bocah berusia sembilan tahun itu menyelinap untuk menyelidiki orang asing yang berani - beraninya telah memberi Grange dan karena itu membuat mereka berdua tersingkir dari tempat yang selama ini menjadi tempat bermain mereka, tempat pelarian mereka dari dunia.
Tentu saja, mereka tidak diperbolehkan untuk dekat - dekat dengan rumah tua itu, karena bangunan tua yang sudah rapuh bisa runtuh kapan saja, belum lagi adanya hantu gadis pemerah susu yang pernah gantung diri di kandangnya beberapa ratus tahun lalu.
Ah, tapu aturan itu hanya untuk anak - anak lain, bukan untuk si kembar Nelcott, sejauh yang mereka pedulikan.
__ADS_1
Ayah mereka sudah tidak ada, dan mereka tidak akan membiarkan siapa pun mengatur apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan, kecuali kadang - kadang guru sekolah Minggu mereka, Miss Grace.
Tapi itu hanya karena miss Grace sering memberi mereka biskuit kayu manis dan tidak pernah meninggikan suara kepada mereka, dan juga ketika lutut Danny terluka parah, Miss Grace tidak mengatakan kepada satu orang pun di desa ini betapa saat itu Danny menangis seperti adik kecil mereka Bitsy.