
Cantik tapi bodoh.
Tiga wanita yang ada di sebelah kiri Trevor berusaha mengajaknya bermain tebak-tebakan sebagai usaha mereka untuk merayunya.
"Jika Lord Trevor adalah binatang, kira-kira dia binatang apa?" tanya mereka menggoda.
"Beruang, kurasa," jawab gadis berambut cokelat dengan gaya menggoda.
"Terima kasih banyak," gumam Trevor.
"Serigala!"
"Bukan, anjing pemburu."
Trevor mengangkat sebelah alisnya, terlihat bosan. Sementara itu, tiga orang wanita yan ditengah berusaha menyusun agenda kegiatan sosial untuk Trevor.
Ia bahkan sudah merasa lelah hanya dengan mendengarkan susunan kegiatan yang dibicarakan para wanita itu padanya.
Tidak mungkin ia pergi ke acara bodoh seperti pameran bunga, apalagi opera. Tidak, ia sudah cukup mendengar teriakan orang-orang Italia ketika ia sedang menjalankan tugas rahasia bersama Nick di pinggiran kota Roma. Tidak, terima kasih.
Tapi Trevor berusaha terlihat bersemangat, ia hanya mengangguk sopan.
Dua orang wanita penggoda lainnya yang berada di sebelah kanan Trevor, lebih blak-blakan dalam mengungkapkan apa yang ada di pikiran mereka.
Sialan, mereka memberi sinyal pada Trevor melalui mata besar mereka, yang biasanya diarahkan pada rekan setimnya yang lebih tampan.
Namun Beau sudah menikah, dan Nick dipenjara, jadi sepertinya mereka harus berhadapan dengan Montgomery yang membosankan, bijaksana, dan dapat diandalkan.
__ADS_1
Trevor menatap curiga kedua wanita nakal itu, bertanya-tanya dalam hati apakah seharisnya ia meningkatkan kewaspadaannya. Karnivor. Yang satu menijilati bibir sambil memandanginya; yang satu lagi tersenyum seolah sambil berpikir untuk melumpuhkannya di atas lantai dansa dan menelanjanginya.
Memang pernah beberapa kali di masa lalunya, tentu saja, saat ia berada ratusan kilometer dari Laura, ia menanggapi dengan senang hati undangan semacam ini, namun kali ini bukanlah saat yang tepat.
Mereka semua boleh saja pergi keneraka dan ia tidak akan peduli sama sekali.
Dengan cara pandang baru itu, Trevor memalingkan pandangannya, sekujur tubuhnya menampilkan kesan dingin. Ketika jarum jam sudah menunjuk ke angka sebelas, ia langsung merasa muak dengan semua ini. Malam ini. Basa-basi ini sama sekali tidak ada gunanya.
Sudah jelas kalau Laura dan sang mayor tidak datang malam ini.
Sebenarnya Trevor senang membayangkan saat Laura melangkah masuk ke ruangan ini, wanita itu akan mendapati dirinya tengaj dikerumuni oleh para wanita. Tapi ia sudah bertahan di sini selama dua jam, dan saat ini ia tidak lagi peduli.
Wanita itu tidak pantas untuk dipusingkan
Ia akan pulang ke rumah.
Mereka awalnya tidak membiarkannya pergi begitu saja. Trevor harus mengabaikan usapan tangan mereka yang bertujuan menahannya; pertanyaan-pertanyaan yang dimaksudkan untuk menunda kepergiannya; dan ia juga harus berbohong sambil mengatupkan kedua giginya dengan mengatakan tentu saja ia akan segers kembali untuk berdansa dengan merea semua.
Trevor terus melangkah mundur sampai ia terbebas dan dapat melarikan diri dari tempat itu.
Ketika bergegas pergi, Trevor mendengar para wanita berbisik satu sama lain, mengatakan bahwa ia pasti akan di dimaafkan atas sikap kasarnya itu karena baru saja mengalami patah hati.
Trevor menggertakan giginya dan berjalan ke arah koridor penghubung berlantai marmer, di mana banyak para tamu yang hilir mudik di sana. Karena kebiasaan, Trevor mengecek cermin yang tergantung di dinding dan bahkan sempat hendak berhenti untuk mencari tau apakah ada yang menguntitnya.
Dua orang wanita yang bergaun sutra dan berhiaskan berlian sepertinya tidak berniat membiarkan Trevor pergi begitu saja.
Ia menggerama pelan dan bersaha berjalan lebih cepat, bertekad untuk melarikan diri dari mereka. Ketika Trevor berjalan lebih cepat lagi, bisikan di belakangnya berubah menjadi cekikikan, dan kedua wanita itu juga ikut berjalan dengan cepat.
__ADS_1
Apa mereka pikir ini main-main?
Tampaknya kedua wanita ini belum pernah mendengae bahwa Klub Inferno yang bejat itu hanyalah sebuah kedok bagi Ordo, bahwa anggotanya tidak seburuk seperti yang mereka ingin dunia percayai. Khususnya Trevor.
Trevor senang membayangkan dirinya dianggap sebagai orang yang membosankan. Bertanggung jawab. Dapat diandalkan. Memang sikap itulah yang harus dimilikinya karena ia datang dari keluarga seorang duke yang bermasalah, yang kemudian ditugaskan dalam sepuluh tahun berikutnya dalam tim berisikan tiga orang, bersama dengan Beauchamp (si norak) dan Nick sialan Forrester (si bajingan)
Harus ada yang bersikap dewasa.
Para wanita yang tengah memburu Trevor ini pasti mengira kalau ia sedang bermain-main dengan mereka. Ia menahan dorongan untuk membalikkan badan dan melabrak mereka dengan terang-terangan.
Namun ia tidak bisa melakukan itu meskipun menginginkannya. Sikap tak tercela dan berperilaku halus adalah kutukan yang harus dijalankannya saat ini. Seperti seorang idiot, bahkan mengatakan pada Laura bahwa ia memahami keputusan wanita itu dan mengucapkan selamat bahagia padanya.
Benar-benar omong kosong.
Trevor masih mendengar bisik-bisikan itu mengikutinya, dan tidaklah sulit untuk menebak apa yang mereka inginkan. Mungkin sebaiknya kuturuti saja, pikirnya geli. Dengan begitu setidaknya ia akan mendapat kepuasan dari gosip yang nantinya beredar dan terdengar sampai ke telinga Laura.
Laura tidak mencintainya, namun cukup egois untuk cemburu. Itu merupakan salah satu cara halus untuk membalas kelakuan wanita itu yang telah mempermalukannya di depan umum.
Tapi tidak. Berpikir bahwa ia akan memanfaatkan para wanita-wanita nakal itu untuk kepentingan pribadinya, membuat Trevor jadi muak.
Tidak, ia sudah enggan memanfaatkan seks untuk motif-motif terselubung.
Sudah cukup buruk saat ia harus melakukan perbuatan itu dulu, demi kepentingan Inggris selama masa tugasnya sebagai mata-mata.
Sekarang ia sudah tidak mau lagi menjadi pria pekerja seks semacam itu.
Lagi pula, ia bukan Nick.
__ADS_1