My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 57


__ADS_3

Kami semua terdiam saat Lulu berteriak untuk menghentikan perkataan ibunya sendiri, aku heran kenapa Lulu menghentikannya, apa jangan-jangan isinya gak sesuai dengan yang dia harapkan? Batinku menggerutu.


"Ada apa lagi lu? Semuanya akan terbongkar sekarang, mami harap kamu jangan merasa kasihan kepada Alena." Ucap Tante Becky seraya menunjuk ke arah aku.


Aku menunjuk diriku sendiri. "Aku?"


"Tenang sayang." Bisik Abi seraya merangkulku, aku mengangguk seraya tersenyum.


"Cukup mih, gak usah di perpanjang." Kata Lulu mencoba meredam amarah ibunya.


"Diam kamu." Bentak Tante Becky kepada Lulu, Lulu berlalu meninggalkan ruang tengah.


"Ada apa sebenarnya ini?" Papa mertua angkat bicara.


"Entahlah pa, mama juga gak ngerti sama drama yang ada di rumah ini." Timpal mama mertua. "Sebaiknya kita ke kamar saja, papa pasti capek kan?"


"Iya." Papa dan mama mertua pergi ke kamarnya, sedangkan Tante Becky berdecak sendiri sambil mengibaskan tangan ke wajahnya.


"Heran aku sama keluarga ini." Ucapku.


"Sudahlah sayang, kita juga harus istirahat." Abi menggandeng tanganku.


****


"Sayang tolong bawain handuk dong." Teriakku dalam kamar mandi.


"Iya sebentar."


Gara-gara kejadian tadi aku jadi kurang fokus, mandi saja gak bawa handuk.


"Sayang ini handuknya." Abi mengetuk pintu kamar mandi.


Aku membuka sedikit pintu kamar mandi lalu mengambil handuk dari tangan Abi.


"Makasih sayang."


Setelah mengambil handuk, segera aku melilitkan handuk pada tubuhku, aku berjalan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk di tubuhku. Aku menyelidik ke setiap penjuru kamar, aku tak menemukan Abi dimana pun, kemana dia pergi?


"Lalalalala.."Aku sibuk bersenandung seraya menatap jendela kamar yang terpampang lebar menghadap ke taman belakang rumah ini, pepohonan yang bernuansa modern sangat menggoda penglihatan.


"Sayang." Terdengar suara Abi dari balik pintu kamar, aku menghampirinya dan membuka pintu.


"Kamu darimana sih?" Tanyaku, dia malah mesem gak jelas saat aku tanya.


"Kamu mau menggoda aku ya?" Dia malah berbalik bertanya, hilih apa sih gak jelas banget dia, siapa yang mau menggodanya.


"Apa sih gak jelas banget, aku nanya kamu loh tapi kamu malah balik nanya." Aku berbalik hendak meninggalkan Abi tapi Abi menarik tanganku.


"Kamu cantik banget sih." Ucapnya.


"Makasih tapi lepasin tangan aku." Aku menarik paksa tanganku yang di genggaman olehnya.


"Salah siapa coba kamu gak pakai baju."


Aku melihat diriku dari bawah sampai atas, astaga Alena kenapa kamu gak pakai baju? Batinku.


Repleks aku menutup dadaku dengan sebelah tanganku karena sebelahnya lagi masih di pegang erat oleh Abi.


"Kenapa di tutupin gitu?" Goda abi.


"Lepasin ih aku mau pakai baju dulu."


"Ngapain pakai baju, gini bagus seksi tahu."


"Aku kedinginan." Aku mencari alasan.

__ADS_1


"Kalau dingin gini aja." Abi menggendongku lalu menjatuhkan bobot badanku ke atas ranjang.


"Aku serius loh, ini dingin."


Abi tak menggubris ucapanku, dia malah ikutan naik ke atas ranjang lalu ikut berbaring di sebelahku. Abi menarik selimut lalu menyelimuti tubuhku dan tubuhnya.


"Aku mau pakai baju dulu, please!" Rengekku.


"Sini kalau dingin, aku peluk." Abi memelukku dan akupun terhanyut dalam pelukan nya, dan akhirnya aku tak ingat apapun.


****


"Selamat pagi sayang." Sapa Abi, dia sudah rapi dengan busana kerjanya. Dan lihatlah diriku, tubuhku masih terbungkus kan selimut tebal.


"Pagi." Balasku dengan nada agak serak.


"Kamu mandi dulu ya, lalu turun kita sarapan." Ucapnya begitu perhatian.


"Iya."


"Aku turun duluan ya."


"Iya."


"Jangan lama-lama ya mandinya."


"Iya."


"Kalau begitu aku turun duluan ya."


"Iya."


Hanya jawaban iya yang bisa keluar dari mulutku, tunggu dulu kenapa badanku pegal begini?


Aku menyibakan selimut, dan astaga betapa terkejutnya aku kemana bajuku kenapa aku tak menggunakan sehelai kain pun? Aku menggeleng kan kepala ku mencoba mengingat sesuatu, semalam aku.


Flashback...


"Aku kedinginan." Aku mencari alasan.


"Kalau dingin gini aja." Abi menggendongku lalu menjatuhkan bobot badanku ke atas ranjang.


"Aku serius loh, ini dingin."


Abi tak menggubris ucapanku, dia malah ikutan naik ke atas ranjang lalu ikut berbaring di sebelahku. Abi menarik selimut lalu menyelimuti tubuhku dan tubuhnya.


"Aku mau pakai baju dulu, please!" Rengekku.


"Nih minum ini biar gak dingin." Abi mengambil sebuah gelas berisi wine lalu memberikan kepadaku.


"Sini." Aku mengambilnya lalu meminumnya dengan kasar sampai wine nya tumpah ke handuk yang aku kenakan.


"Kamu sih." Abi mengusap nida wine yang menempel pada handuk yang aku kenakan.


Aku beranjak lalu mengambil botol wine dan mengucurkan lagi ke dalam gelas dan meminumnya lagi, kepalaku terasa pusing aku menjatuhkan badanku ke atas ranjang.


"Sayang." Panggil Abi seraya menepuk-nepuk pipiku.


"Sayang, aku pengen punya Dede bayi." Aku meracau entah kenapa dengan ku seperti orang yang kehilangan kesadaran.


"Kamu kenapa sih?" Abi pun keheranan. "Apa jangan-jangan kamu mabuk?"


"Hehe...sayang cini peyuk aku." Aku merentangkan kedua tanganku dan Abi mendekatiku lalu memelukku.


"Sadar ya, kita pakai baju ya." Ucap Abi.

__ADS_1


"Gak mau, mau punya Dede bayi."


"Alena sadar ya."


Aku membuka handukku lalu mendekat ke arah Abi.


"Astaga, kalau begini jangan salahkan aku kalau besok badan kamu pegel pegel."


Dan kami pun terhanyut dalam permainan yang ganas, aku yang terlalu agresif karena efek meminum sebotol wine sendiri.


Flashback end...


"Astaga pantas saja badanku pegel, aish Alena kamu tuh gak bisa minum minuman yang kadar alkoholnya tinggi. Dasar bodoh." Aku menggerutu sendiri di kamar.


Pov author...


Sedari bangun tidur Abi tak henti-hentinya tersenyum, dia serasa sedang jatuh cinta.


"Mas kok dari tadi aku lihat-lihat senyum-senyum sendiri!" Lulu menyadari kalau Abi dari tadi terus tersenyum sendiri.


"Nggak." Balas Abi singkat.


"Begitu ya."


"Pagi semuanya." Sapa Becky.


Mendengar suara Becky, Abi berubah menjadi sinis.


"Pagi mih."


"Tante gak pulang ya?" Tanya Abi.


"Nggak, kasihan cucu saya dia harus di tungguin sama nenek nya alih-alih di tungguin sama ayahnya sendiri." Sindir Becky.


"Ayahnya?" Abi mengulang kata ayahnya.


"Iya ayahnya, yang gak bertanggung jawab." Tekan Becky, Abi yang mendengarnya hanya tersungging.


"Udah mih jangan debat di meja makan, gak baik loh." Kata Lulu.


"Pagi semuanya." Sapa Sera dan suaminya.


"Pagi." Balas Lulu.


"Pagi." Timpal Abi.


"Alena mana bi?" Tanya sera kepada Abi.


"Masih di kamar." Balas Abi.


"Pagi semuanya." Sapa Alena dari arah tangga, wajahnya terlihat ceria dan cerah.


"Pagi sayang." Sesegera Abi membalas sapaan istrinya itu.


"Pagi." Balas semuanya kecuali Becky dia hanya diam saja.


"Ayo duduk kita sarapan." Ucap Abi.


"Karena ini waktu yang tepat, kalian harus tahu kebenaran yang selama ini kita tunggu-tunggu." Ucap Becky.


"Apalagi?" Sera berdecak kesal.


"Valeria itu anak Abi." Tekan Becky. "Ini buktinya." Becky menunjukan sehelai kertas putih.


"Tunggu! Valeria, Valeria siapa ya?" Tanya Sera.

__ADS_1


__ADS_2