
"Apa itu?" Tanyaku.
"Nanti aku kasih tahu kalau semuanya sudah terbukti." Ucapnya.
Aku mengernyitkan dahi, menatap aneh suamiku ini. Apa yang sedang dia sembunyikan dariku, kenapa semua orang hanya memberikan clue yang tak jelas. Tapi aku cukup senang, suamiku yang dulu kembali lagi.
"Sayang kamu benci aku ya?" Tanyanya.
"Bagaimana bisa aku membenci suamiku sendiri, walaupun aku kecewa tapi aku harap kamu memakluminya." Jelasku.
"Maafin aku ya sayang."
"Aku maafkan kok, aku kan sayang kamu."
"Tapi sayang, aku harap kita bersikap seperti biasa lagi." Pintanya.
"Biasa gimana?"
"Ya hubungan yang dingin."
"Baiklah baiklah."
"Kita pulang sekarang." Dia menancap gas.
****
Rumah
"Aku ke kamar duluan ya." Kataku, Abi hanya mengangguk.
"Baru pulang Len?" Tanya mama mertua, yang sedang melaksanakan makan malam bersama papa mertua dan Lulu.
"Iya ma." Balasku singkat.
"Kak Abi mana?" Tanya Lulu mencari keberadaan Abi.
"Masih di luar."
"Ayo makan kalau belum makan." Ajak papa mertua.
"Alena baru saja makan, kalian lanjutkan saja makannya, alena mau istirahat saja." Aku pergi ke kamarku, lelah rasanya melihat Lulu yang semakin menempel pada keluargaku.
Aku menjatuhkan bobot badanku ke kasur, menatap langit-langit kamar mengingat perkataan Abi. Setelah terpikirkan aku terperanjat, lalu kini aku mengerti. Rupanya suamiku tak sebodoh yang Lulu kira, cintanya hanya untukku mana mungkin dia akan berpaling.
Cklek...
Aku berlari menghampiri Abi lalu memeluknya, seraya tersenyum. Aku benar-benar bahagia, rasanya aku tak mau melepaskan pelukan ini.
"Sayang." Panggilnya, lalu aku mendongak menatap wajah Abi. Satu kecupan mendarat di dahi, lalu dia mencium bibirku.
"Kangen banget." Ujarnya, lalu menggendong dan menurunkanku di atas ranjang.
"Aku gak tahan kalau lihat kamu, rasanya ingin ngen mati. Aku ingin melakukan hak aku yang sudah lama tidak aku lakukan sama kamu." Ucapnya.
"Sayang." Panggilku pada Abi yang masih sibuk menciumiku.
"Hmm." Balasnya.
"Pintu kamar belum di kunci loh." Ucapku, Abi terperanjat lalu berlari menuju pintu dan sesegera menguncinya.
"Kita lanjutkan ya." Ucapnya seraya tersenyum, akupun mengangguk.
Akhirnya setelah beberapa bulan tak melakukan hubungan suami istri, malam ini aku menikmatinya lagi.
Kami berdua terhanyut dalam permainan yang sangat panas, desiran permainan yang dilakukan Abi sangat brutal. Aku tidak mampu menahannya, tapi sungguh sangat nikmat, aku tak menolak setiap permainan yang dilakukan Abi, sungguh aku merindukannya.
Pagi
__ADS_1
Pakaian masih berserakan di lantai, aku menatap lekat wajah Abi yang masih terlelap dalam tidurnya.
Tok...tok...tok
Aku kaget pagi pagi sudah ada yang mengetuk pintu, pasti Lulu. Biasanya pintu kamar tak di kunci dan Lulu bisa masuk seenaknya ke dalam kamar, sedangkan sekarang pintu terkunci. Aku langsung bangun, mengambil baju kami yang berserakan lalu cepat masuk kamar mandi. Suara ketukan pintu masih terdengar, Lulu memang tak akan menyerah begitu saja. Tapi aku tak menghiraukannya dan melakukan mandi saja, biarkan dia penasaran sendiri.
"Segarnya." Gumamku.
Cklek...
"Ikutan boleh?" Tanya Abi, mengagetkan saja.
"Ngagetin aja."
Kami pun melakukan mandi bareng, setelah sekian lama tak seperti ini akhirnya hari ini semuanya kembali seperti dulu.
****
Aku sudah rapi, walaupun weekend aku tetap pergi ke kantor karena sudah terbiasa.
"Kamu ke kantor lagi?" Tanya Abi.
"Ya gimana lagi, tiap hari minggu kamu kan selalu pergi sama Lulu." Keluhku.
"Tapi sayang gak harus ke kantor juga kali." Ucapnya.
"Ya terus aku harus kemana lagi?"
"Kamu mau ikut?"
"Nggak, ngapain ikut sama kamu yang ada aku mati karena cemburu."
"Tapi aku maunya kamu ikut."
"Cukup!"
"Sayang, please!"
"Aku juga risih sayang."
"Bohong, risih tapi mau aja."
"Serius sayang, aku tuh mau perginya sama kamu."
Mulai deh, manjanya kumat padahal masih pagi. Tapi lihat wajahnya yang memelas membuatku luluh, kenapa suamiku ini imut sekali.
"Oke aku ikut, tapi awas aja kalau kamu bikin aku cemburu keras. Langsung aja aku minta cerai." Ancamku biar tahu rasa.
"Jangan dong sayang." Pintanya seraya memelukku dari belakang.
Tok...tok...tok
"Masuk." Ucap Abi, spontan melepaskan pelukannya.
"Kak ayo kita berangkat." Ucap Lulu.
"Hari ini Alena mau ikut, gak papakan lu?" Ucap Abi.
Lulu diam sejenak mungkin dia sedang memikirkan sesuatu.
"Boleh." Ucap Lulu. "Lulu tunggu di bawah ya."
"Iya." Balas Abi.
"Mau kemana sih?" Tanyaku.
"Biasanya sih cuma nyari angin, tapi sekarang katanya mau beli perlengkapan bayi." Jelasnya, hatiku rasanya teriris.
__ADS_1
"Ah begitu."
"Hei sayang jangan murung gitu." Kata Abi, yang mengetahui kemurunganku.
"Nggak kok." Aku berusaha menyangkal.
"Mau menyangkal pun percuma sayang, orang kelihatan."
"Masa sih?"
"Serius."
"Ayo berangkat, si Lulu kasihan nunggu kita lama."
"Ayo." Abi merangkulku.
****
Sejak kapan aku duduk di belakang begini saat satu mobil dengan suamiku? Bukannya aku istri sahnya, kok malah Lulu yang ada di sampingnya. Tenang Alena ini hanya sementara, ingat kata Abi dia punya rencana di balik ini semua.
"Kak bisa berhenti di depan gak?" Tanya Lulu seraya menunjuk tempat percetakan.
"Mau ngapain?" Abi berbalik nanya.
"Aku mau lihat lihat model kartu undangan dulu, boleh?"
"Untuk apa?" Aku menyela pembicaraan Lulu.
"Aku yakin anak ini anak kakak, jadi aku sudah punya rencana untuk menikah dengan kakak semuanya harus sempurna dan mewah." Jelasnya begitu percaya diri.
"Begitu ya." Timpal Abi.
"Gimana bolehkan kita mampir dulu?"
"Mampir aja dulu aku gak papa kok." Kataku.
"Baiklah kita mampir." Ucap Abi.
Kami bertiga pun mampir ke tempat percetakan undangan, aku duduk di depan menunggu Abi dan Lulu.
"Kak yang ini bagus gak?" Tanya Lulu, suaranya cukup kedengaran olehku.
"Terserah kamu saja, aku mau keluar sebentar ya kamu pilih saja mana yang menurut kamu bagus." Ucap Abi.
"Baik kak."
Abi duduk di sebelahku, dia menjatuhkan kepalanya pada pundakku. Menarik nafas dalam-dalam, seakan semua yang dia kerjakan begitu berat.
"Lelah pura-pura care sama wanita yang sama sekali nggak aku cintai." Ujarnya.
"Hei." Aku berbalik menatap wajahnya yang putus asa.
"Aku lelah sayang." Rengeknya.
"Inikan rencana yang kamu buat sampai kamu gak ngasih tahu aku, sampai aku berpikiran untuk minta pisah dari kamu." Tuturku.
"Jangan ninggalin aku, aku cinta sama kamu." Imbuhnya.
"Asal kamu gak nyembunyiin sesuatu dari aku, aku gak akan pernah ninggalin kamu."
"Aku janji aku gak akan menyembunyikan sesuatu lagi dari kamu, mulai sekarang aku akan jujur."
"Baiklah, janji ya untuk tetap jujur." Aku mengacungkan jari kelingkingku, dia pun membalasnya.
"Aku janji."
"Kalian lagi ngapain?" Tanya Lulu.
__ADS_1
Aku dan Abi terperanjat mendengar pertanyaan Lulu, aku dan Abi pun saling menatap.
"Jawab."