
"Ayolah, ini pasti akan menyenangkan."
Trevor sama sekali tidak berniat memberi kesempatan kepada Grace untuk menolak.
Grace merasa seperti akan terkena serangan jantung apopleksi ketika ia berjalan bergegas menyamai lanhkah pria itu, dan berusaha untuk tidak tersandung.
"Lord Trevor!" seru Grace, sementara bahu lebar pria itu dengan mantap menembus kerumunan menuju ke lantai dansa.
Pria itu mengabaikan protes Grace yang setengah hati.
Bisa dikatakan ia diculik saat ini oleh pria itu. Dan para wanita yang sepanjang malam ini memperhatikan pria itu, pasti juga akan memperhatikan. Grace berusaha menyembunyikan rasa takutnya ketika semua sorot tajam mengarah kepadanya dari segala penjuru.
"Abaikan mereka," saran Trevor seolah pria itu dapat membaca pikiran Grace.
Grace menghela napas panjang penuh penderitaan. Setidaknya sorot cemburu para wanita itu membuatnya tau bagaimana rasanya mendapatkan perhatian yang tiada henti dan sama sekali tidak diinginkan, seperti yang diterima Lord Trevor sepanjang malam ini.
Tidak heran kalau pria itu mencari tempat untuk bersembunyi.
__ADS_1
Kemudian Trevor mengarahkan Grace ke tempatnya, mendorong bahunya dengan lembut.
"Tegak!" perintah Lord Trevor.
"Nah, begitu."
Grace menuruti pria itu, jantungnya berdetak kencang. Pipi Grace panas merona, dan korsetnya terasa sesak ketika ia menyadari sedang berdiri di tengah-tengah ruang dansa paling ekslusif di London, menunggu pahlawan nasional yang berdiri di hadapannya untuk memulai tarian tradisional.
Ini pasti mimpi. Hal seperti ini tidak pernah terjadi dalam hidup Grace.
Kemudian Lord Trevor tersenyum penuh keyakinan kepadanya, dan entah bagaimana Grace merasa seperti dapat bernapas lagi.
Lalu musik pun mulai dimainkan, dan Lord Trevor membungkukkan badan kepadanya sesuai irama, sorot wajah pria itu terlihat sangat puas karena kesuksesan keduanya ini, setelah kesuksesan pertama berhasil mengetahui nama Grace.
Anehnya karena berniat untuk menyenangkan pria itu, Grace meresponnya dengan balas membungkuk.
"Aku senang ayahmu bukan tipe pastor yang kaku. Yang tidak percaya pada tari-tarian."
__ADS_1
Pemilihan topik itu membantu membuat Grace merasa rileks. Ia tersenyum miris.
"Oh, Papa adalah penari yang penuh semangat. Dia tidak pernah ketinggalan berdansa quadrulle."
Senyum maskulin Lord Trevor melebar membuat Grace merasa seperti satu-satunya wanita yang berada di ruangan itu. Tarian mereka mulai bergerak cepat.
Mereka berada cukup jauh dari para musisi hingga bisa mengobrol setiap kali ada gerakan yang membuat mereka menjadi berdekatan sebelum akhirnya berpisah lagi ke baris masing-masing.
Grace merasa grogi. Perhatian Lord Trevor sepenuhnya tertuju kepadanya, sementara perhatian Grace sendiri terbelah, antara partnernya dan pemimpin dari tarian itu.
Sosok yang menjadi pusat perhatian semua orang itu beridiri di ujung ruangan, memberi contoh kepada yang lain gerakan-gerakan baru untuk ditirukan.
Namun kemidian Grace menyadari kalau lebih mudah jika ia hanya melihat pasangan yang berada di sampingnya, dan mengikuti gerakan mereka.
Mereka saling mengaitkan jemari hingga tinggi dan berbalik pelan. Sementara Lord Trevor terlihat sedikit bingung dengan tangannya yang satu lagi, yang akhirnya ia letakkan di balik punggung.
"Jadi, ayahmu adalah mentor Lord Brentford muda" ujarnya dengan hati-hati.
__ADS_1