
"Tunggu! Valeria, Valeria siapa ya?" Tanya Sera, dia memang gak tahu soal nama Valeria.
"Loh kok kamu malah nanya Valeria siapa? Ya siapa lagi kalau bukan cucu kita." Sewot Becky nyerocos.
"Kamu gak kasih tahu kalau anak kamu sudah di kasih nama, lu." Kata Sera seraya menatap Lulu.
Sedangkan Lulu hanya menunduk. "Maafin Lulu Tante, Lulu gak kasih tahu Tante."
"Jadi namanya Valeria?" Timpal Rega, suami Sera.
"Iya om." Balas Lulu.
"Sudah tahukan nama anaknya?" Ucap Becky, bukannya melaksanakan sarapan dia malah membahas anaknya Lulu.
"Jadi apa hasilnya?" Rega menanyakan hasil tes DNA itu.
"Iya mas, Valeria itu anak sah Abi." Teriak Becky dengan bangganya.
Abi dan Alena saling tatap, mereka berdua sudah menduga hasil dari tes DNA yang dilakukan Becky dan mereka pasti akan berbeda.
"Mari sarapan." Ucap Abi lalu menyendok makanan ke dalam mulutnya, orang yang ada di meja makan hanya menatap heran. Abi tak menggubris ucapan Becky sama sekali dan malah asyik makan.
"Reaksi macam apa ini?" Becky mulai protes.
"Mih udah mih, mending kita sarapan." Lulu mencoba menenangkan Becky, ibunya.
"Abi kok kamu gak bereaksi sama sekali?" Tanya Sera seraya mengusap tangan anaknya itu.
"Kita ada di meja makan buat apa? Buat melaksanakan sarapan bukan?" Balas Abi dengan nada sinisnya.
"Sayang." Alena menyenggol lengan Abi perlahan.
"Makan sayang." Abi menyuapi Alena. "Aaa..buka mulutnya."
Alena pun membuka mulutnya lalu mengunyah makanan yang di berikan Abi, Lulu terus saja menatap dua pasangan yang semakin hari semakin romantis.
"Kenapa reaksi Abi seperti itu, apa Abi menerima Valeria sebagai anaknya? Kalaupun menerima bukannya dia akan lebih menyayangi aku ketimbang Alena?" Batin Lulu.
Tatapan Lulu tak lepas dari pasangan Abi dan Alena, melihat mereka berdua membuatnya semakin merasa ingin menyingkirkan Alena dari samping Abi.
"Lihat deh lu, mami gedek banget sama Abi dan Alena." Bisik Becky sambil curi-curi pandang ke arah Abi dan Alena.
"Udahlah mih gak usah di hiraukan, nanti juga Abi bakalan berpaling dari Alena." Kata Lulu berbisik.
"Awas aja kamu alena." Becky memicingkan matanya ke arah Alena, begitupun Alena dia sangat sensitif terhadap tatapan sinis yang di tuju untuknya.
****
"Aku berangkat kerja dulu ya sayang!" Abi berpamitan kepada Alena.
"Iya, hati-hati ya di jalan."
"Iya sayang." Sebelum pergi Abi meninggalkan ciuman di kening Alena. "Aku berangkat."
Alena mengangguk dan Abi pun masuk ke dalam mobilnya, Alena mulai melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Tips bikin suami nempel terus apa?" Kata Lulu yang baru datang dari dalam rumah seraya menggendong anaknya.
Alena berbalik dan menatap Lulu. "Selalu jujur." Balas Alena.
"Jujur?" Lulu mengulang kata jujur.
"Iya, jujur. Bukankah berkata jujur jauh lebih baik walaupun itu cukup menyakitkan buat kita?" Alena meninggalkan Lulu yang mematung di depan pintu rumah sambil menggendong anaknya.
"Maksud Alena apa?" Gumam Lulu. "Aku selalu jujur, ya!" Teriak Lulu.
Alena terhenti mendengar ucapan Lulu, dia menoleh ke arah Lulu. "Aku gak tahu, karena aku bukan kamu."
Lulu kesal mendengar ucapan Alena dia pun pergi ke kamarnya untuk mencerna perkataan Alena.
Pov author end....
Seharian ini aku hanya mondar-mandir gak jelas di kamar tidak melakukan aktivitas apapun, biasanya aku sibuk mencari ide untuk novelku. Harusnya aku tidak bicara untuk berhenti, tapi ya sudahlah ini sudah jadi keputusan aku.
Tok...tok...
"Iya masuk."
"Hei sayang." Sapa mama mertua.
"Ada apa ma?" Tanyaku pada mama mertua, tumben dia mendatangi aku.
"Kamu sibuk gak?" Tanyanya.
"Nggak kok ma, ada apa? Apa ada masalah?" Aku khawatir sendiri.
"Bukan apa-apa sih, tapi mama ngerasa ada yang Abi sembunyikan."
"Tadi mama lihat ekspresi dia saat Becky bilang kalau Valeria anak sahnya Abi, Abi malah kelihatan tenang. Mama kan jadi bingung." Ucap mama mertua, dia terlihat begitu kebingungan.
"Gimana ya ma, Alena bingung."
"Bingung gimana? Ayo bicara sama mama, ma0ma jamin mama gak akan bilang siapa-siapa.".
"Sebenarnya Valeria bukan anak sahnya Abi, ma." Terpaksa aku memberitahu mama mertua yang sebenarnya.
"Kamu tahu dari mana kalau Valeria bukan anaknya Abi?"
"Sebentar." Aku mengambil hasil tes DNA yang di lakukan Abi dan aku, lalu memberikannya kepada mama mertua.
"Apa ini?" Mama mertua membuka kertas putih itu.
"Gimana ma?"
"Apa ini sungguhan? Apa ini gak di buat-buat oleh kamu?" Mama mertua penuh curiga kepadaku, dia mengira aku yang memanipulasi hasil tes DNA nya.
"Mama nuduh aku yang memanipulasi hasilnya?" Aku bertanya kepada mama mertua.
"Siapa tahu kan, kamu iri karena belum hamil jadi isi dari tes DNA ini kamu manipulasi, iya kan?" Kata mama mertua penuh penekanan, kenapa dia bisa berpikir seperti itu padaku.
"Aku gak sepicik itu ma, buat apa aku memanipulasi hasil tes DNA ini?" Aku mencari kebenaran atas diriku sendiri, dan memang aku tidak memanipulasinya.
__ADS_1
"Cukup Len, mama gak nyangka kamu sejahat ini. Hasil tes DNA ini mama yang simpan." Mama mertua pergi keluar dari kamarku.
"Tunggu ma!" Teriakku, mama mertua pun menoleh padaku.
"Apa lagi?"
"Yang melakukan tes DNA itu bukan aku, tapi Abi sendiri." Ucapku.
"Jangan orang lain atas kesalahan yang kamu perbuat, dan bisa-bisanya kamu menuduh kesalahan kamu kepada Abi." Mama mertua pergi meninggalkan kamar.
Aku berpikir kenapa mama mertua tega begini kepada aku? Kenapa dia menyalahkan aku? Karena hasil tes DNA yang berbeda, dia sampai nuduh aku jahat. Rupanya mama mertua sudah ada di pihak Lulu, karena Lulu bisa memberikan anak untuk Abi padahal anak itu bukan anak Abi.
"Iya, aku harus mencari tahu siapa ayah kandung Valeria."
Aku mengambil tasku dan bergegas keluar untuk mencari tahu kebenaran yang lainnya lagi, aku merogoh tas mengambil handphone.
"Aku harus minta bantuan mas Ken."
Aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, tujuan pertama adalah kantor.
****
Kantor
"Selamat siang Bu." Sapa salah satu karyawan padaku.
"Siang." Balasku, lalu dengan cepat aku pergi menemui mas Ken. Dalam perjalanan menuju ruangan mas Ken aku bertemu dengan ketua hena dan pak Ben.
"Alena." Panggil pak Ben.
"Hei pak Ben, bagaimana kabarnya baik?" Tanyaku.
"Hei pak Ben, ibu Alena bukan Alena gak sopan banget." Bisik ketua hena yang terdengar olehku.
"Gak usah panggil ibu, biasa saja seperti biasa." Ucapku.
"Begitu ya, ngomong-ngomong mau ketemu pak Presdir ya?"
"Iya, saya permisi dulu ya."
"Iya."
Akhirnya aku bisa menjauh dari mereka berdua, kalau tidak makin lebar percakapan yang bakalan terjadi.
Aku tepat di depan ruangan mas Ken.
Tok..tok..
"Masuk." Balasnya dari dalam ruangan, akupun segera masuk ke dalam.
"Siang mas." Sapaku padanya.
"Alena? Ayo duduk, ada perlu apa?" Tanyanya.
"Anu mas." Bukannya menjawab aku malah kebingungan sendiri, karena masalah ini mas Ken tidak mengetahuinya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanyanya lagi.
"Gak jadi deh." Aku beranjak, tapi tiba-tiba.