My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 25


__ADS_3

"Ada apa?" Tanyanya seraya menatap manik mataku.


"Kamu gak ada rasakan sama Ken?"


"Maksud bapak, saya suka sama ken?"


"Iya, kamu gak ada hubungan itu kan?"


Alena menepis tanganku. "Jujur ya pak, saya gak ada persaan sama sekali sama ken. Dia orang yang selalu ada di saat bapak pergi menemui wanita itu, ingat waktu selesai resepsi pernikahan kita? Kamu pergi ninggalin saya di malam itu demi wanita yang kamu bilang kamu sangat benci, terus saat kamu seharian gak pulang aku cari cari kamu aku tanya sama ken dia juga gak tahu. Dia datang lagi padaku dan memberi tahu kalau suamiku pergi menemui wanita lain, disitu ken selalu ada tapi aku menganggap ken sebagai teman." Jelas alena, ku lihat air matanya tumpah dan dia memasuki kamar mandi membanting keras pintu kamar mandi.


Aku terpatung di depan pintu kamar mandi, apa selama ini aku mengabaikan alena sampai sampai alena marah padaku. Jujur aku sudah memiliki rasa padanya, karena takut ketahuan oleh alena akhirnya aku selalu menemui lulu. Tapi alena marah karena aku sering menemui lulu, apa alena juga punya perasaan buatku.


****


Semalaman aku dan alena hanya berdiam diaman saja, seperti biasa aku tidur di bawah dan alena di atas ranjang. Dalam sanubariku, aku menginginkan hak itu dari alena tapi aku sadar alena mungkin akan menolak apalagi pernikahan ini hanya pernikahan atas pekerjaan saja. Tapi sebagai lelaki satu kamar dengan lawan jenis mampu mengundang hasrat kelelakianku, aku harus menahan setidaknya 7 bulan lagi.


Mentari masuk melalui celah jendela yang tak tertutup tirai, aku bangun dan membuka tirai. Alena berbalik membelakangi jendela, mungkin dia masih ingin tiduran.


"Alena." Panggilku seraya mendekatinya, namun dia menggeser badannya menjauh dariku.


"Alena, maafkan saya." Aku menunduk payah, baru kali ini aku meminta maaf kepada wanita setulus ini.


"Saya benar benar minta maaf alena."


Alena berbalik dan menatapku, matanya begitu sembab apa dia menangis semalaman.


"Apa minta maafnya tulus?" Cetusnya seraya menatap lekat mataku.


"Saya benar benar minta maaf, mungkin selama ini saya selalu mengabaikan kamu. Tapi saya ada alasan kenapa saya selalu mengabaikan kamu." Apa akhirnya aku akan jujur tentang perasaanku pada alena.


"Apa alasannya?"


"Saya takut kamu mengetahui perasaan saya yang sebenarnya kepada kamu."


"Memangnya persaan seperti apa? Apa bapak takut membuat saya sakit hati karena gak suka sama saya, gitu?" Ujarnya.


"Bukan bukan, saya takut kalau saya gak bisa mengendalikan diri saya jika terus dekat kamu, karena saya mencintai kamu." Akhirnya aku mengungkapkan persaanku pada alena.


"Apa?" Alena terkejut setelah mendengar pernyataanku, apa alena akan membenciku.


"Kamu pasti membenci saya." Aku berdiri hendak pergi namun sebuah tangan menarik tanganku pelan, aku berbalik.


"Apa saya gak salah dengar?" Ucapnya, aku membalas dengan menggelengkan kepala.


Tiba tiba dia menangis, aku kagetlah dan refleks memeluknya.


"Kamu kok nangis?" Aku heran kok tiba tiba alena nangis.

__ADS_1


"Hiks..hiks..bapak benar mencintai saya?" Tanyanya lagi.


"Saya benar benar mencintai kamu alena, saya sangat tulus mencintai kamu." Kataku seraya memegang dagunya dengan kedua telapak tanganku, dia nangis makin menjadi.


"Hiks..hiks...saya juga cinta sama bapak, sangat sangat cinta." Ucapnya yang kurang jelas karena di iringi nangis.


Aku memeluk tubuh alena begitu erat, sesekali melepas dan mencium bibirnya yang imut itu. Kami berdua saling tatap dan sesekali tersenyum, bagaikan kekasih yang sedang di mabuk cinta.


"Saya minta kamu jangan panggil saya bapak, emangnya saya setua itu." Ucapku yang tak lepas menatapnya.


Alena malah tersenyum dan menepuk pelan dadaku. "Iya, sayang."


Aku menatapnya penuh cinta, panggilannya itu yang aku tunggu tunggu.


"Sayang."


"Dan satu lagi." Imbuhnya seraya mengacungkan jari telunjuknya.


"Apa itu?" Aku menggigit telunjuknya yang berdiri tepat di depan mukaku, bukannya marah dia malah tersenyum.


"Kita gak boleh ada kata saya anda, oke!" Tegasnya.


"Siap sayangku."


Hari ini sangat bersejarah bagiku dan alena, bibit cinta yang selama 5 bulan aku pendam akhirnya terucapkan sudah. Kami pun saling mencintai, kami begitu bucin kalau kata anak muda jaman sekarang.


"Cie sudah gak malu malu nih manggil sayang, sekarang." Yang ku dengar mama menggoda alena.


"Ngapain malu sih, toh kalian sudah lama menikah." Sambung papa.


"Sayang." Panggilku pada alena, Alena tersenyum padaku.


"Ayo duduk sayang, kita sarapan." Ucap alena seraya mengoles slai pada roti.


"Makasih sayang." Aku memakan roti yang di berikan alena.


Setelah 5 bulan pernikahan kami, papa yang mulanya tidak menyukai alena perlahan papa pun bisa menerima alena dan aku pun mulai menerima kembali papa di rumah ini. Setelah apa yang diperbuatnya dahulu, menghianati perusahaan yang sudah di bangun oleh mendiang kakek.


"Bi, papa mau bicara sama kamu." Ucap papa.


"Bicara apa sih pa, ini kan masih sarapan nanti aja bicara nya kalau sudah selesai sarapan." Timpal mama.


"Iya ma." Papa membalas pasrah, papa memang tipikal suami yang menurut pada isrti.


Acara makan pun selesai, semua orang berhamburan. Mama pergi ke salon miliknya, alena dia akan berangkat ke kantor bersamaku.


"Bi sini bicara dulu sama papa."

__ADS_1


"Sayang kamu duluan ya ke mobil, nanti aku nyusul." Ucapku pada alena.


"Iya, aku tunggu di mobil ya." Alena pergi menuju mobil.


"Ada apa pa?"


"Soal lulu."


"Apalagi sih pa? Abi sudah muak dengan kelakuan lulu, dia selalu gangguin abi terus padahal dia tahu kalau abi sudah punya istri." Aku kesal kala mendengar nama lulu, gara gara nama itu istriku marah tapi ada bagusnya juga sih karena nama itu juga sudah membuat aku berani mengungkapkan perasaan ku pada alena.


"Apa gak sebaiknya kamu carikan lelaki untuk lulu?" Aku kira papa akan terus mendesaku untuk menjadikan lulu istri keduaku.


"Itu lebih baik, nanti abi akan mencari lelaki yang pantas untuk Lulu." Ucapku.


"Iya, papa gak mau lulu jadi penggangggu dalam rumah tangga kamu dan alena." Tegas papa.


"Iya pa."


"Ya sudah, papa berangkat kerja dulu ya." Ucap papa seraya melenggang dari hadapanku.


Aku menyusul alena yang sudah menunggu di mobil.


"Maaf sayang pasti kamu nunggu lama." Kataku sembari menyalakan mesin mobil.


"Gak kok, tadi kamu bicara apa sama papa kayak serius gitu?"


"Papa nyuruh aku buat nyariin pasangan buat lulu, biar gak terus mengganggu aku."


"Aku setuju banget sama ide papa."


"Emangnya aku gak setuju, aku setuju banget sayang."


"Kirain kamu gak setuju, takut gak bisa sama sama lulu terus."


"Aku kan ada kamu sayang, yang lebih cantik dari lulu." Godaku biar alena makin cinta sama aku.


"Iya deh."


Memang panjang umur banget lulu, kami sedang membahas dia eh sekarang dia ada menelponku.


"Bentar sayang lulu nelepon aku."


"Iya, angkat aja dulu."


Me 'Hallo lu ada apa?'


Lulu '....

__ADS_1


Me 'Apa?'


__ADS_2