
Dengan perlahan aku membaca hasil tes DNA itu, hasilnya membuatku terkejut.
"Sayang." Lirihku seraya menjatuhkan kertas putih itu dari tanganku.
"Kenapa?" Muka Abi begitu panik sesegera aku merangkulnya, dan semakin membuat Abi panik.
"Selamat sayang, apa yang kita harapkan benar-benar kenyataan." Lirihku, air mata tak dapat lagi ku bendung dan menetes ke atas kemeja yang di gunakan Abi.
Abi menangis seraya memeluk erat tubuhku, nafasnya terdengar berat semua beban yang menjadi pikiran telah usai. Abi tak henti-hentinya menangis, Abi melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata juga ingusnya, ternyata seorang Abi Pangestu yang memiliki image bagus ternyata dia bisa terlihat jelek saat menangis apalagi ditambah dengan ingus yang menetes.
"Aku terlalu senang jadi nangisnya berlebihan." Abi mengalihkan pandangannya.
"Sudah sudah kita hampir telat datang ke kondangan Jia dan Ken."
****
Kondangan
"Sayang aku gak berantakan kan?" Tanya Abi seraya membenahkan pakaiannya.
"Kamu ganteng." Aku memujinya lalu menegulus wajahnya.
"Siapa dulu." Sombongnya seraya menyibak helaian rambut di kepalanya.
"Sudah tua juga." Gerutuku.
"Kedengaran loh." Sindirnya.
Kami berdua turun dari mobil, dan segera masuk ke dalam. Begitu ramai dengan tamu yang datang, beberapa kolega juga hadir di acara pernikahan Jia dan Ken. Dan banyak yang menghapiri kami berdua, suamiku memang sangat menarik perhatian.
"Sayang aku mau ketemu sama Jia dulu ya." Ucapku.
"Iya." Balasnya.
"Eh, itu Bu Alena ya?" Tanya seseorang dari arah pintu masuk.
Aku berbalik melihat ke arah suara yang menyebut namaku, oh tidak, ibu-ibu rempong. Mereka pasti istri para kolega yang bekerja sama dengan perusahaan suamiku, sebisa mungkin aku harus menyapa mereka terlebih dahulu.
"Bu Alena." Salah seorang wanita yang sebaya denganku datang menghampiriku.
"Iya." Akupun membalasnya.
"Senang bisa melihat Bu Alena langsung, kenalin nama saya meta." Ucapnya seraya menjulurkan tangannya, sesegara aku menjabat tangan itu.
"Alena, senang berkenalan dengan anda."
"Pak Presdir nya mana Bu?" Tanyanya mencari keberadaan suamiku.
"Disana." Aku menunjuk suamiku yang sedang asyik mengobrol dengan para koleganya.
__ADS_1
"Oh lagi bareng suami saya rupanya." Katanya.
"Jadi itu suami anda?" Aku melotot melihat suami meta, gak mungkin kan suaminya dia. Secarakan meta jika di lihat, usianya gak beda jauh denganku. Wajah nya masih muda bentuk tubuhnya sangat bagus sampai akupun merasa iri, dan suaminya OMG mungkin benar kata orang cinta itu buta.
"Iya gimana, dia ganteng kan?" Mulutku auto menganga, bisa-bisanya dia nanya sama aku apakah suaminya ganteng.
"Ah itu, ya lumayanlah."
"Eiy jangan bohong, menurut aku sih ya dia tuh jelek mana pula dia sudah tua." Ucapnya menyadari bahwa suaminya setua itu untuknya.
"Kok anda ngomongnya gitu?" Aku penasaran.
"Gimana yah, aku jadi bingung ceritanya. Gimana kalau kita duduk disana." Ujarnya seraya menunjuk kursi yang kosong.
"Boleh." Aku dan Meta berjalan ke arah kursi kosong itu, kami berdua pun duduk dan memulai bercerita.
"Gimana ya, sebenarnya aku malu ceritain nya. Tapi janji ya jangan bilang-bilang sama orang, aku tuh rasanya mau cerita sama kamu doang, mungkin karena kita seumuran kali ya." Katanya panjang lebar, aku hanya mendengarkan saja yang di katakan nya.
"Tapi janji ya jangan bilang-bilang ke orang lain, apalagi ke suami kamu."
"Kenapa?" Aku menyela pembicaraan nya.
Meta malah tersenyum macam kuda. "Hehe..aku takut suami kamu ngadu ke suami aku."
"Tenang saja aku bakalan mengunci mulutku ini." Aku merapatkan bibirku bak menarik resleting.
"Oke oke aku akan percaya sama kamu." Meta mengangguk-anggukan kepalanya, lalu dia mulai menyipitkan matanya bersiap untuk bercerita.
"Meninggalkan maksudnya meninggal gitu?" Aku menyela pembicaraan meta.
"Bukan." Balas meta, tiba-tiba air matanya menetes. Aku yang melihatnya sontak panik, aku menoleh ke kanan kiri, takut orang melihat kami berdua.
"Anda kok nangis?" Aku memberikan selembar tissue kepada meta, meta pun mengambilnya dan sesegara menyeka air matanya.
"Makasih, duh kok aku malah nangis bikin malu saja. Maaf ya pasti kamu kaget lihat aku nangis." Ucapnya, padahal belum setengah jalan dia bercerita tapi air matanya sudah menetes.
"Gak papa kok, jangan di lanjut dulu ceritanya. Timingnya gak tepat, kalau mau cerita hubungi aku saja." Aku memberinya kartu namaku, disitu tertera nomor handphone ku.
"Pasti, aku pasti hubungi kamu." Meta mengambil kartu namaku lalu memasukan nya ke dalam dompetnya.
"Di minum air nya biar tenang." Aku memberikan segelas wine yang sudah di sediakan.
Pov author....
Selagi Alena sibuk dengan meta, Abi dan Kusuma pun sibuk membicarakan soal bisnis baru milik Abi.
"Gimana tertarik?" Ucap Abi kepada Kusuma.
"Sangat menarik saya akan segera berinvestasi kepada perusahaan baru milik bapak." Balas Kusuma seraya mengangkat gelasnya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya tunggu ya." Kata Abi yang juga ikut mengangkat gelasnya.
"Ngomong-ngomong itu yang pakai dress warna hitam bukannya istri pak Abi?" Kusuma menunjuk wanita yang mengenakan dress hitam yang tingginya di atas lutut membuat wanita muda itu terlihat elegan.
"Betul, dia Alena istri saya." Ucap Abi.
"Yang di sebelahnya meta, istri saya." Ucap Kusuma tak ragu.
Abi melihat wanita yang ada di sebelah Alena dengan tatapan takjub, Kusuma dengan perawakan seperti ini bisa-bisanya beristrikan wanita muda seumuran Alena.
"Ah begitu." Abi memalingkan wajahnya.
"Saya bersyukur memiliki istri seperti dia, dia tak pernah malu dengan saya padahal saya sudah tua. Ketimbang jadi suaminya saya sangat cocok jadi ayahnya sih, bukan begitu pak Abi?"
"Sepertinya begitu."
"Ngomong-ngomong kelihatannya istri bapak dengan istri saya sangat cocok." Kata Kusuma seraya tersenyum.
"Iya." Abi mengangguk.
"Padahal istri saya tak bisa berinteraksi dengan orang baru, dia sering di kata-katai oleh orang yang baru mengenalnya. Saya sangat khawatir, terkadang dia murung di kamar." Jelas Kusuma menceritakan apa yang terjadi pada meta, istrinya.
"Istri saya orangnya ramah, setiap orang yang bertemu dengannya seakan mereka sudah mengenal dia lama." Ucap Abi, kini Abi dan Kusuma saling menceritakan tentang istrinya.
"Begitu rupanya, pantas saja istri saya kelihatannya sangat senang dengan istri bapak Abi."
"Iya memang kelihatan sih."
"Meta itu orangnya baik banget, sampai saya merasa bersalah karena telah menikahi nya. Saya sudah mencuri masa gadisnya, makanya sampai sekarang saya tidak menyentuhnya."
Abi menatap Kusuma. "Kenapa?"
"Saya gak tega saja."
"Tapi pak Kusuma mencintai nya kan?"
"Saya sangat sayang dan mencintainya."
"Kalau begitu kenapa bapak gak mau menyentuhnya?"
"Saya takut meta menolaknya." Ucap Kusuma lesu.
"Jangan mengira-ngira, lebih baik di coba toh pak Kusuma masih agak muda." Ucap Abi sedikit menyindir.
Kusuma tertawa mendengar ucapan Abi. "Tapie menurut saya, saya sudah tua."
"Usia bapak berapa?"
"Tahun ini saya berusia 45 tahun, dan asal pak Abi tahu istri saya baru 23 tahun." Balas Kusuma.
__ADS_1
Abi diam sejenak, dia menatap istrinya yang sedang asyik tertawa bareng istrinya Kusuma.
"Kita samperin mereka saja." Kata Abi mengajak Kusuma untuk join dengan istrinya masing-masing.