
"Well, setidaknya aku yakin sekali kalau letusan gunung sialan itu bukan karena kesalahanku," gerutu George.
"Tolong jaga bahasamu, George."
"Maaf."
Grace menatap George tajam, namun melunak.
"Baiklah. Aku akan mengatakan kepada Calpurnia kalau kau menanyakan kabarnya."
George meraih tangan Grace dan menciumnya.
"Kau lihat, kan? Kau memang malaikat!" Namun kemudian George melanjutkan, karena pemuda itu bukanlah orang yang tau kapan harus berhenti.
"Sementara Callie, well, jika kau mau mendengar pedapatku, menurutku dia perlu belajar untuk mengendalikan emosinya."
"Begitu ya?"
"Hanya karena aku bermain dengan gadis kedai minuman dia jadi marah besar? Congkak, itu masalahnya. Dia terlalu membanggkan diri! Calpurnia Windlesham berpikir kalau dirinya adalah berkah dari Tuhan untuk seorang pria, tapi gadis itu terlalu besar kepala jika berpikir dia bisa mengatur aku. Kami bahkan belum menikah!"
Grace hanya menatap George dengan tenang sementara pemuda itu melanjutkan keluh kesahnya.
"Dia memang cantik, itu tidak dapat dibantah, tapi gadis itu benar-benar manja, dan ya, aku sendiri tau kalau ironis aku berkata demikian. Kau tidak perlu mengatakannya lagi."
"Sama sekali tidak terpikirkan olehku, George."
__ADS_1
"Kau harus memperingatkannya kalau dia terus-terusan mempermasalahkan hal ini... bersikap kasar dan mencoba menyakitiku untuk membalaskan dendamnya itu... dia bisa saja kehilangan kesempatannya," ujar George dengan nada memperingatkan.
"Dengan menjetikkan jariku, aku bisa mendapatkan sepuluh kali yang lebih baik darinya di penghujung malam ini."
"Tapi kau justru ada di sini sekarang, menghabiskan waktumu denganku yang ketinggalan mode," goda Grace dengan suara pelan.
"Apa yang terjadi dengan pengaggumu?"
"Mereka menemukan idola baru."
"Oh, malangnya kau, jadi terabaikan."
"Tidak sama sekali. Lihat dia, pria yang malang." George mengangguk ke seberang ruangan dengan geli. Mengikuti pandangannya, Grace melihat sekerumunan wanita berdiri mengelilingi seorang pria di sisi lain ruang dansa itu.
"Sedang dikerubuti para ibu yang sedang mencari mangsa untuk putri mereka... dan para isteri bangsawan yang mencari sedikit pertualangan, aku yakin begitu."
George mendengus.
"Begitulah kenyataannya."
Hanya puncak kepala pria itu dengan rambut gelapnya yang terlihat lebih tinggi di banding sanggul-sanggul para wanita yang mengerubunginya.
"Memangnya siapa pria yang mereka pojokan itu?"
"Lord Trevor Montgomery," jawab George masam sambil mengangkat sebelah alis.
__ADS_1
"Ya, kita kedatangan tokoh ternama yang tidak lain adalah agen mata-mata Ordo, di rumah kami malam ini. Apa kau terkesan?"
Grace mengerutkan dahi dan menatap George dengan bingung.
George melihat kalau Grace sama sekali tidak mengerti siapa yang dimaksudnya, dan tawanya meledak karena terkejut.
"Oh, ya ampun, sepupuku sayang! Apa kau tidak pernah membaca koran?"
"Tidak. Isinya terlalu menyedihkan. Well, katakan kepadaku kalau begitu!" seru Grace.
"Baiklah! Baru tersebar bulan lalu bahwa pria yang selama ini kami kira hanyalah sekelompok pria berandalan anggota Klub Inferno, ternyata sebenarnya adalah mata-mata atau pejuang atau pembubuh atau sesuatu seperti itu.
"Pembunuh?" dengus Grace, ia yakin kalau George sedang menggodanya lagi.
"Aku serius, Grace! Tampaknya pria itu merupakan bagian dari gerakan bawah tanah, sekelompok ksatria yang menyebut diri mereka Ordo St. Michael the Archangel."
"Kau dan omong kosong mu itu."
"Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu!" ujar George sambil tertawa senang.
"Kau sebaiknya mulai membaca koran lagi. Mereka itu seperti peninggalan dari Knight Templar atau sejenisnya, sumpah. Mereka diambil dari masih kecil, kemudian dilatih selama bertahun-tahun hingga mereka jadi mematikan dan dilepas ke dunia ini untuk bertempur demi Inggris. Kau masih belum terkesan?"
Grace mengangkat bahu, menatap George dengan tidak yakin.
Meskipun saat ini George tidak sedang mengolok-ngolok kenaifannya sebagai seorang gadis desa, Grace tidak menyukai kekerasan dan sama sekali tidak yakin kalau ia senang berada di ruangan yang sama dengan pembunuh suruhan pemerintah.
__ADS_1
"Sepertinya Ordo itu sudah ada sejak Perang Salin," ujar George.
"Mereka telah berjuang untuk kerajaan sejak peperangan itu. Sekumpulan pahlawan sialan..."