
"Mandi bareng?"
"Iya sayang, mau ya sekali ini saja." Pintanya begitu manja.
"Tapikan.."
"Ayo dong sayang, please." Apa benar dia suamiku kenapa dia manja sekali.
"Tapi aku gak mau."
"Please." Pintanya memelas, aku memang tak sanggup dengan tingkahnya itu.
"Baiklah." Aku menyetujui permintaannya.
Aku memasuki kamar mandi, melepas pakaian yang menempel pada badanku tak sehelai benang pun tersisa. Aku turun ke bathtub, pun Abi mengikutiku dia melepas pakaiannya juga lalu ikut berendam di dalam bathtub.
"Ini yang aku mimipikan selama ini." Gumamnya seraya menarik tubuhku, posisiku kali ini bukan berhadapan melainkan aku membelakanginya.
"Sayang." Panggilnya seraya menjatuhkan dagunya di atas pundak ku.
"Iya sayang." Balasku.
"I love you."
"I love you too."
"I love you more."
"I love you forever."
"Pokoknya cintaku paling lebar, banyak, tinggi, gede tak terhingga deh." Ucapnya yang tak mau kalah dariku.
"Aku juga." Aku berbalik, dan kini posisiku bukan membelakanginya melainkan saling tatap menatap.
"Apa?" Tanyanya.
"Nggak deh." Aku menunduk.
Abi mengangkat mukaku dengan kedua tangannya, tatapan kami bertabrakan. Aku menelan saliva kasar, takut sekali bertatapan seperti ini rasanya seakan akan dia akan menerkamku.
"Aku ingin kamu jadi istriku seutuhnya." Cup, satu ciuman mendarat di bibirku.
Aku tersenyum malu. "Kamu gak bilang bilang mau nyium aku, ih."
"Kenapa harus bilang, ini yang aku lakukan setiap hari padamu." Ucapnya seakan mengancam ku.
"Kalau begitu." Cup, aku menjatuhkan ciumanku pada bibirnya.
"Nakal ya kamu." Ucapnya seraya menyentil ujung hidungku.
****
Setelah selesai dengan acara mandi aku dan Abi turun untuk melaksanakan makan malam bersama.
"Tumben turunnya barengan gitu?" Goda mama mertua.
"Emangnya gak boleh ya, kalau turunnya barengan gini?" Tanyaku.
"Ya bolehlah sayang." Balas Abi memegang erat pinggangku, tuh kan aku jadi tersipu.
"Udah jangan mesra mesraan di tangga, kasihan bi sumi, tuh lihat." Ucap mama mertua seraya menunjuk bi Sumi yang tengah menyiapkan makan malam.
"Aduh nyonya, apa ah. Bibi kan sudah tua, mana mungkin iri lihat pasangan muda." Elak bi Sumi.
__ADS_1
"Bi Sumi pernah muda kali ma." Cetus papa mertua yang baru datang dari kantor.
"Loh, papa kok gak ngetuk pintu atau pencet bel sih?" Mama mertua menghampiri suaminya.
"Kan pintu juga kebuka lebar." Balas papa mertua.
"Ih kan mama jadi gak bisa nyambut papa." Rengek mama mertua, rupanya seusianya yang tak muda pun mama mertua masih handal dalam berekspresi seperti anak manja.
"Sayang turun yuk, jangan lihat keuwuan pasangan tua itu." Ucap Abi, jujur aku geli banget ketika Abi bilang pasangan tua.
"Pasangan tua? Kalau pasangan muda mah kamu juga gak bakalan lahir ke dunia ini." Timpal mama mertua.
"Ampun ibu ratu." Balas Abi.
Jadi seperti ini gambaran keluarga Abi yang sebenarnya, padahal sudah hampir 5 bulan aku tinggal di rumah ini tapi baru sekarang aku merasakan kehangatan yang sebenarnya. Aku tersenyum, terhanyut dalam suasana yang sangat nyaman.
"Sayang kamu kenapa, kok senyum senyum sendiri?" Bisik Abi tepat di telingaku.
"Ah, nggak. Makan sayang."
Makan malam selesai dengan khidmat, aku dan Abi pun pergi meninggalkan meja makan.
Kamar
"Sayang besok kamu beneran gak mau aku hadir di acara pernikahan Jia?" Tanya Abi tiba tiba.
"Iya sayang, aku gak mau jadi pusat perhatian banyak orang." Balasku.
"Tapi sayang, orang orang kantor sudah tahu kalau kita sepasang suami istri loh yang."
"Iya aku tahu, tapi..."
Cup, ciuman hangat mendarat di bibirku.
"Jadi kamu mau ke pernikahan Jia tanpa aku kan?"
"Iya."
"Kalau gitu malam ini kita harus." Seringainya seakan ingin membunuhku.
"Harus a-apa?" Jujur aku takut banget, dia mendekat kini posisinya berada di atasku. Aku menutup mata, nafasku berderu begitu hebatnya, apa yang akan dilakukan suamiku ini Tuhan?
"Rupanya kamu sudah siap ya." Ucapnya seraya menciumi setiap inci badanku, dari mulai leher hingga berhenti di **** *****.
"Aku gak akan ikut kamu kok, asalkan malam ini beri jatah padaku." Entengnya, jatah? Baiklah toh memberi jatah ini kewajibanku juga sebagai seorang istri.
Aku menikmati setiap permainan yang di mainkan Abi, begitu nikmat surga dunia ini. Akhirnya dalam satu malam aku resmi menjadi istri seutuhnya bagi suamiku.
****
Pov Ken..
"Suster saya mau pulang saja." Pintaku pada suster yang tengah merawatku.
"Maaf pak, luka bapak belum sepenuhnya pulih." Tegas suster.
Apalagi sih, aku benar benar sudah pulih.
"Sus percayalah, saya sudah pulih. Tangan saya juga gak sakit." Pintaku lagi lagi.
"Maaf pak gak bisa." Dan lagi lagi permintaanku di tolak.
"Saya bosan ada disini sus, tolong ya saya mau pulang."
__ADS_1
"Baiklah karena bapak meminta terus, saya akan konfirmasi dulu dengan dokter."
Yes, akhirnya aku pulang.
"Baik sus, saya tunggu kabarnya."
"Saya permisi."
Aku mengangguk mengiyakan ucapan suster tadi, semoga aku di bolehkan pulang ke rumah.
Mengingat tadi siang, kenapa hatiku sangat sakit. Apa akhirnya Alena dan Abi saling mencintai? Apa karena aku selalu bersama Alena perasaan suka ini tumbuh lebih cepat, padahal sudah jelas Alena itu milik Abi.
Sadar Ken, jangan merusak kebahagiaan Abi. Kamu pasti bisa mendapatkan wanita yang lebih sempurna dari Alena, tapi tidak semudah itu karena perasaanku kepada Alena begitu dalam.
Sekitar 15 menit, akhirnya suster yang tadi balik lagi ke ruangan.
"Gimana sus, bolehkan saya pulang?" Tanyaku begitu antusias.
"Boleh pak."
"Yes, terimakasih sus. Saya janji saya gak akan sakit lagi." Ucapku.
"Baik pak, kalau begitu saya permisi."
****
Akhirnya malam ini aku pulang ke rumah, walaupun tanganku sakit tapi aku harus kuat membawa mobil sendiri.
"Siapa itu? Kayak mau bunuh diri gitu." Gumamku seraya melihat seorang wanita yang tengah berdiri di atas jembatan, merentangkan tangan bersiap menjatuhkan diri ke bawah jembatan.
Aku menancap gas, menghampiri wanita gila itu. Sesampainya aku bergegas turun dan berlari, pas saja sebelum dia menjatuhkan diri aku berhasil mencegahnya.
"Aishhhh." Rintihku.
Wanita itu juga kesakitan karena aku menariknya dengan paksa.
"Awhhh..." Rintihnya dan beranjak lalu memaki.
"Ngapain kamu nolongin aku, aku mau mati. Harusnya kamu gak usah nolongin aku, kamu harusnya lewat saja jangan hiraukan aku." Umpatnya, aku tak melihat dengan jelas wajahnya karena derasnya hujan dan memang sudah malam.
"Segitu ingin nya kamu mati?" Tegasku.
"Iya aku ingin mati, ingin sekali." Teriaknya, suaranya begitu parau apa dia menangis? Sial kenapa mesti hujan segala.
"Heh bodoh, mati gak akan mengubah apapun." Ucapku seraya bangkit dan kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Jia?"
Jia terkejut saat melihat orang yang menolongnya adalah aku.
"Sekretaris Ken?"
"Jia, kamu ngapain hah, bukannya besok kamu akan menikah?" Tanyaku heran, kenapa dia melakukan percobaan bunuh diri? Bukannya kalau mau menikah selalu bahagia, kenapa dia begini, apa dia gak waras?
Bukannya menjawab Jia malah menangis sejadi-jadinya, membuatku semakin heran.
"Kamu itu kenapa sih?"
"Aku, aku gak mau nikah hiks..hiks...." Lirihnya begitu pilu.
Aku meraih tangannya lalu memeluknya.
Dia menangis dalam pelukanku, apa yang terjadi pada Jia sampai dia serapuh ini?
__ADS_1