My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 47


__ADS_3

"Apa?" Becky terkejut mendengarnya.


"Hei mih, jangan kaget begitu." Enteng Lulu.


"Kenapa kamu sebrengsek ini sih lu? Kenapa kamu menjadi wanita gila? Kenapa?" Teriak Becky, tak menghiraukan pelanggan yang ada di cafe.


"Mami tahu sejak dulu Lulu hanya menyukai Abi seorang mih. Lulu gak akan segila ini kalau Abi menerima Lulu sejak awal, Lulu gak akan nekad mih, gak akan." Jelas Lulu berkaca kaca.


"Iya iya kamu tenang mami tahu, maafin mami sayang." Becky memeluk putri semata wayangnya.


"Gimana nih mih, Lulu gak tenang soal tes DNA." Resah Lulu.


"Biar mami yang urus, kamu fokus saja baby kamu. Mami sudah siapin semuanya, kamu tenang saja." Ucap Becky.


"Makasih mih, kalau gitu Lulu pamit pulang ya." Ucap Lulu.


"Mami anterin kamu ya."


Becky dan Lulu beranjak dari tempat duduknya, mereka pulang. Becky mengantar anaknya terlebih dahulu.


****


"Pernikahan kita tinggal menghitung hari loh mas, tapi kamu kenapa gak berhenti kerja padahal sekarang weekend loh." Keluh Jia pada Ken, bukannya fokus pada pernikahan yang sebentar lagi dilaksanakan.


"Kamu kenapa gak pulang aja sih, ganggu aja." Ketus Ken.


"Aish...dasar cowok gila kerja." Jia menggerutu, mengutuk calon suaminya.


"Hei, kamu ngomong gitu kedengaran loh."


"Bodo amat." Jia membuang muka.


"Calon istriku yang cantik, kamu jangan marah gitu ya." Bujuk Ken lalu menghampiri Jia.


"Tahu deh, aku marah nih." Ucap Jia, bukannya kelihatan marah Jia malah terlihat imut.


Ken tersenyum tipis lalu menggoda jia. "Kayaknya bakal ada pertempuran hebat deh."


Jia memutar bola matanya, mukanya yang imut membuat Ken semakin ingin menggodanya.


"Beruang kutub, apa aku harus mati di tangan beruang kutub. Calon istriku merajuk hebat, aku ingin mati saja." Kata Ken, namun Jia tak menggubris perkataan Ken. "Ah bukan beruang kutub, sepertinya lari ke tengah jalan lebih baik."


Lagi lagi Jia tak menggubris perkataan Ken, dia malah mengernyitkan dahinya menatap kesal calon suaminya itu.


"Sayang maafkan aku, aku benar-benar akan lari ke tengah jalan sekarang." Ken membuka pintu rumahnya, lalu berlari ke jalanan. Lulu yang melihatnya sontak kaget, lalu ikut berlari dan berteriak.


"Sayang jangan." Teriak Jia.


"Selamat jalan sayang." Teriak Ken.


"Sayang jangan aku mohon jangan."


Ken tersenyum melihat Jia, misinya membuat Jia khawatir berhasil. Namun sayangnya Ken tak melihat ke arah depan, sebuah motor yang melaju kencang berhasil menyerempet tubuhnya hingga terguling ke aspal.


"Sayang." Teriak Jia, lalu berlari secepat mungkin untuk menghampiri Ken.


"Kamu gak papakan?" Tanya Jia khawatir.


"Argh..."


"Kenapa kamu nekat banget sih, aku kan khawatir. Coba sini bangun, aku mau lihat mana saja yang sakit, kita ke rumah sakit ya."


"Nggak usah, cuma pegel doang." Elak Ken menahan rasa sakit, padahal seluruh tubuhnya seakan habis di gebukin.


"Yakin?"

__ADS_1


"Iya yakin, aku istirahat aja deh."


"Kamu ini gimana sih, pernikahan kita tinggal menghitung hari loh, kamu malah cedera begini." Ucap Jia seraya memapah Ken menuju kamarnya.


"Maafin aku sudah bikin kamu khawatir." Ucap Ken.


****


"Baru pulang?" Tanya Alena yang sedang menyirami tanaman yang ada di depan rumah.


"Hmm." Lulu hanya berdehem saja lalu masuk ke rumah.


Alena menatap punggung Lulu yang semakin menjauh dari pandangannya, lalu menghela nafas dalam-dalam.


"Makin enak aja ya kamu tinggal disini." Gumam Alena, melanjutkan lagi aktivitas menyiram tanaman.


"Lu." Panggil Sera.


"Iya tante." Balas Lulu, lemas.


"Kamu pasti capek ya, sini kita duduk." Sera memapah Lulu untuk duduk.


"Terimakasih tante, tante sangat perhatian pada Lulu padahal Lulu bukan menantu tante." Ucap Lulu.


"Sebentar lagi juga bakal jadi menantu tante." Balas Sera.


Pov author end....


Malam ini saat kami sekeluarga sedang melaksanakan makan malam bersama, tiba-tiba Lulu merintih kesakitan. Aku tak tahu apa yang terjadi, sejak tadi dia memegang perutnya.


"Aduh aduh." Pekiknya.


"Kenapa lu?" Tanya mama mertua.


"Iya lu ada apa, apa ada yang sakit?" Timpal papa mertua.


"Jangan jangan Lulu mau melahirkan." Ucap mama mertua.


"Sakit banget, Lulu gak kuat." Lirih Lulu begitu parau.


"Sayang ayo bawa Lulu ke rumah sakit." Tutahku pada Abi, sontak Abi memapah Lulu menuju mobil.


Aku mengikuti dari belakang bersama mama mertua dan papa mertua, kami cepat cepat memasuki mobil lalu Abi pun langsung menancapkan gas.


"Huh..huh..." Lulu mencoba meluruskan pernafasannya.


"Bagus, tarik nafas." Instruksi mama mertua pada Lulu, lalu Lulu pun mengikutinya.


"Lalu buang."


Aku menyaksikan kegelisahan mama mertua begitupun papa mertua, aku melirik ke arah samping menatap suamiku yang tengah mengemudikan mobilnya. Ada raut gelisah di wajahnya, sempat aku berpikir mungkin kalau aku ada di posisi Lulu pasti semua orang akan care padaku.


Seketika aku berharap semoga aku di berikan anak secepatnya, aku ingin merasakan bagaimana rasanya mual, bagaimana rasanya ngidam dan bagaimana rasanya semua orang sangat khawatir padaku dan calon anakku.


Rumah sakit


Kamu semua menunggu di luar, hanya Abi yang masuk ke dalam. Karena Lulu ingin ada Abi di sampingnya, akupun tak bisa mengelak keinginan Lulu. Mungkin aku juga akan seperti itu suatu saat nanti, melahirkan dan di dampingi suamiku.


"Ma mau nitip sesuatu? Alena mau keluar sebentar." Ucapku pada mama mertua.


"Nggak perlu, mama gak mau apa apa." Balasnya.


"Kalau papa?" Tanyaku pada papa mertua.


"Nggak terimakasih, kamu pergi saja."

__ADS_1


Akupun keluar mencari angin sebentar, aku seperti melihat ibunya Lulu, tunggu! Bukannya laki laki yang di sebelahnya adalah Remon, sedang membicarakan apa mereka berdua? Dan kenapa Remon ada di rumah sakit. Karena penasaran akupun menghampiri mereka, saat tiba di hadapan mereka. Tante Becky dan Remon terkejut, seolah takut ketahuan sesuatu.


"Sedang apa Tante disini?" Tanyaku pada tante Becky.


"Kamu gak perlu tahu, oh iya, saya kesini mau lihat cucu saya." Ucapnya lalu melewatiku begitu saja.


"Bukannya belum lahir." Gumamku, lalu aku menatap Remon.


"Sedang apa kamu disini? Apa ada yang sakit?" Tanyaku pada Remon.


"Iya, aku disini sedang cek up. Oh iya, aku dengar Lulu melahirkan." Ucapnya.


"Iya, tapi belum lahir sih. Kamu juga masih menunggu." Ucapku.


Aku menatap lekat raut wajahnya Remon, dia dari tadi melihat ruangan persalinan. Di wajahnya terlihat jelas rasa gelisah dan senang tergambar, apa?


"Apa kamu ayah anak itu?" Tanyaku.


Matanya langsung melotot saat ku tanyakan mengenai ayah anak itu. "Jangan asal ngomong kamu." Tegasnya.


"Aku hanya penasaran, kenapa kamu terus melihat ruang persalinan?"


"Diam kamu!" Bentaknya, sontak aku terkejut.


"Kamu terlalu ikut campur pada urusan orang lain." Ucapnya lalu mencengkeram kuat daguku.


Apa-apaan ini kenapa dia kasar begini, sakit sekali pegangannya sangat kuat bisa bisa rahangku patah.


"Le.pas.kan."


Remon pun melepaskan cengkeramannya, aku menjauh darinya.


"Dasar aku kan cuma nanya, reaksinya kok berlebihan."


Aku kembali menunggu bersama ketiga orang tua yang sedang gelisah, oek..oek... Suara tangis bayi begitu nyaring di telinga kami.


"Cucuku." Ucap tante Becky.


"Cucu kita pa." Ucap mama mertua.


Melihat raut wajah mereka, menggambarkan kalau mereka benar-benar bahagia.


****


"Sayang." Panggil Abi padaku.


"Iya."


"Kamu kok sendirian di koridor?" Tanyanya lalu menangkup wajahku dengan kedua tangannya.


"Selamat jadi ayah, suamiku." Ucapku seraya tersenyum tipis.


"Aku akan lebih bahagia, kalau kamu melahirkan anak pertamaku." Ucapnya. "Tapi tunggu!"


"Ada apa sayang?"


"Kenapa dengan wajahmu, kenapa lebam begini?"


Ah, ternyata cengkraman nya begitu berbekas. Pantas saja sakit, aku harus membual supaya Abi tidak mengkhawatirkanku.


"Ah, itu mungkin karena kedinginan jadinya agak lebam."


"Gak masuk akal."


"Serius sayang."

__ADS_1


"Jangan bohong sama aku, kenapa muka kamu lebam begini?"


__ADS_2