
Pov author..
Malam berlalu begitu cepat, Alena masih setia dalam gulungan selimut tebalnya. Sedangkan Abi dia sudah rapih dengan pakaian kantornya.
"Alena bangun." Abi membangunkan Alena tapi Alena tak kunjung bangun.
"Alena ayo bangun." Abi duduk di sebelah Alena, dia membuka gulungan selimut yang membaluti tubuh Alena.
Abi kaget melihat Alena bercucuran keringat, dia memegang dahi Alena.
"Alena kamu sakit?" Tanya Abi, Alena hanya berdesah lemas.
Abi mengambil jaket dan memakaikan nya kepada Alena, dia dengan sigap menggendong Alena menuju mobil dia hendak membawa Alena ke rumah sakit.
Abi membawa mobil dengan kecepatan ala pembalap, dia begitu panik melihat Alena tak berdaya.
"Tahan Alena, kita sebentar lagi sampai rumah sakit."
Rumah sakit (UGD)
"Dok, istri saya gak papa kan?" Tanya Abi kepada dokter.
"Istri bapak hanya kecapean dan kekurangan gizi, pasti kan beri makanan yang bergizi ya." Balas dokter.
"Baiklah dok."
"Saya permisi." Dokterpun pergi meninggalkan Abi.
Abi memasuki ruangan UGD, dia melihat Alena begitu lemas dengan infusan di tangannya.
"Kenapa kamu kecapean Alena? Sebenarnya seharian kemarin kamu ngapain saja?" Gumam Abi seraya memegang tangan kanan Alena.
****
Drrrt...drrttt...
"Siapa yang menelpon?" Abi merogoh handphone nya dari saku celananya, dia melihat nama kontak yang menelponnya.
Me 'Hallo, ada apa lu?'
Lulu 'Kak bisa datang ke rumahku gak?'
Me 'Ada apa?'
Lulu 'Bantuin pindahan, Lulu mau pindah ke apartemen'
Me 'Kenapa pindah?'
Lulu 'Ada perbaikan rumah dulu, papa baru ngasih tahu jadi Lulu belum sempat beresin barang barang. Maukan bantuin?'
Me 'Aku segera kesana'
Lulu 'Makasih kak'
Abi bergegas menemui Lulu, untuk membantu pindahan Lulu sedangkan Alena, dia di tinggalkan di rumah sakit sendirian.
"Alena gak papa kalau aku tinggal sebentar, lebih baik aku minta Ken jagain Alena." Abi menelpon Ken.
Ken 'Ada apa pagi pagi nelpon saya?' (mode kerja)
Me 'Datang ke rumah sakit xxx sekarang juga'
Ken 'Memangnya ada apa pak?'
Me 'Sudahlah datang saja, jangan banyak nanya'
__ADS_1
Ken 'Baik saya segera kesana'
Panggilan terputus.
Ken bergegas menuju rumah sakit.
"Apa yang terjadi, kenapa Abi nyuruh ke rumah sakit?" Selama perjalanan Ken bertanya tanya, apa yang sebenarnya tejadi. Setelah setengah perjalanan menuju ke rumah sakit Ken mendapat sebuah pesan singkat pada aplikasi si hijau.
Jagain Alena, dia sakit. Aku ke rumah Lulu bantuin pindahan.
Oh iya, Alena masih di UGD.
"Abi benar benar gila, bukannya gak suka sama Lulu tapi dia." Ken memukul setir mobil. "Dasar bodoh, istri sakit malah di tinggalin."
Rumah sakit
Ken memasuki ruangan UGD, dia melihat Alena yang masih terbaring lemah dengan infusan di tangannya. Ken menghampirinya dan duduk di kursi samping, Ken memegang tangan kanan Alena.
"Sabar ya Alena, kamu tahu? Abi sekarang pergi menemui wanita yang paling di bencinya, aneh bukan? Aku juga heran, kenapa dia jadi goyah seperti ini padahal dia sudah memilih kamu. Jika memang ingin bersama wanita itu kenapa harus menikahimu?" Ken bergumam di dekat Alena, Alena pun membuka matanya dengan refleks Ken menarik tangannya yang dari tadi memegangi tangan kanan Alena.
"Aku dimana?" Tanya Alena.
"Ibu ada di rumah sakit." Balas Ken kembali ke mode kerja, yang tadinya aku kamu jadi ibu bapak.
"Ahh.." Alena berdecih. "Presdir dimana?"
"Presdir sedang ada rapat." Jawab Ken berbohong.
"Ah begitu, sekretaris saya mau pulang." Ucap Alena.
"Tunggu sampai air infusannya habis." Sahut Ken.
"Tapi saya mau pulang sekarang." Alena keukeuh minta pulang.
"Tolong dengarkan saya, nanti saya kena marah oleh presdir." Ucap Ken beralasan.
"Saya permisi keluar sebentar nyari makan buat ibu." Ken pamit untuk membeli makanan, Alena hanya menganggukan kepala mengiyakan ucapan Ken.
SKIP
Abi telah sampai di kediaman Lulu, dia mengetuk pintu rumah. Dan keluarlah Lulu dari balik pintu rumah, dia mengenakan jeans di atas lutut dan di padukan dengan croptop berwarna putih, dia sengaja mengenakan pakaian terbuka di depan Abi.
"Kakak." Panggilnya seraya bergelayut di tangan kekar Abi, Abi berusaha menepisnya.
"Jangan gini ya." Ucap Abi seraya mencoba melepas tangan Lulu.
"Kenapa kak? Kakak udah gak sayang sama Lulu yah? Lulu kecewa padahal kakak orang yang paling sayang sama Lulu sejak dulu." Ujar Lulu dengan raut wajah kecewa.
"Iya paling sayang, dan sayangnya kamu merusak itu sehingga rasa sayang itu hilang seiring berjalannya waktu." Batin Abi.
"Sudahlah, ayo cepat berkemas. Aku ada urusan lain." Ucap Abi, nyelonong masuk ke dalam rumah dan segera merapikan barang yang akan di keluarkan dari rumah.
"Ngomong ngomong kamu pindah ke apartemen mana?" Tanya Abi.
"Belum nentuin juga sih, tapi kak apa boleh Lulu numpang dulu tinggal di rumah kakak? Cuma satu minggu kok." Tanya Lulu.
"Aku belum menyiapkan rumah pasca pernikahan, kalau mau tinggal saja di rumah mama."
"Emangnya boleh kak?"
"Boleh, mama sama kamu akrab kan?"
"Akrab lah, lagian Lulu kangen banget sama tante Sera."
"Okeh nanti aku anterin kamu ke rumah ya."
__ADS_1
"Loh emang kakak mau kemana setelah nganterin Lulu?" Tanya Lulu, padahal dia berinisiatif pindah ke rumah Abi untuk terus bisa bersama Abi.
"Aku harus ke rumah sakit dan setelah itu ke hotel." Balas Abi.
"Hotel? Ngapain ke hotel?" Lulu benar benar tak tahu kalau Abi masih di hotel dengan Alena, istrinya.
"Biasa kalau habis menikah ya gitu." Balas sambil ketawa mesum.
Raut muka Lulu berubah seketika. "Jadi kakak udah gak perjaka lagi ya?"
"Anak kecil tahu apa sama keperjakaan?"
"Itu Lulu tahu dari teman lelaki Lulu." Balasnya menghindar dari sisi Abi.
"Yadeh."
"Aku pikir kak Abi menikahi wanita lain hanya karena ingin membatalkan pernikahan kita semata, tapi dia benar benar mencintai istrinya itu. Memang secantik apa sih wanita yang jadi istrinya kak Abi?" Batin Lulu meronta ronta.
Setelah selesai packing, semua barang yang akan di bawa sudah di msukan ke dalam mobil.
"Gak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Abi memastikan.
"Gak kok udah semua kak." Balas Lulu memasuki mobil.
****
"Aku bosen sendirian disini, presdir kok belum datang juga?" Gumam Alena seraya memainkan selang infusan di tangannya.
Cklek...
"Maaf lama, ini makanan untuk ibu." Ucap Ken seraya membuka bungkusan makanan.
"Pak Ken presdir mana?" Alena terus saja mencari keberadaan Abi.
"Makan saja dulu, nanti juga pak Abi datang." Sahut Ken, dia memberikan satu kaleng soda kepada Alena.
"Terimakasih." Alena mengambil minuman yang di berikan Ken, dan meminumnya.
"Makan ya." Ucap Ken, dia duduk di samping Alena.
"Bapak gak makan juga?"
"Saya sudah kok."
"Oh ya, ngomong ngomong jangan panggil ibu. Saya serasa kayak sudah tua di panggil ibu, panggil nama saja." Ucap Alena.
"Apa boleh seperti itu?" Ken memastikan.
"Boleh, panggil saja nama."
"Baiklah, Alena."
"Nah gitukan enak di dengar."
"Dan saya juga minta, jangan panggil pak saya belum tua tua banget loh."
"Om?"
"Please, no!"
"Mas Ken."
"Oke juga, mas Ken." Ucap Ken tersenyum mendengar ucapan Alena yang memanggilnya dengan panggilan mas Ken.
"Alena." Panggil seseorang dari balik pintu.
__ADS_1
Alena dan Ken melihat pemilik suara itu bersamaan.