My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 55


__ADS_3

Rumah


Dari sepulang dari kondangan, aku kembali membaca hasil tes DNA itu. Dalam batinku paling dalam ada rasa kasihan pada Lulu, selama ini dia harus menutupi semuanya dari kami.


"Sayang." Suara Abi mengejutkan ku.


Aku melipat kertas putih itu dengan cepat sesegera ku selipkan di bawah selimut. "Iya ada apa?"


"Kamu lagi ngapain?" Tanyanya lalu mendekati ku, aku menoleh padanya seraya tersenyum.


"Nggak, aku nggak lagi apa-apa. Gimana? Maksud aku ada apa?"


"Kamu kok aneh gitu, kayak orang yang baru kepergok habis ngapa-ngapain."


"Anu sayang, soal Lulu." Tiba-tiba aku tak bisa melanjutkan ucapanku, lidahku terasa kelu saat ingin mengucapkan tentang Lulu dan anaknya.


Abi menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. "Untuk saat ini aku gak mau membahas Lulu, aku mau kita fokus sama kita berdua saja."


"Tapi sayang aku gak enak satu atap sama Lulu, padahal kamu tahu sendiri Lulu sama aku gak cocok." Aku mengeluh tentang Lulu yang memang kami dari dulu bukan dulu tapi dari pertama ketemu gak bisa akur, karena aku di cap olehnya perebut lelaki dia.


"Nanti aku pikirkan, sekarang tidur ya sudah malam." Abi menidurkan ku lalu menyelimuti tubuhku dengan selimut.


****


"Good morning sayang." Sapa Abi seraya mencium keningku.


"Kamu udah bangun?" Aku beranjak dari tidurku lalu mendekati Abi dan memeluknya.


"Ada apa ini?" Abi kaget mendapat perlakuan dariku.


Aku menyelundupkan kepalaku ke dalam pelukan Abi, begitu hangat. Hari ini aku benar-benar ingin memanjakan diri, ingin melepas kestresan yang sudah lama menumpuk.


"Aku mau siap-siap berangkat kerja loh." Seru abi.


"Lima menit lagi." Kataku seraya mempererat pelukanku padanya.


"Okey! Lima menit lagi." Abi mengelus rambutku perlahan. "Kenapa sayang? Kok tiba-tiba manja gini."


"Emangnya gak boleh manja sama suami sendiri?"


"Boleh dong sayang, cuma agak aneh aja."


"Udah jangan protes! Aku kan manja sama kamu bukan sama orang lain."


"Emangnya kamu mau manja manjaan sama orang lain?" Tanyanya.


"Emangnya boleh?" Aku menggodanya, wajahnya terlihat memerah. Sesegera aku mencium bibirnya, sebelum dia menjurus untuk mengeluarkan emosinya.


"Apa-apaan ini?" Wajah Abi berubah menjadi bersemu kemerahan, aku yang seketika tersenyum.


"Suka kan?"


"Gak, gak suka." Abi beranjak dari duduknya, dia bersiap untuk berangkat kerja.


****


Pagi ini di meja makan sudah banyak orang yang bersiap ikut sarapan, dari Lulu, Tante Becky juga mertuaku sudah ada di sana. Dan entah kapan mertuaku pulang, aku sesegera turun menghampiri mereka semua.


"Pagi semuanya." Sapaku pada semua orang, lalu akupun duduk untuk ikut sarapan bersama.

__ADS_1


"Pagi." Balas Lulu.


"Abi mana Len?" Tanya mama mertua padaku.


"Masih di kamar, katanya ada berkas yang harus di cek dulu." Aku menjawab pertanyaan mama mertua.


"Begitu ya." Kata mama mertua.


"Oh iya ma, mama sama papa kapan pulang?"


"Baru saja." Balas papa mertua.


"Kalau Tante Becky, kapan kesininya?" Aku bertanya kepada Tante Becky.


"Dari tadi sih, makanya jangan diem di kamar terus jadinya ada tamu saja gak tahu." Sindir Tante Becky dengan nada sinisnya.


"Maaf." Lirihku.


"Ngapain minta maaf, inikan masih pagi wajar saja gak tahu kalau kita kedatangan tamu." Abi datang seraya membelaku, dia mengelus pucuk kepalaku.


"Maafkan mami aku ya mas, dia bertamunya kepagian." Lulu angkat bicara untuk membela ibunya.


"Gak usah minta maaf, ini juga bukan salah kamu." Jelas Abi kepada Lulu.


"Duh suasananya kok jadi agak suram gini ya, padahal masih pagi." Timpal mama mertua.


"Mantu kamu sih, gak beretika." Enteng Tante Becky, kata-katanya menyayat hatiku.


"Maksud Tante apa bilang istri saya gak beretika?" Abi tak terima mendengar aku di ejek oleh ibunya Lulu.


"Emang iya kan, dia gak beretika. Kamu mungut mantu rendahan dari mana sih ser?" Tanya Tante Becky pada mama mertua.


"Papa bikin kaget saja." Ucap mama mertua seraya mengusap dadanya.


"Kalian kalau mau debat jangan disini, disini bukan tempatnya berdebat disini tempat makan." Tegas papa mertua yang sudah memanas.


"Sayang kita pergi sekarang, makannya nanti saja di luar." Ajak Abi padaku, aku kebingungan pergi kemana? aku kan sudah tidak bekerja. Batinku.


"Ambil tas kamu, cepat." Titah Abi, akupun segera pergi ke kamar mengambil tas dan segera lagi menghampiri Abi yang sudah menungguku.


"Ayo sayang." Abi memegang tanganku.


"Tunggu!" Cegah Lulu, aku dan Abi sontak berbalik.


"Ada apa lagi?" Tanya Abi greget.


"Alena mau kemana?" Tanya Lulu tiba-tiba.


"Alena harus kerja, puas." Tekan Abi.


"Bukannya Alena sudah gak bekerja lagi, Alena sendiri yang bilang sama aku kalau dia mau berhenti bekerja." Jelas Lulu, aku yang mendengarnya hanya menyipitkan mata.


"Terus?" Kata Abi.


"Ya mau ngapain Alena ikut sama kamu?" Lulu terus saja melontarkan beberapa kata dan pertanyaan, menghambat aktifitas orang saja.


"Terserah aku mau ajak alena apa nggak, diakan istriku." Ucap Abi, Lulu terlihat memanas mendengar perkataan Abi.


"Sudahlah lu, nanti juga Abi bakal nyesel ngomong gitu sama kamu." Bisik Tante Becky, walaupun samar tapi aku masih bisa mendengarnya.

__ADS_1


"Ayo sayang."


Aku dan Abi akhirnya bebas dari percekcokan keluarga yang cukup memusingkan itu, selama perjalanan aku hanya terdiam seraya memainkan handphone ku. Sedangkan Abi fokus pada aktivitas menyetir nya, tiba-tiba handphone ku bergetar.


"Siapa ini?" Gumamku.


"Apa yang siapa sayang?" Tanya Abi yang mungkin mendengar gumaman ku.


"Nggak sayang, ini ada yang nelepon aku tapi nomornya gak dikenal."


"Gak usah di angkat takutnya orang jahat yang nelepon kamu, biarin saja."


"Tapi aku rasa ini bukan orang jahat deh." Aku akhirnya mengangkat telepon itu, karena dari tadi tidak berhenti bergetar.


Me 'Hallo, ini siapa ya?'


....'Hallo ini Alena kan?'


Me 'Iya, kalau ini siapa ya?'


....'Ini aku meta'


Me 'Loh meta, aku kira siapa tadi'


Meta 'Kamu free gak hari ini?'


Me 'Aku free kok, ada apa?'


Meta 'Kita ketemu yuk, ada yang perlu aku bahas sama kamu'


Me 'Boleh, dimana?'


Meta 'Kafe born star ya, tahu kan kafe itu?'


Me 'Iya iya aku tahu, aku otw kesana sekarang'


Meta 'Oke! Aku nyusul sekarang'


Me 'Oke!'


Sambungan telepon pun terputus.


"Ada apa sayang?" Tanya Abi.


"Sayang aku berhenti saja disini." Ucapku.


"Loh kenapa?"


"Aku mau ke kafe born star."


"Mau ngapain?"


"Meta ajak aku ketemuan disana, jadi aku minta berhenti saja disini."


"Aku anterin, bahaya kalau kamu pergi sendiri."


"Tapikan arah ke kantor sama ke kafe born star itu berlawanan, kalau kamu anterin aku malah siang dong dan bikin kamu cape harus bolak-balik."


"Gak ada cape buat istriku." Godanya membuatku semakin jatuh cinta kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2