My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 44


__ADS_3

"Tentu aku tahu siapa ayahnya."


"Serius? Siapa ayahnya?" Beberapa pertanyaan keluar dari mulutku.


"Kamu sepertinya sangat penasaran siapa ayah dari anak yang sedang di kandung Lulu." Ucap Remon, membuatku gregetan.


"Tolong jawab saja pertanyaan aku, siapa ayah anak yang sedang di kandung Lulu?" Tekanku pada Remon.


"Sebaiknya kamu cari tahu sendiri, permisi aku masih banyak kerjaan." Imbuhnya. Lantas untuk apa dia jauh jauh datang kemari, dasar pengganggu.


Setelah memberikan jawaban yang ambigu, Remon meninggalkan ruanganku. Sebenarnya Remon itu membantuku apa gimana sih? Aku jadi bertanya-tanya sendiri.


****


16.30 WIB


Aku terbangun dari tidurku, karena kepikiran perkataan Remon sampai sampai aku ketiduran di kantor.


"Dulu kalau aku pulang telat, Abi langsung menjemput. Sekarang dia berbeda, hari harinya sama Lulu dan aku...aku di lupakan." Gumamku.


Cklek....


"Hai Len." Sapa Jia.


"Hai, ada apa nih sore sore datang ke kantor?"


"Tadi aku sama mas Ken ke rumah kamu, tapi kata bi Sumi kamu belum pulang. Ya sudah aku sama mas Ken kesini." Jelas Jia.


"Iya, aku baru saja mau pulang." Ucapku.


"Tumben hari Sabtu masuk kantor?" Tanya mas Ken.


"Aku cuma lihat jadwal penerbitan novel baru aja." Aku beralasan, padahal aku si usir ibu mertuaku sendiri.


"Itu kan bukan pekerjaan kamu Len." Sela Jia, Jia memang tahu schedule aku sebagai seorang penulis.


"Aku tahu, tapi aku juga penasaran." Lagi lagi aku beralasan.


"Sudah makan Len?" Timpal mas Ken.


"Kebetulan belum."


"Gimana kalau kita makan bareng." Ucap Jia memberi saran.


"Nggak ah, nanti aku ganggu waktu kalian lagi. Kalian pergi berdua aja, aku mau pulang kok."


"Nggak kok Len, aku sama mas Ken emang mau ajak kamu makan bareng, iyakan mas?" Ucap Jia.


"Iya, ayo kita makan bareng. Sudah lama juga kita gak ngobrol Len." Ucap mas Ken, tentu saja aku tak bisa menolak ajakan mereka berdua.


"Baiklah baiklah."


****

__ADS_1


Restoran


"Len makan yang banyak ya, aku lihat lihat badan kamu kurusan deh." Ucap Jia, yang menyadari perbedaan bentuk tubuhku.


Jujur setelah semuanya berubah, aku jadi kehilangan nafsu makanku. Aku bahagia karena selalu ada di sisi suamiku, namun adakalanya aku cemburu, aku iri, aku kecewa, dan aku benci pada suamiku. Kenapa keadaan jadi berubah karena satu wanita yang tengah hamil, dan itupun belum tentu anak dari suamiku.


"Hei Len kok malah melamun, ayo di makan." Mas Ken membuyarkan lamunanku.


"Ah." Desahku lalu menyantap hidangan yang telah di pesan.


Acara makan pun selesai, hari semakin gelap dan langit sudah kelihatan mendung pertanda hujan akan turun.


"Kayaknya mau turun hujan." Ucap Jia.


"Wah gerimis." Timpalku.


"Jangan dulu pulang, aku ada hal yang ingin di bicarakan pada kalian berdua." Ucap mas Ken tiba-tiba.


"Ada apa mas?" Tanya Jia, sepertinya Jia juga tidak tahu apa yang akan di katakan mas Ken.


"Untuk Jia, kamu harus ingat kalau aku dan Alena adalah teman berbagi curhat jadi aku harap kamu gak masalah sama pertemanan aku dan Alena." Ucap mas Ken.


"Hei sayang, aku terima kok. Kalian kan memang dekat dari dulu, aku memakluminya kok tenang aja." Jelas Jia, akupun tersenyum mendengar penjelasan Jia.


"Makasih sayang sudah mau nerima pertemanan aku dan Alena." Imbuh mas Ken.


"Jia, walaupun aku dan mas Ken dekat. Aku tahu batasan kok, apalagi aku kan sudah bersuami. Kalau cemburu sih boleh saja, itu hal yang wajar. Wanita mana yang ikhlas kalau lihat pasangannya dekat dengan wanita lain." Ucapku seakan membicarakan masalahku sendiri.


"Makasih ya sudah mengingatkan." Ujar Jia seraya memegang kedua tanganku.


"Ah, nggak kok. Aku baik baik saja kok, gak ada yang perlu di khawatirkan." Aku berusaha menutupi masalahku, aku gak mau membuat mas Ken dan Jia bersimpati padaku.


"Serius gak papa?" Mas Ken meyakinkanku.


"Serius mas."


"Kalau ada masalah kamu boleh kok cerita sama aku, Len." Timpal Jia.


Jia, mas Ken aku terimakasih pada kalian berdua. Kalian sangat perhatian padaku, padahal suamiku sendiri tak seperhatian ini padaku sekarang.


"Kalau gitu aku pamit pulang ya." Aku beranjak dari tempat dudukku.


"Kita bareng aja." Jia menawarkan tumpangan untuk pulang bareng, padahal rumahku dan rumah mereka berlawanan.


"Gak usah, kalian pulang berdua aja. Aku bisa naik taksi." Imbuhku.


"Yakin?" Kata Jia.


"Yakin. Oh iya ji, kalau ada yang bisa aku bantu bantu dekor kamu boleh kok hubungi aku." Ucapku.


"Iya, aku bakal hubungi kamu kok." Ucap Jia antusias.


"Kalau gitu, kami duluan ya Len." Ucap mas Ken.

__ADS_1


"Iya."


Mereka berdua pun pulang, sedangkan aku menunggu taksi terlebih dahulu. Namun sudah cukup lama menunggu taksi, kenapa gak ada yang lewat. Hujan makin deras, dan hari makin gelap.


Drrrt..drrrt...drrrtt


Aku merogoh ponselku dalam tas, rupanya suamiku menelponku.


Me 'Hallo sayang'


Suamiku 'Dimana kamu, kenapa belum pulang?'


Me 'Aku si restoran sayang, hujan dan gak ada taksi yang lewat'


Suamiku 'Send lokasi kamu, aku yang jemput'


Me 'Iya, aku send ya'


Telepon pun terputus, aku mengirimkan lokasiku pada Abi. Akhirnya dia mau menjemputku, apa dia sudah berubah lagi jadi perhatian padaku.


Selang beberapa menit, sebuah mobil terparkir di depanku. Akupun menghampiri mobil itu, dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Makasih sudah jemput aku." Ucapku berterimakasih pada suamiku.


"Kamu ngapain sih datang ke restoran, makan kan bisa si rumah juga." Bentak Abi, aku keget mendengarnya. Meskipun tak seharmonis dulu tapi Abi tak pernah membentakku, tapi baru saja dia membentakku.


"A-aku makan sama Jia dan mas Ken." Jawabku terbata-bata.


"Kamu kan bisa menolak ajakannya." Ucapnya, seraya mengemudikan mobilnya.


"Maaf." Aku menunduk lemah.


Abi memegang erat tanganku, lalu menatapku. Aku keheranan bukannya tadi dia membentakku, tapi ada apa dengannya.


"Kamu kaget ya?" Tanyanya, aku mengangguk mengiyakan pertanyaan dia.


"Maaf sayang, aku khawatir kamu belum pulang." Ucapnya.


Kenapa kamu begini? Bukannya kamu berubah menjadi dingin padaku, kenapa kamu hangat lagi seperti dulu? Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku?


"Kamu sakit ya?" Tanyaku.


"Hei." Dia menatapku seraya tersenyum lalu mengelus pucuk kepalaku. "Aku sehat sayang."


"Tumben kamu manggil aku sayang?" Sumpah aku heran sama suamiku sendiri.


"Emangnya gak boleh manggil sayang sama istri sendiri?" Dia malah berbalik nanya.


"Boleh sih, tapi aneh aja gitu dengernya."


"Selama beberapa bulan ke belakang maafin aku ya sayang, aku benar-benar minta maaf." Abi meminggirkan mobilnya ke tepi jalan.


"Kamu kenapa sih?" Aku makin bingung dengan ucapannya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku gak benar-benar mengacuhkan kamu, aku ada hal yang harus aku bereskan." Ucapnya.


"Apa itu?"


__ADS_2