
Sekarang saatnya untuk menghilang. Trevor mengambil jalan memutar di rumah besar sang marques itu agar dapat menghilang dari mereka. Tampak sekilas karya arsitek amatiran, Trevor menahan godaan untuk berhenti dan memperhatikan dengan lebih saksama tangga spiral yang dilewatinya. Pasti pekerjaan Adam, tidak diragukan lagi.
Trevor masuk ke ruangan musik, hanya untuk mendapati seorang countess bersama dengan putrinya yang masih lajang yang kini tengah menatap Trevor dengan sorot menantang dari balik piano. Minggu kemarin Trevor bahkan hampir tidak dapat melepaskan diri dari cengakeraman mereka.
Ah, brengsek. Bersikap santai seolah tidak ada apa-apa, Trevor langsung berputar dan mengarah ke pintu terdekat.
Menoleh ke belakang, Trevor dapat melihat kalau sang countess tengah berusaha untuk menembus kerumunan guna mencapai dirinya. Sial, kini ia dihadang dari dua arah.
Tidak pernah sekalipun ia membayangkan sewaktu masih menjadi pemuda yang pemalu dan berjerawat, bahwa ia akan menghadapi masalah semacam ini.
Trevor mengarah ke pintu pelayan terdelat, namun iring-iringan pelayan keluar dari sana, menghalangi jalannya, memerangkapnya.
Trevor menoleh ke belakang, mencari jalan lain untuk melarikan diri, kemudian menyelinap di pojok dan bergegas di sepanjang lorong. Ia masih dapat mendengar para wanita yang berusaha mengejarnya.
"Oh, Lord Trevor, Sayang, di mana kau?"
"Kami ingin menanyakan sesuatu kepadamu, Tampan!"
Trevor memberengut.
"Oh, Lord Trevor? Pergi ke mana kau, sayangku?"
"Kami punya ide yang luar biasa yang dapat menghiburmu!"
Kikik mereka terdengar makin keras.
"Persetan," desis Trevor pelan. Melihat gagang pintu, ia langsung membukanya dan masuk ke ruangan yang temaram, lalu menguncinya. Setelah buru-buru membasahi ujung jarinya, ia mematikan lilin yang adi di dekatnya.
__ADS_1
Kemudian ia sama sekali tidak bergerak dalam kegelapan itu, menunggu hingga para wanita itu lewat.
Trevor menahan napas ketika para wanita itu mencoba membuka pintu.
"Tidak, Cecily, pintu ini di kunci."
"Ayo, mungkin dia pergi ke atas."
"Oooh! Ya! Oh, sungguh nakal sekali! Mungkin dia sudah menemukan tempat tidur untuk kita..."
Trevor memutar bola matanya, tapi akhirnya ia mendengar mereka beranjak pergi. Ia menghela napas lega dan menyandarkan dahinya ks pintu. Hampir saja.
"Um, maaf," terdengar suara wanita dari dalam kegelapan.
Trevor hampir terlonjak karena kaget. Jangan ada lagi! Ia berbalik, bersikap lebih waspada daripada yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang mantan mata-mata. Namun kemudian merasa kesal sendiri karena sikapnya itu.
Bukti betapa kesalnya ia terhadap, well, hampir semuanya belakangan ini.
Pasti ini lelucon, pikir Trevor. Satu lagi wanita yang tengah menunggunya.
Apa-apaan ini?
Mata Trevor menyipit.
Apakah ini yang dipikirkan para wanita terhadap diriku? Bahwa mereka bisa melakukan apa saja kepadaku? Mengambil keuntungan dariku? Memanfaatkanku?
*Apakah ini yang dipikirkan para wanita terhadap diriku? Bahwa mereka bisa melakukan apa saja kepadaku? Mengambil keuntungan dariku? Memanfaatkanku?
__ADS_1
Baiklah kalau begitu*. Mungkin Nick ada benarnya. Temannya itu selalu mengingatkan Trevor karena terlalu baik pada orang lain. Inilah yang akan dilakukan pria terhormat yang baik, dan bertanggung jawab; terus maju pantang mundur.
Sudah cukup, sumpahnya, tiba-tiba saja merasa sangat marah karena diperangkap dan merasa muak dengan permainan ini.
Bagaimana pemangsa berina kecilnya ini bisa tau dan menunggunya di sini, Trevor terlalu marah untuk bertanya-tanya. Ia benar-benar sudah tidak perduli dengan semua itu.
Tidak lagi mengindahkan tata krama dan sopan santun, Trevor memutuskan sudah tiba saatnya untuk melawan api dengan api.
Saatnya memberi pelajaran yang tak akan terlupakan kepada para wanita pemburu itu.
Trevor tidak tau wanita mana yang berhasil menjebaknya kali ini, tapi wanita itu akan mendapatkan sesuatu yang lebih daripada yang bisa ditanggungnya.
"Well, Sayang," gumam Trevor, berjalan pelan ke arah bayangan wanita itu.
"Di sinilah kita," ujar Trevor dingin.
"Pada akhirnya hanya ada kita berdua."
"Apa? Oh... aku.... um... maafkan aku... aku..."
"Jangan kehilangan keberanianmu sekarang, Chérie," goda Trevor dengan suara pelan dan halus.
"Kau berhasil mendapatkanku untuk dirimu sendiri. Aku akan melayanimu, kupastikan itu. Seseorang yang telah berusaha keras pantas untul mendapaykan imbalan."
Ia bergerak makin dekat.
"Aku disini untuk memberikan padamu apa yang kau inginkan. Jadi bagaimana kalau kita mulai sekarang?"
__ADS_1
Grace hanya bisa berdiri di sana dengan lidah kelu ketika Lord Trevor Montgomery melangkah ke luar dari bayangan, lalu bergerak ke arahnya bak malaikat yang jatuh dengan sorot kebencian terpancar di matanya.
Grace bahkan tidak sempat berteriak ketika pria itu merangkulnya dan menariknya di pelukan; pria itu memerangkap Grace di dada besinya dan dengan kurang ajar menciumnya penuh amarah.