
Grace bahkan hampir tidak melihat ke arah pria itu, hanya sekedar bergerak mengikuti gerakan tarian yang diperagakan.
Pikiran Grace terfokus sepenuhnya kepada Lord Trevor. Jantungnya berdegup kencang ketika mereka akhirnya kembali berpasangan.
"Apakah aku telah membuatnu kesal lagi? Apa ucapanku tadi terlalu blak-blakan?" ujar Lord Trevor dengan sedikit terengah-engah, mendekatkan bibirnya ke telinga Grace.
Gairah Grace sudah mulai sedikit bergejolak dan ia takut pria itu mengetahuinya.
"Jangan konyol. Hanya saja... aku tidak menduga kalau kan akan kembali ke pesta ini."
"Aku harus meminta maaf kepadamu."
"Omong kosong, kau sudah melakukannya."
"Itu masih belum cukup, Miss Kenwood. Aku bersikap seperti orang barbar terhadapmu. Kau pantas mendapatkan permintaan maaf yang lebih baik dari itu." bisik Lord Trevor.
"Dan aku ingin kau tau bahwa aku sungguh-sungguh meminta maaf. Bukan hanya sekedar ucapan belaka."
Grace menundukkan kepalanya, tersenyum, sekujur tubuhnya menggelenyar.
"Well, aku tadi sudah membalasmu dengapn menusuk tanganmu dengan jepit rambutku."
"Ya," sahut pria itu, tersenyum ketika bibirnya menyentuh telinga Grace.
"Sebagai seorang putri pastor, kau cukup bengis juga, ya?"
Grace menatap riang ke arah pria itu.
"Kau sendiri yang memulainya."
"Hmm." Mata Lord Trevor terlihat berkilau.
__ADS_1
Wanita ini tidak tau betapa cantik dirinya. Trevor mendapati dirinya semakin terpesona.
Kecantikan Miss Kenwood melampui kecantikan fisik. Ia baik hati, sederhana, dan lembut dalam berbagai macam sisi, hingga pria yang biasa berkutat dengan kekejaman dunia pasti akan jatuh hati kepadanya.
Namun pengkhianatan yang diterima Trevor baru-baru ini, tidaklah mudah untuk dilupakan, apalagi dihilangakan.
Setelah Trevor selesai menari bersama Grace, membungkuk dan mencium tangan wanita itu sebagai ucapan terima kasih penuh hormat, mereka berdua kemudian berbalik untuk memberi tepuk tangan kepada para musisi, dan tia-tiba saja ia melihat rambut emas yang sangat dikenalinya di sisi lain ruangan.
Trevor seketika menegang.
Senyum Trevor sedikit memudar selama beberapa saat, ia menundukkan pandangannya, sekali lagi tenggelam dalam kepahitan yang telah mengeraskan hatinya yang memang sudah menjadi dingin.
Laura dan tentara idiotnya. Wah, wah. Mungkin pesona Grace, dengan mengejutkannya, menurunkan sedikit pertahanan diri Trevor, tapi ketika ia sekali saja menoleh kepada Laura, amarah yang dingin, sakitnya ditusuk dari belakang, dan perasaan diabaikan... semua itu kembali membanjirinya.
Bahkan lebih daripada kebencian Trevor terhadap wanita yang kecantikannya tak bercela itu, sejujurnya ia lebih menyalahkan dirinya sendiri karena bergantung pada sesuatu selemah seorang wanita.
Itu tidak penting sekarang, janji Trevor kepada dirinya sendiri. Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi.
Grace masih bertepuk tangan untuk para musisi ketika Trevor menarik sikunya dengan lembut untuk mengucapkan perpisahan.
Jika Trevor butuh diingatkan bahwa wanita itu tidaklah penting, sekaranglah saatnya. Ia mengingatnya dalam hati.
Grace Kenwood lebih menyenangkan dibandingkan wanita kebanyakan, dengsn keberadaannya yang tenang dan kuat. Ia tidak berusaha menarik perhatian orang lain kepadanya. Namun apa pun yang ditampilkan wanita ini saat ini, Trevor tidak akan mau kembali terjerat dalam perangkap wanita.
Wanita yang satu ini, Trevor khawatir, dapat membuatnya kembali lembek, terutama karena wanita itu sama sekali tidak berpikir untuk untuk melakukannya.
Grace Kenwood belum dapat dikatakan seratus persen aman.
Setidaknya begitulah penilaian Trevor melihat sikap Grace sejauh ini. Jika ia masih berkecimpung dalam dunia mata-mata, Grace akan menjadi orang yang sangat diwaspadainya. Tidak bersikap sinis, tidak sombong, dan sudah jelas dapat cepat memaafkan. Tipe yang melihat sisi terbaik dari semua orang.
Mungkin Grace cocok menikah dengan seorang petani desa, pikir Trevor masam. Pria yang tidak akan pernah mematahkan hatinya.
__ADS_1
Tapi itu benar. Pembawaan Grace yang tanpa tipu daya mengakibatkan Trevor kehilangan kendali itu menjadi sesuatu yang aneh dan asing, setidaknya di mata seorang pria ysng sudah pernah dikhianati dua kali oleh orang-orang terdekatnya.
Ketika Grace menoleh kepadanya dengan sorot bertanya, Trevor membungkuk mendekat ke telinga Grace.
"Terima kasih karena mau bersamaku malam ini, Miss Kenwood."
Trevor berhati-hati memilih kata-katanya, agar ia dapat mengungkapkan rasa hormatnya kepada wanita itu sekaligus menjauhkannya. Demi mereka berdua.
"Ini pengalihan yang menyenangkan. Tapi sayangnya aku harus pergi sekarang."
"Oh!" Grace menatap Trevor terkejut, memperhatikan wajahnya dengan saksama.
"Apakah ada yang salah, My Lord?"
Trevor tersenyum formal kepada Grace dan berbohong, yang tidak dimaksudkan untuk menipunya, namun sebuah cara yang halus untuk mengatakan kepadanya. Ini bukan urusanmu.
"Tidak sama sekali," jawab Trevor.
"Aku cuma baru ingat ada sesuatu yang harus kulakukan di rumah. Aku benar-benar minta maaf, tapi ini adalah sesuatu yang mendesak dan harus kuselesaikan sebelum pagi."
"Oh, aku... aku ikut prihatin mendengarnya. Baiklah." Grace tersenyum ceria, namun Trevor masih dapat melihat kilatan ragu di mats wanita itu.
Trevor dapat melihat kalau Grace tau dirinya sedang berbohong, namun Tuhan memberkati wanita itu, karena memilih untuk tidak mendesaknya.
Grace mengulurkan tangan untuk bersalaman, satu lagi pembawaan anwh wanita itu.
"Senang bertemu denganmu, Lord Trevor."
"Aku yang senang." Trevor menjabat tangan Grace dengan lembut.
"Tolong sampaikan salamku kepada ayahmu, Miss Kenwood. Selamat malam."
__ADS_1
"Selamat malam," balas Grace.