My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 60


__ADS_3

"Kalian sedang apa?" Jia mematung di ambang pintu, Alena sontak berbalik dan dengan cepat dia menepis tangan Ken.


"Jia?" Sentak Alena lalu segera menghampiri Jia.


"Kok kamu ada di sini?" Tanya Jia.


"Ah, aku kesini.."


"Alena kesini mau nanya keberadaan Abi, tadi dia sempat ke ruangan Abi tapi abi nya gak ada." Jelas Ken memotong ucapan Alena.


"Apa benar begitu Len?"


"Iya betul, kemana ya suamiku itu?" Alena berguamam seraya menggaruk kepala yang tak gatal. "Ya sudah kalau gitu aku pamit."


"Iya, hati-hati." Balas Ken.


"Iya makasih mas." Alena meninggalkan ruangan Ken.


"Ada apa sayang?" Tanya Ken pada Jia, Jia menatap Ken begitu dalam. "Ada apa sih? Tatapan kamu bikin merinding aja."


Jia memalingkan wajahnya." Nggak papa, sudah makan siang?" Jia mengalihkan pembicaraan.


"Kebetulan belum sih." Ken menghampiri Jia lalu menyenderkan kepalanya pada bahu Jia. "Kamu pendek banget."


"Kamu yang ketinggian." Jia menepuk lengan kekar milik Ken. "Aku lihat tadi kamu megang tangan Alena."


"Jangan mikir yang aneh-aneh, tadi aku menjabat tangan Alena karena dia mengucapkan selamat sama aku." Jelas Ken.


"Selamat buat apa?"


"Buat kita."


"Apa sih gak jelas banget."


Pov author end....


Setelah menemui mas ken aku berniat untuk langsung pulang, tapi Tuhan berkata lain dan mempertemukan aku dengan lelakiku. (Sorry, sedikit lebay. Hati author sedang berbunga-bunga)


"Sayang." Sentak Abi.


"Sayang."


"Kamu kesini? Tumben!" Dia menghampiri aku.


"Aku kesini kangen banget sama kamu." Aku mencari alibi alih-alih menemuinya padahal aku habis menemui mas Ken.


Ngomong-ngomong apa aku terlalu kasar, memanggil nama pada suamiku sedangkan pada lelaki lain aku manggilnya mas? Ah masa bodo amat, yang penting cintaku bukan untuk lelaki lain.


"Masa?" Abi menggodaku dengan menyentil ujung hidungku, aku hanya bisa tersenyum saat di godanya.


"Mau makan siang bareng?" Tanyanya, aku pun mengangguk. "Kalau begitu kita cari tempat makan yang nuansanya romantis."


"Itu terlalu berlebihan, aku mau makan di tempat yang nuansanya adem."


"Baiklah baiklah, apapun yang di rekomendasikan istriku aku akan langsung menyetujuinya." Ucapnya seraya merangkulku, aku hanya tersenyum seraya menatap nya.


"Kita berangkat."


Kami berdua pun pergi mencari tempat makan.


Dalam mobil menuju tempat yang sudah di tentukan.

__ADS_1


"Sayang." Panggilku.


"Iya sayang ada apa?" Tanyanya yang sedang fokus mengendarai mobil.


"Nggak jadi deh." Aku mengurungkan niatku untuk berbicara tentang Lulu, ini bukan saatnya mengatakan itu.


"Gak ada yang kamu sembunyikan dari aku bukan?" Katanya seraya menatapku.


"Memangnya aku harus merahasiakan apa dari suamiku ini?" Aku mendengus kesal.


"Apapun itu kamu gak boleh menyembunyikan sesuatu dari aku, mengerti?"


"Aku mengerti tuan."


Akhirnya kami berdua sampai di tempat tujuan, yaitu restoran bernuansa sejuk. Begitu memasukinya aku langsung jatuh cinta dengan restoran ini, serasa makan di alam terbuka.


"Gimana, suka tempatnya?"


"Ini sih bakal jadi restoran favorit aku."


"Kita pesan makanan dulu."


Skip


"Mau langsung pulang atau mau kemana dulu gitu?" Tanya Abi.


"Aku ikut ke kantor saja deh, di rumah juga sumpek." Lebih baik aku ikut Abi ke kantor daripada pulang ke rumah, yang ada aku di curigai lagi oleh ibu mertua.


"Tumben?"


"Kok bilang tumben sih, aku serius mau ikut kamu aja. Emangnya gak boleh?" Decak ku kesal.


"Boleh dong sayang." Abi mengelus rambut panjangku. "Apa sih yang nggak boleh buat istri tercintaku ini."


"Sayang." Panggilku padanya dan sontak dia menatapku.


"Ada apa sayang?" Tanyanya. "Apa mau jajan dulu, lihat tuh banyak tukang dagang."


"Emangnya kamu mau jajanan pinggir jalan?"


"Maulah, kan jajan nya bareng kamu."


"Ya sudah yok berhenti dulu, kayaknya aku jajanan pinggir jalan deh."


"Ya sudah kita menepi dulu."


Abi menepikan mobilnya di pinggir jalan, aku dan Abi turun dari mobil. Pertama kami menghampiri tukang dagang siomay.


"Bang siomaynya di bungkus dua ya." Kataku pada tukang siomay.


"Oke neng." Balas tukang siomay.


Setelah lima menit pesanan siomay kami selesai.


"Jadi dua puluh ribu." Kata tukang siomay, sebelum aku bertanya dia sudah memberitahu harganya.


Aku memberikan selembar uang dua puluh ribu ke tukang siomay, lalu diambilnya uang tersebut.


"Mau apalagi sayang?" Tanyanya.


"Mau itu, itu sama itu." Aku menunjuk setiap dagangan yang menjejer itu.

__ADS_1


"Oke, kita beli langsung." Abi menemaniku ke setiap tukang dagang, dari beli siomay, cimol, cilok, dan cilor. 


"Wah sudah lama banget aku gak jajan jajanan pinggir jalan, aku senang banget." Aku berjalan penuh ceria seraya menjinjing kresek yang penuh dengan makanan.


"Sesenang itu ya?" Abi merangkulku dari belakang, aku menatapnya seraya tersenyum lebar dan mengangguk.


"Sangat amat senang." Balasku.


"Aku bersyukur kalau kamu senang, kalau mau apa-apa bilang saja ya! Aku akan langsung menurutinya." Jelas Abi, membuatku terharu.


"Woah, apapun itu kamu mau menurutinya?"


"Of course."


"Kalau begitu, aku gak mau tidur di rumah." Pintaku.


"Kenapa?" Sentaknya.


"Aku mau kita quality time, bolehkan sayang?"


Abi membisu saat aku minta quality time, apa jangan-jangan dia gak mau. Aku berjalan menuju mobil, rasa bahagia aku hilang seketika.


"Sayang tunggu!" Teriaknya lalu menyusulku.


Dalam mobil aku hanya berdiam seribu bahasa, aku sama sekali tak melihat ke arah Abi dan hanya fokus memainkan kresek isi jajanan.


"Anterin aku pulang." Ucapku memecah keheningan.


"Gak jadi ikut ke kantor?"


"Aku lebih suka di rumah walaupun semua orang gak suka sama aku." Sindirku, apa Abi akan peka dengan ucapanku?.


"Ya sudah aku anterin kamu pulang." Balasnya, sudah kuduga tak ada reaksi apapun dan suasana pun kembali hening.


Rumah


Aku berjalan tanpa menoleh ke arah Abi, dia berjalan mengekoriku.


"Sayang." Panggilnya, aku tak menggubrisnya dan terus berjalan.


"Sayang tunggu!"


"Ada apa ini?" Tanya mama mertua, malas sekali aku bertemu ibu mertuaku ini.


"Alena ke kamar dulu." Aku melengos pergi ke kamar, mengacuhkan ucapan ibu mertua.


"Ada apa sama Alena?" Tanyanya kepada Abi.


"Nggak papa, Abi mau susul dulu Alena." Abi bergegas menghampiriku.


"Ada apa sih sama mereka?" Kata mama mertua masih terdengar olehku.


Kamar


"Sayang kamu marah sama aku?" Abi mendekat ke arahku, aku menjauh darinya.


"Nggak." Jawabku singkat.


"Kelihatannya kamu marah."


Aku fokus memakan cilok, dan tak menggubris perkataan Abi. Tiba-tiba Abi memelukku dari belakang, sontak aku kaget.

__ADS_1


"Bikin kaget saja." Rutukku.


__ADS_2