My Notorious Gentleman

My Notorious Gentleman
#11


__ADS_3

"Jangan suruh aku keluar. Karnivor-karnivor itu. Mereka memburuku."


"Well, tapi kau juga tidak bisa tetap di sini!" jelas Grace, meskipun butuh waktu beberapa saat baginya untuk memahami maksud perkataan pria itu. Kemudian bayangan-bayangan tidak senonoh mulai terpampang di benaknya.


"Oh Tuhan," katanya perlahan.


Trevor telah salah mengira Grace sebagai salah satu dari wanita yang tidak punya malu yang dari tadi menggelayutinya di ruang dansa.


Trevor juga mengerutkan dahi, ketika akhirnya menyadari kesalahannya.


"Well," pria itu berbalik dan menggaruk pipinya. "Ini buruk sekali."


"Aku berani bersumpah..."


"Maafkan aku, Miss, um... bolehkah aku tau namamu?"


"Sekarang kau baru menanyakan namaku?"


"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," ujar Trevor sambil mengangkat bahu.


"Kurasa tidak." Grace menggeleng tegas, meskipun sebenarnya ia tidak suka harus bersikap kasar seperti ini.


"Menurutku lebih baik kalau kita berpisah tanpa mengenal lebih jauh satu sama lain. Dengan begitu kita mungkin dapat melupakan kejadian yang memalukan ini."


"Apa kau menganggapnya begitu?" gumam Trevor, sementara Grace mengabaikan gelenyar rasa bersalah dari kebohongannya, karena sebenarnya, ia sudah tau siapa pria itu. Tidak perlu ada perkenalan, setidaknya dari sisinya.

__ADS_1


Sementara untuk pria itu, akan lebih baik jika ia tidak tau siapa Grace. Akan lebih aman untuk reputasi Grace.


"Baiklah," sahut Lord Trevor, dan meskipun kelihatannya ia sedikit tercengang dengan perubahan drastis sikap Grace kepadanya, yang langsung begitu dingin padahal mereka baru saja berbagi ciuman panas, namun ia tetap berusaha membungkuk hormat.


"Sesuai permintaanmu. Terimalah permintaan maafku yang paling dalam atas kesalahan yang penuh penyesalan ini."


Ia kemudian terlihat ragu, seolah ingin berkata lebih, namun kemudian mengurungkan niatnya.


"Well... Itu saja." Kemudian ia melangkah ke pintu.


Grace memperhatikan dengan waspada ketika Lord Trevor beranjak, jantungnya berdetak kencang. Tapi ketika mendengar suara berisik di koridor, ia langsung terkesiap, mengejar, dam menarik lengan pria itu.


"Tunggu!" bisiknya.


Lord Trevor menatap Grace bingung dan tersenyum nakal.


Grace dengan kesal menyuruh pria itu diam.


"Dengar! Ada orang di koridor!" bisiknya sambil menaruh jari telunjuk di bibir.


"Lalu?"


"Kalau kau melangkah sekarang, dan seseorang melihatku di dalam sini... hanya berduaan saja demganmu, dalam ruangan yang gelap, maka reputasiku akan hancur! Tidak akan lagi yang tersisa untuk keluargaku. Kau tidak bisa menghancurkanku," bisik Grace marah.


"Well, hilang sudah tujuan dan cita-cita hidupku," gerutu Lord Trevor pelan.

__ADS_1


"Baiklah. Jangan terlalu ketakutan begitu. Aku yakin akan bisa menemukan jalan lain untuk keluar dari sini." Sambil memberi tatapan mengejek pada Grace, pria itu berbalik dan berjalan melintasi ruangan menuju ke pintu ganda, membukanya dan melangkah ke balkon kecil yang menghadap ke taman.


Grace mengikuti pria itu dengan ragu.


Lord Trevor melongok untuk mengira-ngira jarak balkon itu dengan tanah di bawah. Kemudian, dengan gaya malas-malasan mencengkeram terali balkon, dan mangayunkan satu kaki ke sisi seberangnya.


"Berhati-hatilah!" bisik Grace memperingatkan, yang membuatnya menerima tatapan tajam yang lama dari pria itu.


"Terima kasih atas perhatianmu, Miss...?"


Grace kembali menggeleng.


"Dasar keras kepala," cela Lord Trevor, kemudian dengan gesit merendahkan badannya di langkan luar balkon. Dari sana ia bergeser ke samping, ke terali besi yang dipasang di bagian luar dinding mansion yang sela-selanya di tumbuhi bunga mawar.


Dari sana, sang mantan mata-mata itu dengan santainya memanjat seolah ini adalah pekerjaannya sehari-hari. Dan mungkin memang benar begitu, berdasarkan cerita yang Grace dengar mengenai pria itu.


Kecuali kejadian kecil berikutnya.


"Aduh!" Grace mendengar pria itu menggerutu saat ia melongok dari pinggir balkon, memperhatikan gerakan gesit pria itu dengan kekaguman.


"Ada masalah apa?" seru Grace dalam bisikan keras.


"Duri! Bukan sesuatu yang akan kau khawatirkan. Kau bahkan tidak mau mengatakan namamu kepadaku. Aku masih akan tetap hidup," ujar Lord Trevor menyakinkan Grace dengan nada merajuk.


Grace menahan diri untuk tidak tersenyum.

__ADS_1


Ketika hampir mencapai kebun bunga di bawah, Lord Trevor melangkah turun dari terali dan mengangkat jarinya ke mulut untuk mengurangi darah di luka kecilnya.


__ADS_2